Pages

Sabtu, 27 Juli 2013

TUJUH GOLONGAN YANG MENDAPAT NAUNGAN ALLAH



Rasulullah Saw bersabda: tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari ketika tidak ada tempat berteduh kecuali dibawah naungan-Nya: seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seorang lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah-mereka berjumpa dan berpisah karena Allah, seorang lelaki yang diajak berzina olehseorang wanita bangsawan nan jelita namun ia mengelaknya dan berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”, seseorang yang bersedekah kemudian iamerahasiakannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfaqkan oleh tangan kanannya, dan seorang lelaki yang berzikir dalam kesunyian lantas berlinang air matanya. (HR. Bukhari:660 dan Muslim:1031).

1.      Imam/pemimpin yang adil.
Adil lawannya adalah dzalim dan fasiq, dzalim adalah perbuatan munkar yang dilakukan pada dirinya sendiri dan dan orang lain, sedangkan fasiq adalah perbuatan mungkar yang dilakukan diri sendiri dan tidak berdampak pada orang lain.

Imam yang adil mendapat posisi pertama dalam hadist ini sebagai golongan yang mendapat naungan Allah, ini menunjukkan posisi dan peran imam/pemimpin sangat penting dalam islam. Pemimpin punya pengaruh yang cukup besar dalam menegakkan nilai-nilai, minsalnya jika lembaga kemanusiaan hanya mampu memberi bantuan sekitar ratusan sampai ribuan dalam memberi pendidikan gratis/beasiswa kepada masyarakat kurang mampu, tapi negara mampu memberi lebih banyak. Jika para ulama hanya mampu menghimbau masyarakat untuk tidak bermaksiat seperti tidak menjual minuman keras, tapi negara dengan pemimpinnya yang adil mampu menghentikan semua aktivitas penjualan miras dengan regulasi yang dibuatnya. Dan banyak contoh peran pemimpin yang sangat penting dan besar dalam memperjuangkan nilai-nilai islam.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim surat kepada Hasan Al-Basri dan bertanya kepada beliau tentang pemimpin yang adil, berikut isi surat Hasan Al-Basri yang menjelaskan tentang pemimpin yang adil:

Wahai Amirul Mukmini, Tuhan memberi amanah kepada khalifah bagi meluruskan segala yang bengkok, membaiki segala yang rosak, menguatkan segala yang lemah, membela mereka yang teraniaya, dan menjadi penolong mereka yang terlantar.

Wahai Amirul Mukminin, ketua negara yang adil ibarat gembala yang sayang kepada haiwan-haiwan ternakannya, menghantarnya ke tempat yang selamat serta jauh daripada bahaya, mengawalnya daripada gangguan binatang buas serta melindunginya daripada kepanasan dan kedinginan.


Khalifah yang adil, wahai Amirul Mukminin, laksana seorang ayah yang arif bijaksana pada anak-anaknya. Apa yang dilakukan demi kebaikan mereka, mengajarnya menjadi orang yang berguna, bekerja keras membanting tulang untuk ahli keluarganya serta meninggalkan peninggalan yang berharga buat mereka apabila meninggal dunia kelak.

Ketua negara yang adil itu, wahai Amirul Mukminin, ibarat seorang ibu yang berkasih sayang serta bersikap lemah lembut kepada anak-anaknya. Dia rela mengandungkannya dengan bersusah-payah, kemudian mengasuhnya ketika bayi. Dia sanggup berjaga malam selagi anaknya tidak tidur dan perasaannya baru lega dan tenang selapas anaknya tenang dan tidur lena. Kemudian dia menyusukan anaknya ketika haus dan gembira apabila anaknya sihat dan berdukacita apabila anaknya sakit.

Ketua negara yang adil, dia berdiri antara Tuhan dengan hamba-Nya. Dia mendengarkan firman Allah kemudian menyampaikan kepada rakyatnya. Dia patuh kepada perintah Tuhan kemudian mengajak rakyatnya supaya turut mematuhi-Nya.

Kerana itu, wahai Amirul Mukminin, dengan kuasa yang dikurniakan Tuhan kepada kamu, jangan jadi seperti budak suruhan yang diberi amanah oleh tuannya bagi menjaga keluarga dan harta bendanya, kemudian dia khianat serta melakukan sewenang-wenangnya hingga harta itu habis dan majikannya menjadi marah.


Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, Tuhan menggariskan panduan hidup melalui kitab Al-Quran dan lidah Rasulullah supaya manusia menjauhkan diri daripada kejahatan. Tetapi bagaimana sekiranya yang melanggar peraturan itu orang yang sepatutnya menjadi pelaksana hukuman itu? Tuhan menjadikan hukum qisas sebagai jaminan kehidupan para hamba-Nya. Tetapi bagaiman apabila orang yang jadi pemimpin itu adalah orang yang seharusnya dituntut bagi menjatuhkan hukuman itu?


Wahai Amirul Mukminin, sentiasa ingat akan mati dan apa yang terjadi selepas mati. Ketika itu kamu tidak ada pembela selain amal ibadat kamu. Kerana itu, bersiap sedialah menghadapinya dan jadikan perkara itu masalah besar bagimu. Ingatlah pada hari di mana seseorang itu melarikan diri daripada saudaranya, ibu bapanya serta isteri dan anak-anaknya.

Wahai Amirul Mukminin, jangan kamu menghukum hamba Allah dengan hukuman orang yang jahil. Janganlah bawa mereka itu di jalan yang dilalui orang zalim. Jangan kamu beri kesempatan pada orang sombong yang berkuasa ke atas orang yang lemah.

Wahai Amirul Mukminin, janganlah kamu memandang pada kedudukan kamu pada hari ini, tetapi pandanglah kedudukan kamu pada hari esok di mana kamu terbelenggu dalam cengkaman maut, kemudian berdiri di hadapan Allah di tengah kelompok para malaikat, para nabi dan rasul.

Akhir kata, wahai Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Abdul Aziz, meskipun nasihat yang saya berikan ini tidak sebaik nasihat para cendikiawan, namun saya setulus hati sayang dan cinta kepadamu. Saya mengirim surat ini laksana orang yang memberikan ubat kepada kekasihnya, yang menuangkan ubat yang pahit dengan harapan orang yang dikasihinya sihat.

Selamat atasmu, wahai Amirul Mukminin, semoga Tuhan memberi rahmat dan berkatNya kepadamu. Amin."

2.      pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah.
sebagian besar sahabat Rasulullah adalah para pemuda, dan pemuda yang beriman dipuji oleh Allah sebagaimana Allah memuji pemuda ashabul kahfi karena keimanannya kepada Allah.

dihari kiamat nanti seseorang akan ditanya khusus tentang masa mudanya, sebagaimana sabda Rasulullah: Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Padahal masa muda adalah bagian dari umur, tapi masa muda menjadi pertanyaan tersendiri pada hari kiamat nanti, ini tentu menunjukkan pentingnya masa muda dan sebagai pelajaran bagi manusia untuk memperhatikan masa mudanya.

3.      seorang lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.
Tanda-tanda terikatnya hati seseorang kepada masjid dilihat dari 4 hal:
  1. memakmurkan masjid dengan sholat berjamaah.
  2. Bersegera memenuhi panggilan adzan.
Kisah ulama salaf berikut bisa menjadi pelajaran bagi kita:
Said bin Abdul Aziz selalu menangis jika ketinggalan shalat berjama’ah.

Sa’id ibn al-Musayyab selama empat puluh tahun selalu mengerjakan shalat di masjid.

Al-A’masy selama hampir tujuh puluh tahun tidak pernah tertinggal takbiratul ihram ketika shalat berjamaah.

Suatu ketika, saat uzur Sulaiman al-Maqdisi telah mencapai umur sembilan puluh tahun, ia ditanya seseorang tentang shalat jama’ah. Dia menjawab, “Saya sama sekali tidak pernah mengerjakan shalat fardlu sendirian, kecuali hanya dua kali, dan saya merasa bahwa keduanya seperti tidak saya kerjakan.”

Hatim al-Asham berkata: “Saya pernah tertinggal shalat jama’ah, kemudian Abu Ishaq al-Bukhari menyatakan bela sungkawa kepadaku, jika anak saya meninggal niscaya lebih dari sepuluh ribu orang akan menyatakan bela sungkawa kepadaku”.

Rabi’ ibn Khaitsam ketika tubuhnya telah lumpuh dia dipapah menuju masjid. Saat itu, para sahabatnya berkata: “Wahai Abu Yazid, Allah telah memberikan keringanan kepadamu untuk shalat di rumahmu saja.” Namun, Rabi’ ibn Khaitsam menjawab: “Aku selalu mendengarnya menyeru, ‘Hayya ‘Ala al-Falah.’  Maka, jika salah seorang diantara kalian mendengar muadzin menyuarakan Hayya ‘Ala al-Falah, penuhilah panggilan itu, meskipun harus dengan merangkak.”

  1. Menunggu datangnya waktu sholat.
  2. Sangat menyesal jika luput dari sholat berjamaah.

4.      dua orang yang saling mencintai karena Allah-mereka berjumpa dan berpisah karena Allah.
Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam usai shalat, beliau menghadap ke arah jamaah dengan wajah beliau lalu bersabda: "Wahai sekalian manusia! Dengar, fahami dan ketahuilah bahwa Allah AzzaWaJalla memiliki hamba-hamba, mereka bukan nabi atau pun syuhada` tapi para nabi dan syuhada` iri pada mereka karena tempat dan kedekatan mereka dengan Allah pada hari kiamat." Kemudian salah seorang badui datang, ia berasal dari pedalaman jauh dan menyendiri, ia menunjuk tangannya ke arah Nabi Shallallahu'alaihiwasallam lalu berkata: Hai Nabi Allah! Sekelompok orang yang bukan Nabi ataupun syuhada` tapi para nabi dan syuhada` iri kepada mereka karena kedudukan dan kedekatan mereka dengan Allah, sebutkan ciri-ciri mereka untuk kami. Wajah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bergembira karena pertanyaan orang badui itu lalu Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang berasal dari berbagai penjuru dan orang-orang asing, diantara meraka tidak dihubungkan oleh kekerabatan yang dekat, mereka saling mencintai karena Allah dan saling tulus ikhlas, Allah menempatkan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya pada hari kiamat, Allah mendudukan mereka diatasnya, Allah menjadikan wajah-wajah mereka cahaya, pakaian-pakaian mereka cahaya, orang-orang ketakutan pada hari kiamat sementara mereka tidak ketakuan, mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak takut dan tidak bersedih hati."

5.  seorang lelaki yang diajak berzina olehseorang wanita bangsawan nan jelita namun ia mengelaknya dan berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.
kisah ulama salaf Rabi’ bin Khaitsam sungguh sangat menakjubkan, beliau adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya teduh tertunduk. Meskipun masih muda, kesungguhan Rabi’ dalam beribadah telah diakui oleh banyak ulama dan ditulis dalam banyak kitab. Imam Abdurrahman bin Ajlan meriwayatkan bahwa Rabi’ bin Khaitsam pernah shalat tahajjud dengan membaca surat Al Jatsiyah. Ketika sampai pada ayat keduapuluh satu, ia menangis. Ayat itu artinya, ” Apakah orang-orang yang membuat kejahatan (dosa) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu! “

Seluruh jiwa Rabi’ larut dalam penghayatan ayat itu. Kehidupan dan kematian orang berbuat maksiat dengan orang yang mengerjakan amal shaleh itu tidak sama! Rabi’ terus menangis sesenggukan dalam shalatnya. Ia mengulang-ngulang ayat itu sampai terbit fajar.

Kesalehan Rabi’ sering dijadikan teladan. Ibu-ibu dan orang tua sering menjadikan Rabi’ sebagai profil pemuda alim yang harus dicontoh oleh anak-anak mereka. Memang selain ahli ibadah, Rabi’ juga ramah. Wajahnya tenang dan murah senyum kepada sesama.

Namun tidak semua orang suka dengan Rabi’. Ada sekelompok orang ahli maksiat yang tidak suka dengan kezuhudan Rabi’. Sekelompok orang itu ingin menghancurkan Rabi’. Mereka ingin mempermalukan Rabi’ dalam lembah kenistaan. Mereka tidak menempuh jalur kekerasan, tapi dengan cara yang halus dan licik. Ada lagi sekelompok orang yang ingin menguji sampai sejauh mana ketangguhan iman Rabi’.

Dua kelompok orang itu bersekutu. Mereka menyewa seorang wanita yang sangat cantik rupanya. Warna kulit dan bentuk tubuhnya mempesona. Mereka memerintahkan wanita itu untuk menggoda Rabi’ agar bisa jatuh dalam lembah kenistaan. Jika wanita cantik itu bisa menaklukkan Rabi’, maka ia akan mendapatkan upah yang sangat tinggi, sampai seribu dirham. Wanita itu begitu bersemangat dan yakin akan bisa membuat Rabi’ takluk pada pesona kecantikannya.

Tatkala malam datang, rencana jahat itu benar-benar dilaksanakan. Wanita itu berdandan sesempurna mungkin. Bulu-bulu matanya dibuat sedemikian lentiknya. Bibirnya merah basah. Ia memilih pakaian sutera yang terindah dan memakai wewangian yang merangsang. Setelah dirasa siap, ia mendatangi rumah Rabi’ bin Khaitsam. Ia duduk di depan pintu rumah menunggu Rabi’ bin Khaitsam datang dari masjid.

Suasana begitu sepi dan lenggang. Tak lama kemudian Rabi’ datang. Wanita itu sudah siap dengan tipu dayanya. Mula-mula ia menutupi wajahnya dan keindahan pakaiannya dengan kain hitam. Ia menyapa Rabi’, ” Assalaamu’alaikum, apakah Anda punya setetes air penawar dahaga? ” ” Wa’alaikumussalam. Insya Allah ada. Tunggu sebentar.” Jawab Rabi’ tenang sambil membuka pintu rumahnya. Ia lalu bergegas ke belakang mengambil air. Sejurus kemudian ia telah kembali dengan membawa secangkir air dan memberikannya pada wanita bercadar hitam. ” Bolehkah aku masuk dan duduk sebentar untuk minum. Aku tak terbiasa minum dengan berdiri.” Kata wanita itu sambil memegang cangkir. Rabi’ agak ragu, namun mempersilahkan juga setelah membuka jendela dan pintu lebar-lebar. Wanita itu lalu duduk dan minum. Usai minum wanita itu berdiri. Ia beranjak ke pintu dan menutup pintu. Sambil menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ia membuka cadar dan kain hitam yang menutupi tubuhnya. Ia lalu merayu Rabi’ dengan kecantikannya.

Rabi’ bin Khaitsam terkejut, namun itu tak berlangsung lama. Dengan tenang dan suara berwibawa ia berkata kepada wanita itu, ” Wahai saudari, Allah berfirman, ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. ” Allah yang Maha pemurah telah menciptakan dirimu dalam bentuk yang terbaik. Apakah setelah itu kau ingin Dia melemparkanmu ke tempat yang paling rendah dan hina, yaitu neraka?!

”Saudariku, seandainya saat ini Allah menurunkan penyakit kusta padamu. Kulit dan tubuhmu penuh borok busuk. Kecantikanmu hilang. Orang-orang jijik melihatmu. Apakah kau juga masih berani bertingkah seperti ini ?!

”Saudariku, seandainya saat ini malaikat maut datang menjemputmu, apakah kau sudah siap? Apakah kau rela pada dirimu sendiri menghadap Allah dengan keadaanmu seperti ini? Apa yang akan kau katakan kepada malakaikat munkar dan nakir di kubur? Apakah kau yakin kau bisa mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan saat ini pada Allah di padang mahsyar kelak?! “

Suara Rabi’ yang mengalir di relung jiwa yang penuh cahaya iman itu menembus hati dan nurani wanita itu. Mendengar perkataan Rabi’ mukanya menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya meleleh. Ia langsung memakai kembali kain hitam dan cadarnya. Lalu keluar dari rumah Rabi’ dipenuhi rasa takut kepada Allah swt. Perkataan Rabi’ itu terus terngiang di telinganya dan menggedor dinding batinnya, sampai akhirnya jatuh pingsan di tengah jalan. Sejak itu ia bertobat dan berubah menjadi wanita ahli ibadah.

Orang-orang yang hendak memfitnah dan mempermalukan Rabi’ kaget mendengar wanita itu bertobat. Mereka mengatakan, ” Malaikat apa yang menemani Rabi’. Kita ingin menyeret Rabi’ berbuat maksiat dengan wanita cantik itu, ternyata justru Rabi’ yang membuat wanita itu bertobat! “

Rasa takut kepada Allah yang tertancap dalam hati wanita itu sedemikian dahsyatnya. Berbulan-bulan ia terus beribadah dan mengiba ampunan dan belas kasih Allah swt. Ia tidak memikirkan apa-apa kecuali nasibnya di akhirat. Ia terus shalat, bertasbih, berzikir dan puasa. Hingga akhirnya wanita itu wafat dalam keadaan sujud menghadap kiblat. Tubuhnya kurus kering kerontang seperti batang korma terbakar di tengah padang pasir.

6.  orang yang bersedekah kemudian iamerahasiakannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfaqkan oleh tangan kanannya.
Inilah kenapa dinamakan shadaqoh, artinya ia membenarkan Allah dengan infaq yang dikeluarkannya. shadaqoh secara sembunyi-sembunyi ini dilakukan untuk shadaqoh sunah, senangkan untuk shadaqoh harus diketahui orang lain.

7.      seorang lelaki yang berzikir dalam kesunyian lantas berlinang air matanya.
Rasulullah SAW bersabda: “Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka untuk selama-lamanya : mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga malam di jalan Allah”.  (HR. Tirmidzi)

Semoga kita bisa mendapatkan salah satu dari tujuh hal diatas, minimal satu yang kita anggap paling ringan untuk kita amalkan. Salah satu maksud hadist ini adalah kita di suruh memilih amalan-amalan unggulan yang mampu senantiasa kita jaga.


Catatan: tulisan ini merupakan ringkasan dari Kuliah Subuh Ramadhan yang disampaikan oleh Ustadz Nurkholis Asy’ari Lc., Al-Hafidz di masjid Al-Hidayah, Condet, Jakarta Timur. Tanggal 25 Juli 2013 M/ 17 Ramadhan 1434, dengan perubahan bahasa oleh penulis.


*Ahmad Sholahudin, 27 Juli 2013, pukul 18:43 WIB. Jakarta.


0 komentar:

Poskan Komentar