Pages

Jumat, 25 April 2014

Pelajaran Dibalik Kisah Penjara Nabi Yusuf A.S.

"Pelajaran Dibalik Kisah Penjara Nabi Yusuf A.S."

Allah SWT secara lansung mengklaim bahwa kisah Nabi yusuf merupakan "Ahsanul Qasas" (kisah paling baik), cerita Nabi Yusuf As juga menarik karena diceritakan full dalam satu surat, dan bercerita mengalir dari awal (sejak Nabi Yusuf masa kecil) sampai akhir (Nabi Yusuf dipuncak kekuasaan). Berbeda dengan kisah Nabi-Nabi yang lain yang bertebaran didalam beberapa surah, dan ceritanya tidak mengalir seperti kisah Nabi Yusuf As.

Membaca surah yusuf seolah-olah kita membaca sebuah novel (bukan bermaksud menyamakan Al-Quran dengan novel, karen terlalu suci Al-Quran disamakan dengan novel), terkadang membacanya membuat kita terbawa emosi, terkadang membuat kita sedih dan tersentuh, dan ada juga bagian kisahnya yang membuat kita tersenyum-senyum.

Kisah Nabi Yusuf As yang terdapat dalam Surah Yusuf bukan hanya sekedar cerita, tapi mengandung banyak hikmah/pelajaran yang tak ternilai, bahkan setiap episode ceritanya menyampaikan banyak pesan/pelajaran bagi pembacanya.

1. Takut/khawatir tergelincir dalam maksiat.

Nabi Yusuf sangat takut dan khawatir dirinya terjatuh dalam lembah maksiat, dan perasaan ini merupakan perasaan yang wajib dimiliki oleh seorang muslim, terlebih lagi seorang kader dakwah.

Ketakutan Nabi Yusuf terhadap maksiat melebihi ketakutannya terhadap hal lainnya, bahkan beliau memilih menderita didunia ( dipenjara) daripada harus terjatuh dalam maksiat. Inilah yang digambarkan dalam surat Yufus ayat 33:

"Yusuf berkata: 'Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh'. (Yusuf: 33)

2. Mengakui kelemahan diri dan berdoa agar terhindar dari maksiat.

Surat Yusuf ayat 33 juga menggambarkan bagaimana Nabi Yusuf As mengakui dirinya sebagai hamba yang lemah, dan kekuatan hanya milik Allah SWT, bahkan termasuk ketidakmampuan diri untuk menghindar dari maksiat tanpa pertolongan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Inilah yang terlihat dalam bagian dari doa Nabi Yusuf As ".... Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh'. (Yusuf: 33)"

Dan ayat ini juga mengajarkan kita untuk berdoa semoga Allah menghindarkan kita dari maksiat, karena Allah lah yang berkuasa atas segala hal, termasuk berkuasa atas hati hamba-hambanya. Tidak boleh muncul perasaan bahwa kita mampu untuk terlepas dari maksiat dengan kekuatan diri kita sendiri, karena setiap kebaikan yang ada pada seorang hamba adalah atas berkat rahmat Allah Swt.


Sehingga itulah kenapa kita diperintah untuk berdoa seperti dalam Al-Quran "“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imron: 8)

Rasulullah juga sering melantunkan do’a:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
(Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,
يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.“ (HR Tirmidzi).

Jika seorang manusia pilihan seperti Yusuf As masih menganggap dirinya lemah, berdoa supaya terhindar dari maksiat, tentu kita sebagai manusia yang tidak ada apa-apanya lebih pantas untuk itu.

semoga Allah beri kekuatan dan rahmat kepada kita untuk terhindar dari maksiat dan menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

3. Tetap mempertahankan kebenaran/idealisme, walau dengan resiko apapun.

Nabi Yusuf As lebih memilih kehidupan penjara daripada harus memenuhi ajakan istri pembesar Mesir untuk bermaksiat, ketakutannya kepada Allah mengalahkan syahwat yang hampir menguasainya.

Lihatlah gambaran betapa dahsyatnya godaan yang diterima Yusuf As, "Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: 'Marilah mendekat kepadaku... (Yusuf:23)"

Dalam kondisi hanya berdua, pintu rumah tertutup, dan di dekatnya hanya ada Dia dan perempuan yang sangat cantik dan terhormat, terlebih perempuan cantik tersebut yang mengajaknya bermaksiat, tapi Nabi Yusuf tetap dengan pendirian menolak ajakan maksiat tersebut dan berkata "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. (Yusuf:23)"

Tidak cukup sampai disitu, ketika Yusuf As menolak ajakan istri pembesar mesir untuk bermaksiat, saat Yusuf lari untuk menghindar, perempuan tersebut mengejar Yusuf As sampai menarik baju Yusuf As sampai koyak (Yusuf:25).

Pada akhirnya istri pembesar mesar mengeluarkan ancaman "Jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjara, dan dia akan menjadi orang yang hina. (Yusuf: 32)".

Namun Yusuf membuat pilihan, ".... Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.... (Yusuf:33).

Dan akhirnya akibat tetap mempertahankan kebenaran dan idealisme, keimanan dan rasa takut kepada Allah, Yusuf As dijebloskan kepenjara walau Beliau tidak melakukan kesalahan apapun.

Apapun resikonya, kebenaran dan rasa takut kepada Allah harus ada pada diri seorang muslim, walaupun yang dihadapinya orang-orang yang punya kedudukan yang tinggi.

Ada banyak godaan ketika kita menyandang gelar aktivis dakwah, semoga setiap godaan yang menghampiri kita mampu kita sikapi sebagaimana yusuf menyikapi godaan yang menimpa dirinya.

4. Berakhlak yang baik dan berinteraksi dengan siapapun tanpa menutup diri.

Ada yang menarik saat Nabi Yusuf dalam penjara, yaitu saat dua orang pemuda yang masuk penjara bersama beliau bertanya kepada Nabi Yusuf mengenai penakwilan mimpi. Ini dikisahkan dalam surah Yusuf:

"Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya: 'Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur'. Dan yang lainnya berkata: 'Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung'. Berikanlah kepada kami ta´birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang yang berbuat baik'. (Yusuf: 36)".

Nabi Yusuf As menjadi tempat bertanya dan mencurahkan perasaan dua orang pemuda yang masuk penjara bersama beliau, hal ini menggambarkan bahwa Nabi Yusuf As merupakan sosok yang ekslusif, mudah bergaul, enak diajak bicara, dan tentunya karena beliau orang yang dianggap baik oleh pemuda tersebut.

Sikap inilah yang menjadi alasan kenapa dua orang pemuda tersebut menjadikan Nabi Yusuf As sebagai tempai bertanya dan mencurahkan perasaan. Jikalah Nabi Yusuf orangnya tertutup, sulit diajak bicara, dan tidak menunjukkan akhlak yang baik, pastinya dua orang pemuda ini tidak akan memilih Yusuf As sebagai tempat bertanya.

Ini juga tergambar dalam ungkapan dua orang pemuda tersebut, "sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang yang berbuat baik'. (Yusuf: 36)".

Sikap ini adalah sebuah sikap yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang baik, terutama oleh orang-orang yang menyandang gelar aktivis dakwah. Dimanapun berada dan dihadapan siapa dan golongan apapun, harus selalu menunjukkan sikap terbuka dan berakhlak yang baik.

Lihatlah Yusuf As, walaupun dalam penjara dan bersama Narapidana, yang secara logika merupakan tempat orang yang mempunyai imej negatif, Nabi Yusuf tetap bersikap seperti yang disebutkan diatas.

Pelajaran ke-5:
"Berdakwah dimanapun dan dalam kondisi apapun" (39-40)

Saat di penjara, bukan berarti Yusuf As hanya diam saja dan meninggalkan misi dakwahnya, Beliau tetap menjalankan misi besar nan mulia ini.

Yusuf As memulai dakwahnya kepada dua orang pemuda yang masuk penjara bersamanya, dan setelah menakwilkan mimpi kedua pemuda tersebut, beliau menerangkan kondisi diri beliau, " Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka ingkar kepada hari akhirat. (Yusuf:37)

kemudian beliau melanjutkan "Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya´qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah..... (Yusuf:38)

Dan ending yang ingin disampaikn Yusuf adalah ajakan untuk menyembah Allah, ".... Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Yusuf:40)

Begitulah Yusuf As, penjara tidak menjadi alasan bagi beliau untuk meninggalkan dakwah. Maka ini pelajaran bagi kita, untuk tidak menjadikan tempat atau kondisi sulit lainnya sebagai pembenar meninggalkan tugas dakwah.

Sangat indah sebuah kaidah yang sering kita dengar, "Nahnu Dhuat qobla kulli syai'in" (kita adalah da'I sebelum kita menjadi apapun). Maka apapun profesi kita, dimanapun kita berada, apapun status sosial, kita adala da'I yang selalu menyeru kebaikan.

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali-Imran:104).

Dan lihatlah bagai reaksi Allah terhadap orang yang memilih mendahului dunia dibandingkan panggilan Allah, Rasul, dan jihad dijalan Allah.
"Katakanlah: 'jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya'. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik" (At-Taubah:24)

"Wallahu a'lam"


Pelajaran ke-6:
"Memanfaatkan setiap potensi untuk dakwah"

Sungguh, terdapat pelajaran yang sangat berharga dari kisah Nabi Yusuf As. Saat beliau mendakwahi dua orang pemuda yang ada didalam penjara (Yusuf 37-40), didahului dengan Beliau menakwil mimpi kedua pemuda tersebut (Yusuf 36-37).

Nabi Yusuf As tidak menyia-nyiakan peluang untuk berdakwah, ketika Beliau melihat ada peluang, maka Beliau lansung mengambil peluang tersebut.

Disini terlihat bahwa Yusuf As memanfaatkan potensi yang dimiliki nya untuk berdakwah, dan ini harus menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita semua.

Lihatlah bagaimana Yusuf As memulai menyampaikan dakwahnya, "Yusuf berkata: 'Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. (Yusuf:37)

Kepandaian/potensi Yusuf As yang dikarunia Allah bisa menakwil mimpi, oleh Yusuf digunakan untuk mengajak orang kejalan Allah. Beliau menjadikan potensinya ini sebagai pintu masuk untuk mengajak orang kejalan Allah.

Maka, apapun potensi yang kita miliki, harus kita gunakan sebesar-besarnya untuk berdakwah dijalan Allah. Yang punya potensi di sosmed, gunakan untuk dakwah. Yang punya potensi menulis, puisi/syair, public speaking, seni, publik figur, akademisi, atau apapun potensinya, gunakan semua itu untuk dakwah.

Potensi ini juga termasuk didalamnya profesi, kedudukan/jabatan, kekayaan, dan lainnya, yang semua itu dimanfaat untuk ladang dakwah.

"Wallahu a'lam"


Pelajaran ke-7
"Tetap Optimis"

Berada didalam penjara tidak membuat Yusuf As hilang harapan bahwa suatu saat ia akan menghirup udara bebas, walaupun ia dijebloskan oleh pembesar negeri.

"Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: 'Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu'..... (Yusuf:42).

Setelah selesai menakwilkan mimpi, Yusuf berpesan kepada seorang yang diketahuinya akan keluar dari penjara agar memberi tahu raja tentang kondisi beliau yang sebenarnya. Ini merupakan bentuk dari sikap tidak menyerah, tidak putus asa, dan optimisme bahwa pintu keluar masih terbuka, Harapan itu masih ada.

Jika tidak karena harapan, tidak mungkin petani akan menanam padi. Jika bukan karena harapan, tidak mungkin ibu akan menyusui anaknya. dan juga jika tidak karena harapan, tidak mungkin Yusuf As menitipkan pesan kepada temannya.

Optimis adalah perpaduan antara usaha dan harapan, dan itulah yang ditunjukkan oleh Yusuf As.

Sedangkan lawan dari harapan adalah putus asa, dan putus asa merupakan sifat yang sangat buruk, sebagaimana Al-Quran menyebutkan, yg berputus asa dari rahmat Allah hanya org2 kafir (Yusuf:87) dan orang2 yang sesat (Al-Hijr:56).

"Wallahu a'lam"


Pelajaran ke-8
"Tidak tunduk dan mengambil muka dihadapan raja, tetap menjaga izzah/kehormatan

Yusuf As dengan izin Allah akhirnya mampu menakwilkan mimpi sang raja, sang raja pun merasa kagum kepada Yusuf As sehingga sang raja meminta yusuf dibawa kehadapan beliau, "Raja berkata: 'Bawalah dia kepadaku'. Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: 'Kembalilah kepada tuanmu .... (Yusuf:50).

Secara psikologis, jika kita berada diposisi Yusuf As, yang berada dipenjara dan sangat ingin keluar dari penjara, ketika ada permintaan untuk menghadap raja karena kekaguman dan rasa terimakasih raja kepada kita, tentu ini merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu dan kesempatan emas yang harus segera dipenuhi, kita akan segera memenuhi panggilan raja tersebut.

Tapi ternyata tidak dengan Yusuf As, beliau menjaga izzahnya, beliau tidak serta merta memenuhi panggilan raja. Walaupun yang memanggil beliau seorang raja, tidak lantas beliau menurut begitu saja, tidak ada perasaan gentar menolak panggilan tersebut. Lihatlah bagaimana jawaban Yusuf As atas panggilan raja melalui utusannya, ""Raja berkata: 'Bawalah dia kepadaku'. Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: 'Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka'. (Yusuf:50)".

Keberhasilan Yusuf As menakwilkan mimpi sang raja (bi iznillah) tidak lantas membuat Yusuf As mengambil muka dihadapan raja. ketika utusan raja datang ingin menjemput , Yusuf As dengan teguh dan berani mengatakan "kembalilah kepada tuanmu". Yusuf As ingin raja memenuhi keinginannya terlebih dahulu, baru setelah itu Yusuf As mau memenuhi panggilan raja.

"Wallahu a'lam".

Bersambung, Insya Allah. semuanya ada 14 Pelajaran Yang Bisa Kita Petik. Tapi saya belum sempat untuk menulis semuanya. semoga Allah permudah

0 komentar:

Posting Komentar