Pages

Jumat, 25 April 2014

Psikologi Iblis Sebagai Pencetus Pertama Pemikiran Liberal

Iblis nama makhluk yang sangat taat kepada Allah, hari-harinya dihabiskan hanya untuk beribadah kepada Allah. Iblis sama seperti malaikat yang kerjanya hanya melakukan ketaan kepada Allah.

Namun semua itu berubah pada sebuah momen dan hal sederhana, iblis yang dikenal taat dan rajin beribadah kepada Allah pun menjadi makhluk yang dilaknat oleh Allah.

Bermula dari Allah menciptakan makhluk bernama Adam, lalu setelah itu Allah menyuruh semua penduduk surga pada saat itu untuk sujud kepada Adam, tak terkecuali iblis.
Semuanyapun mematuhi perintah Allah dan bersujud kepada Adam, namun tidak dengan iblis, ia menolak untuk bersujud kepada Adam. (QS. Al-A'raf:11).

Alasan iblis untuk tidak sujud kepada Adam sangat sederhana, iblis merasa lebih baik dari adam, ia tercipta dari api sedangkan adam dari tanah. (QS. Al-A'raf:12).

Sejak itu, karena penolakan iblis untuk sujud kepada Adam, iblis yang dulunya merupakan makhluk yg taat akhirnya menjadi makhluk yg paling durhaka, dilaknat Allah, dan terhina disisi Allah. (QS. Al-A'raaf:18).

Penolakan iblis untuk sujud kepada adam dilandasi pada perasaan bahwa ia tidak pantas dan tidak patut untuk sujud kepada adam. Ia yang jauh lebih tua (lebih dulu diciptakan) dari adam, sudah lama taat dan beribadah kepada Allah, terbuat dari yang lebih mulia dari adam (menurut prasangkanya), lalu tiba-tiba diperintahkan sujud kepada Adam yang jauh lebih muda dari dia (bahkan baru diciptakan), belum melakukan ketaatan dan ibadah sedikitpun kepada Allah, dan berasal dari sesuatu yg lebih rendah/hina darinya.

Secara psikologis dan logika iblis, apa yang dilakukannya bisa dipahami dan dimaklumi. Tentu sangat berat hormat (terlebih sujud) kepada orang dari semua aspek jauh lebih rendah dan kurang dari dia.

Kita ambil sebuah contoh sederhana, seorang pria yg berumur 50 tahun, berasal dari keluarga super kaya dan terpandang, memiliki jabatan penting di pemerintahan, telah melakukan banyak prestasi dan kontribusi buat bangsa, tiba-tiba diperintahkan oleh bapak presiden untuk hormat pada anak kelas 1 SD yang berasal dari keluarga miskin, belum memberikan kontribusi apa-apa pada bangsa. Kira-kira apa yang ada dipikiran bapak tersebut? Kemudian apa yang ada dipikiran kita?
Sangat sulit rasanya buat bapak tersebut melakukan perintah bapak presiden tersebut.

Namun inilah keimanan dan ketaatan, dia tak butuh logika, dia juga tidak memakai standarisasi akal dan pandangan orang banyak. Ketika ada perintah dari Allah, walaupun itu berbenturan dengan logika dan kondisi psikologis kita, maka ia wajib diikuti. Jika ada perintah Allah, walaupun menurut standar orang banyak itu tidak baik, maka ia tetap wajib untuk diikuti tanpa harus mengikuti pandangan/standarisasi orang banyak.

Dalam kasus iblis diatas, iblis menggunakan logika dan standar diluar standar dan logika keimanan kepada Allah, ia menggunakan standar dan logika sendiri, sehingga menyalahi perintah Allah. Inilah awal mula munculnya pemikiran liberal, pemikiran yang beranjak dari logika dan standar sendiri, bukan logika dan standar keimanan, bukan menggunakan standar syariat yang telah ditentukan Allah.

Maka sebagai seorang muslim, ketika ada syariat/perintah dari Allah, maka mutlak harus kita ikuti, walau terasa berat, logika kita belum mampu memahaminya, atau tidak sesuai dg standar masyarakat banyak. Jangan berpikiran liberal seperti iblis yang lebih mendulukan logika, dan meletakan standar diluar standar yang telah ditetapkan Allah.
Wallahu A'lam.


*Ahmad Sholahudin. Jakarta, 18 september 2013. Pukul 19:58.

0 komentar:

Posting Komentar