Pages

Sabtu, 02 November 2013

JALUR RESMI VS JALUR PRIBADI



Ada sebuah pemikiran yang berkembang di sebagian aktivis tarbiyah yang saya kurang sependapat, yaitu pemikiran bahwa jatuh cinta kemudian mengungkapkan rasa cinta kepada lawan jenis untuk dilanjutkan kepelaminan itu adalah sebuah kesalahan. Atau bahasa lainnya menikah diluar "jalur formal" adalah kesalahan/aib, atau bahasa lainnya lagi menikah dg pasangan pilihan sendiri adalah kesalahan/aib. 

jatuh cinta kepada lawan jenis adalah fitrah, inilah yang digambarkan oleh Al-Quran dalam surat Ali-Imran ayat 14. Perasaan yang muncul dalam diri ikhwan/akhwat bukan untuk dihalangi, tapi bagaimana supaya disalurkan dengan tepat. 

Menjaga hati memang wajib, terutama terkait masalah ini. Tapi cara menjaga hati yang paling tepat menurut saya adalah dengan menyalurkannya dengan tepat, yaitu saat ikhwan jatuh cinta pada akhwat atau sebaliknya, maka cara yang paling baik adalah lansung mengungkapkannya dan lnsung menuju pernikahan (tanpa pacaran atau HTS). 

Jika tidak sanggup dengan menjaga hati dengan cara ini, baru menjaga hati dg cara selanjutnya, yaitu menahan rasa tersebut, kemudian berusaha menghilangkan rasa kecendrungan/cinta yang muncul. 
Untuk penjelasan lengkap silahkan baca di http://sholahudin-jundullah.blogspot.com/2013/06/hukum-jatuh-cinta-dalam-pandangan-islam.html?m=1 . 

Ada yang berpendapat, kalau percaya dg ayat tentang "laki-laki yang baik-baik hanya untuk perempuan yang baik-baik, dan perempuan yang baik-baik hanya untuk laki-laki yang baik-baik", lalu kenapa harus men-tag akhwat/ikhwan sebelum nikah? 

Pertanyaan saya, apakah dengan menikah diluar "jalur formal" bertentangan dengan QS.An-Nur:26 tersebut? Dimana pertentangannya? 
Menurut saya, kurang tepat menjadikan QS.An-Nur:26 sebagai dalil melarang menikahi perempuan pilihan sendiri. Wallahu a'lam. 

Dizaman Rasulullah, para sahabat juga ada yang menikah dengan perempuan pilihan sendiri, dan Rasulullah tidak menegur sahabat tsb. Sebagaimana yang disampaikan Ustadz Salim A Fillah Hafidzahullah, para sahabat ada yang menikah dg cara minta dicarikan oleh Rasulullah, ada yang sudah punya calon kemudian hanya memberitahu kepada Rasulullah ttg calonnya, dan ada juga yang memilih pasangan sendiri dan baru melapor kepada Rasulullah setelah melansungkan pernikah. 

Cerita Sayyid Qutb juga sangat menarik, beliau pernah sampai dua kali jatuh cinta kepada perempuan dan melamar perempuan yang ia cintai, walaupun dua-duanya gagal. 

Dua cerita diatas (sahabat masa Rasulullah dan Sayyid Qutb) menjelaskan bahwan menikahi pilihan sendiri bukanlah sebuah kesalahan dan juga bukanlah sebuah aib. 

Ada ungkap yang cukup familiar dikalangan aktivis tarbiyah, "mencintai perempuan yang dinikahi, bukan menikahi perempuan yang dicintai". Kalimat ini tidak sepenuhnya salah, tapi ada yang harus dikritik. Kalimat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa menikahi perempuan yang dicintai adalah sebuah kesalahan. 

Saya rasa kalimat "menikahi perempuan yang dicintai, dan mencintai perempuan yang dicintai" jauh lebih baik. Yang salah itu adalah, "menikahi perempuan yang dicintai, lalu tidak mencintai lagi perempuan yang dinikahi", atau yang lebih parah lagi "tidak mencintai perempuan yang dinikahi, dan tidak menikahi perempuan yang dicintai". 

Apakah menikah dengan "jalur formal" akan menjamin seseorang akan tetap istiqomah dan militan dijalan dakwah? 
Tidak ada jaminan, sangat tidak ada jaminan! Banyak contoh ikhwah yang menikah dengan "jalur formal", setelah menikah juga hilang dari peredaran. 

Menikah dg pilihan sendiri atau dengan "jalur formal" sama-sama tidak ada jaminan membuat seseorang tetap istiqomah dan militan, sehingga hal ini tidak bisa jadi alasan untuk melarang menikah dengan pilihan sendiri. 

Namun perlu ditekankan disini, pacaran atau hubungan apapun yang dibangun sebelum ikatan pernikahan adalah dilarang dan tidak bisa dibenarkan. Tulisan ini bukan untuk membenarkan hal tersebut, karena hal itu sudah jelas ketidak bolehannya. 

Dan tulisan ini juga bukan alasan pembenar saya untuk menikah dengan pilihan sendiri, karena saya masih berniat meminta bantuan ustadz/ah untuk membantu saya mencari pasangan, walau saat saya belum memulai proses tersebut. 

Saya juga bukan tidak sepakat dengan adanya "jalur resmi", saya sepakat dengan hal tsb san memberi apresiasi yang besar kepada ikhwah yang menempuh jalur ini. Tapi mungkin alangkah eloknya jika ikhwah diberi kebebasan juga untuk memilih sendiri. 

Tulisan ini murni muncul karena rasa kurang sepakat dengan pemikiran yang selama ini berkembang, bukan karena hal lain. 

Saya melihat dampak negatif dari pemikiran dan kebijakan tersebut, ikhwah aktivis tarbiyah semakin banyak yang terkucilkan, semakin banyak aktivis yang mundur karena kebijakan tsb, dan yang paling penting saya khawatir aktivis dakwah mengaggap aib sesuatu yang dibolehkan islam, atau mengharamkan yang tidak diharamkan Allah. 

Wallahu a'lam. 

NB: "Tidak Untuk Disebarkan. :)

2 komentar: