Pages

Selasa, 25 Februari 2014

AKHWAT POSTING FOTO DI SOSMED

Akhwat pajang foto di sosmed.

Bismillahirrahmaanirrahiim,
Bbrpa hari yg lalu saya berniat nulis ttg akhwat yg memajang fotonya di sosmed, terlebih yg suka narsis. Malam ini mencoba menulis sigkat, mungkin tdk tersusun dg baik, tapi semoga bisa di pahami.

Tiga, empat, dan bbrpa tahun yg lalu rasanya sangat sulit menemukan foto akhwat tarbiyah muncul d sosmed, sekalipun dlm btk foto profil. Saat itu memajang foto akhwat masih tabu, juga akhwat merasa malu fotonya bebas dilihat banyak orang.

Lalu bagaimana sebenarnya hukum akhwat memposting foto d sosmed?

mungkin saya tdk akan membahas hukum menurut fiqih, krn keterbatasan waktu mencari referensi  juga krn kekurangan ilmu saya.

Namun ada pertanyaan sederhana utk para akhwat yg perlu dijawab; kira2 akhwat kalau ketemu (atau lagi ngumpul) ikhwah, rela gak kalau dirinya di lihat secara bebas oleh ikhwan? Mau gak wajahnya dipelototin terus sama ikhwan? Risih gak kalau ikhwan melihat setiap detil tubuh/wajah anda tanpa berkedip dalam waktu yg lama? Kalau ketemu kondisi inj, gimana perasaan anda?

Lalu apa bedanya dg akhwat yg memajang fotonya di sosmed?
Bukankah ikhwan bisa memandang bebas foto yg diposting, mempelototin wajah anda tanpa ada yg tahu, mengamati setiap detil tubuh/wajah anda dengab bebas? Bahkan ada sarana "zoom" untuk melihat lebih jelas dan detil (sampai sampai ke jerawat anda bisa terlihat, he). Dan yg lebih parah, si ikhwan bisa memilih tombol "save" saat membuka foto anda, shg jadilah anda milik nya utk waktu yg lama, dan ia bebas kapan saja mau melihat anda. Na'udzubillah.

Lalu apakah tidak ada perasaan malu ketika itu terjadi?
Hmm, kira2 malu yg anda miliki malu sejati atau malu pencitraan? Risih yg hakiki atau hanya jaga image sbg akhwat?
Kalau memang malu dan risih saat dipandang ikhwan, lalu apa bedanya dipandang di kondisi nyata dg dipandang via foto? Toh wajah anda yg ada di foto sama dg wajah sebenarnya. atau jangan2 .....
Hmm, saya juga gak tahu .....

Hmmm, saya yakin banyak yg marah dan tersinggung atas tulisan ini. Maaf kalau marah, maaf kalau tersinggung. Ibarat obat panu, obat panu akan terasa pedih jika dioleskan pada penderita panu, tapi gak terasa apa2 jika dioleskan pada yg tidak terkena panu. Tapi insya Allah, dg rasa pedih tsb panu akan sembuh. :)

Banyak kemudian akhwat yg protes, "kalau ikhwan boleh lalu knp akhwat gak boleh"?
He he, akhwat skrg betul2 sdh keren, teori emansipasi sdh masuk kdlm pikirin  mereka, scr tdk sadar pola pikir kaum feminis tlh menguasai pemikiran mereka, akhwat modern :).

Mari sama2 kita lihat QS. An-Nur ayat 30 dan 31, di ayat 30 ikhwan  punya 2 kewajiban, yaitu menjaga pandangan dan memelihara kemaluan.
Selanjutnya coba kita lihat ayat 31, akhwat mempunyai 3 kewajiban, lebih banyak 1 kewajiban dr para ikhwan. Kewajiban perempuan yaitu menjaga pandangan dan memelihara kemaluan, plus kewajiban menjaga diri (perintah menjaga izzah dg menutup aurat). Di ayat ini menggunakan kata tidak menampakkan perhiasannya (aurat), artinya akhwat mempunyai kewajiban dlm fungsi prefentif trhdap dosa.

Apakah hukum laki2 memandang perempuan yg bukan mahram? Dosa!.
Siapa yg membuat laki2 tadi berdosa? Apa hukum membuat org lain berdosa?
Apakah akhwat menjalankan fungsi prefentifnya ktk memposting fotonya?
Silahkan jawab sendiri.

Wallahu a'lam.
Tulisan ini bukan utk menyindir org tertentu, juga bukan utk menyudutkan para akhwat. Tapi melihat kondisi yg sama2 harus kita perbaiki.


Waalahu a'lam, semoga bermanfaat. Maaf atas pemilihan bahasa yg kurang tepat dan cara penyampaian yg kurang elok.

*Ahmad sholahudin, jakarta 25 februari 2014, pukul 22:23 Wib


0 komentar:

Posting Komentar