Pages

Sabtu, 06 Juli 2013

PELAJARAN DARI SURAH AL-LAHAB

Surah Al-Lahab merupakan salah satu surat Al-Quran yang hampir semua muslim hafal, surat pendek ini mengandung banyak pelajaran. berikut ini sebagian pelajaran dari surat Al-Lahab ini:

1.      Ancaman Allah bagi para pendusta dan orang-orang yang menghalangi dakwah islam.
Allah mengancam siapapun yang mendustakan dan menghalangi dakwah ilallah, banyak sekali ayat Al-Quran yang berbicara tentang ancaman Allah ini, diantaranya:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. (QS. Al-Anfal: 36).
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) Dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. (QS. An-Nisa: 160).

2.      Nasab tidak menjadi ukuran kemulian atau kehinaan seseorang di sisi Allah.
yang menjai ukuran kemulian seseorang disisi Allah bukanlah nasab atau tali keturunan, tapi ketaqwaan kepada Allah.
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujuraat: 13).

3.      Iman tidak bisa di wariskan kepada orang terdekat/keluarga, hidayah mutlak milik Allah.
bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya..... (QS. Al-Baqarah: 272)
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashas: 56).

4.   Ikatan pertama bagi seorang muslim dengan manusia lainnya adalah ikatan aqidah, bukan iktana keturunan, harta, lingkungan, dan lainnya.
Tidak beriman salah seorang diantara kamu sampai ia mencinta saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari-Muslim).

5.  Sudah sunnatullah dakwah ini selalu ada penentangnya, dan tidak tertutup kemungkinan penentang itu berasal dari keluarga/orang terdekat.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. Al-Baqarah: 214)
kemudian Kami selamatkan Dia (Luth) dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; Dia Termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). (QS. Al-A’raf: 83).

6.      Kedudukan dan kehormatan di dunia tidak menjadi jaminan kemulian seseorang di akhirat.
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.  (QS. At-Taubah: 34).


7.      Harta, anak dan apa yang di usahakan di dunia tidak akan bermanfaat di akhirat (selama tidak di belanjakan di jalan Allah).
dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. Al-Anfal: 28)

8.  Orang yang saling membantu dalam keburukan di dunia, maka akan saling membantu memberatkan azab di akhirat.

9.      Pasangan Suami dan Istri itu biasanya selalu sekufu/sederajat.
wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).... (QS. An-Nur:26)

10.  Membuktikan ketetapan Allah itu benar dan menjadi bukti mukjizat Al-Quran dan bukti kenabian Rasul.
Imam ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: Para ulama mengatakan bahwa surat ini merupakan mukjizat dan bukti terang yang menunjukkan kenabian. Karena sesungguhnya sejak di turunkan firman-Nya:
Kelak dia (abu lahab) akan masuk kedalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar, yang dilehernya ada tali dari sabut. (QS. Al-Lahab: 3-5).
Yang memberitakan bahwa keduanya adalah orang yang celaka dan tidak akan mau beriman. Kemudian kenyataannya memang demikian selama hidupnya, keduanya tidak beriman dan tidak pula salah seorangnya, baik lahir maupun bathinnya, dan baik menyembunyikannya ataupun melahirkannya. Keduanya sama sekali tidak mau beriman. Dan hal ini merupakan bukti kuat yang menunjukkan kebenaran kenabian Nabi Muhammad Saw.

Jika seandainya setelah turunnya ayat ini, lalu abu lahab dan istrinya beriman, tentu kebenaran Al-Quran diragukan karena ayatnya tidak terbukti benar.

Catatan: tulisan ini bukan tafsir dari surat Al-Lahab, ini hanya pelajaran/hikmah yang bisa di ambil dari surat tersebut. Untuk tafsirnya silahkan merujuk pada tafsir para ulama tafsir.



*Ahmad Sholahudin. Jakarta, Ahad 07 Juli 2013. Pukul 07:44 WIB.

0 komentar:

Posting Komentar