Pages

Jumat, 14 Maret 2014

SKALA PRIORITAS DALAM BERAGAMA



Kita sering kali sangat memperhatikan skala prioritas dalam aktivitas keseharian kita, mana yg penting mendesak, penting tidak mendesak, dan mana yg tidak penting. Tapi sayang terkadang kita gagal dalam menentukan skala prioritas dalam beragama.

Skala prioritas dalam agama tak kalah pentingnya dg skala prioritas yg kita menej untuk aktivitas dunia/aktivitas keseharian kita, karena ktk gagal memenej skala prioritas dalam aktivitas keseharian, maka konsekuensinya hanya akan berdampak pada kehidupan dunia kita saja. tapi saat kita gagal menentukan skala prioritas dalam beragama, maka kehidupan dunia dan akhirat resikonya.

Banyak orang yang begitu dermawan dalam berinfaq/sedekah, tapi begitu lalai dalam menjaga sholat (jarang sholat). ini adalah salah contoh kesalahan dalam menentukan skala prioritas, padahal sholat jelas harus lebih didahulukan dan diutamakan.

contoh lain kegagalan dalam menentukan skala prioritas dalam beragama adalah masalah hijab/jilbab, dan ini sangat banyak terjadi, terutama kepada kaum hawa. Banyak para wanita yang sangat perhatian/menjaga ibadah seperti puasa sunnah senen kamis, dhuha, tahajud, baca Al-Qur'an, dan ibadah sunnah lainnya, tapi sangat disayangkan pada saat yg bersamaan mereka abai dalam berjilbab. Padahal jilbab hukumnya wajib, jika jilbab ditinggalkan maka berdosa. Sedangkan ibadah yg dikerjakannya tadi bukanlah wajib (walaupun ibadahnya sangat utama), dan meninggalkannya tidaklah berdosa. Seharusnya yg menjadi skala prioritas pertama yg harua diperhatikan adalah masalah jilbab, karena wajib harua lebih didahulukan dari sunnah.

Menikah adalah ibadah dan sunnah Rasul, tapi menuntut ilmu juga kewajiban yg utama, dalam satu kondisi menuntut ilmu harus lebih diutamakan daripada menikah, tapi dalam suatu kondisi tertentu bisa jadi menikah jauh lebih utama daripada menuntut ilmu, bahkan menikah bisa menjadi wajib. Syaikh sayyid sabiq dalam buku fiqih sunnahnya bahkan mengatan, dalam satu keadaan menikah jauh lebih utama untuk didahulukan daripada ibadah haji. Karenanya dalam hal ini kita juga harus pandai-pandai menentukan skala prioritas ini.

Yang juga banyak kita lihat, begitu banyak orang yang sangat rajin melakukan ibadah umroh, bahkan sampai dilakukan berkali-kali, padahal lingkungannya masih banyak orang-orang yang kurang mampu yang sangat membutuhkan uluran tangannya. Dalam hal ini, bermurah hati dengan membantu orang-orang dilingkungannya jauh lebih utama dari ibadah umroh yang dilakukannya berkali-kali.

Ada banyak contoh kesalahan dalam menentukan skala prioritas, tentunya ketepatan kita dalam menentukan skala prioritas sangat terkait dg kepahaman/ilmu kita terkait itu semua. Semoga Allah memberikan kita kepahaman dalam beragama.

*Ahmad Sholahudin, jakarta 14 maret 2014, pukul 13:29.

0 komentar:

Posting Komentar