Pages

Jumat, 26 Juli 2013

MEMPERBESAR DAN MEMPERBAHARUI NIAT DI BULAN RAMADHAN



Ada ungkapan yang sangat mahsyur, “bagi seorang muslim niat lebih besar dari amalan itu sendiri”. Abdullah bin Al-Mubarak mengungkapkan, “Berapa banyak amal yang remeh menjadi besar gara-gara niat, dan berapa banyak amal yang besar menjadi remeh gara-gara niat”. Hal senada juga diungkapkan oleh Yahya bin Abu Katsir yang mengatakan, “Belajarlah niat, karena niat itu lebih penting daripada amal.”
Niat sangatlah penting bagi seorang muslim, mungkin ada amalan-amalan besar dihadapan manusia, tapi menjadi kecil dihadapan Allah. sebaliknya mungkin ada amalan-amalan yang kecil dihadapan manusia, tapi menjadi besar dihadapan Allah. ini semua  ditentukan oleh niat.
Kita ingat kisah yang yang terdapat dalam hadist Rasulullah yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh imam Muslim. Abu Hurairah r.a berkata : Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda : "Sesungguhnya orang yang pertama sekali di putuskan hukumannya pada hari qiamat nanti ialah seorang lelaki yang mati syahid. Ia akan dihadapkan (kepada Allah swt) lalu Allah swt mengingatkannya akan nikmat yang pernah di anugerahkan kepadanya sewaktu berada di dunia dahulu,maka ia pun kembali mengingatinya,kemudian Allah swt lalu bertanya kepadanya, "Apa yang engkau telah buat dengan nikmat yang telah ku berikan kepadamu itu?".Ia menjawab :"Nikmat itu telah saya gunakan untuk berperang kerana membela agamaMu sehingga aku gugur sebagai syahid". Allah swt berkata kepadanya :"Engkau bohong ! Sebenarnya engkau berperang adalah dengan tujuan supaya engkau disebut-sebut sebagai seorang yang berani,dan telah pun dikatakan orang begitu kepadamu". Orang itu lalu diheret ke atas mukanya sehingga ia dicampakkan ke dalam neraka. Kemudian dihadapkan pula seorang lelaki yang belajar 'ilmu agama dan ia mengajarkannya kepada orang lain serta banyak membaca Al-Qur'an. Lalu Allah swt mengingatkannya akan nikmat yang pernah dianugerahkan kepadanya sewaktu berada di dunia dahulu dan ia pun kembali mengingatinya,kemudian Allah swt lalu bertanya kepadanya: "Apa yang telah engkau buat terhadap nikmat itu?". Ia lalu menjawab: "Aku telah belajar ilmu agama dan mengajarkannya kepada orang lain dan juga aku membaca Al-Qur'an untuk mencari keredhaanMu". Allah swt berkata kepadanya: "Engkau bohong ! Sebenarnya engkau belajar ilmu supaya engkau disebut-sebut sebagai orang yang 'alim dan engkau membaca Al-Qur'an supaya engkau dikatakan seorang "Qari" yang pandai membaca Al-Qur'an, dan telahpun dikatakan orang begitu kepadamu". Orang itu lalu diheret ke atas mukanya sehingga ia dicampakkan ke dalam api neraka. Kemudian dihadapkan pula seorang dermawan yang telah diluaskan Allah swt akan rezekinya dan dikurniakan kepadanya bermacam-macam harta benda. Lalu Allah swt mengingatkannya terhadap nikmat yang telah dianugeahkannya, maka ia pun mengingatinya kembali. Kemudian Allah swt bertanya kepadanya: "Apa yang engkau perbuat ke atas nikmat yang telah Aku anugerahkan itu?".Ia menjawab: "Tiada suatu jalan pun yang engkau mahukan supaya diberikan dema kepadanya kecuali telah saya dermakan harta saya kepadanya". Allah swt berkata kepadanya: "Enkgkau bohong ! Engkau menderma supaya engkau disebut-sebut sebagai seorang dermawan,dan telah pun dikatakan orang begitu kepadamu". Orang itu lalu diseret di atas mukanya sehingga dicampakkan ke dalam api neraka".
Jika kita lihat dari kisah diatas, amalan yang diceritakan dalam hadist tersebut merupakan amalan-amalan besar dan agung, tapi amalan-amalan tersebut sedikitpun tidak bernilai disisi Allah, karena niat dari para pelaku amal tidak karena Allah.

Namun sebaliknya ada sebuah kisah yang juga terdapat dalam hadist Rasul tentang suatu amalan yang mungkin bagi kita sangat remeh dan kecil, tapi amalan tersebut ternyata sangat bernilai disi Allah dan memasukkannya kesurga atas izin Allah. yaitu kisah seorang wanita pelacur yang masuk surga gara-gara memberi minum anjing yang kehausan. Dari Abi Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW berabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, “Anjing ini hampir mati kehausan”. Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum. (HR Bukhari). Mungkin bagi manusia amalan yang dilakukan wanita ini sangat remah, tapi ternya sangat bernilai disis Allah.

Dibulan Ramadhan semua amalan besar disisi Allah, yang sunnah bernilai wajib, dan yang wajib Allah lipat gandakan pahalanya. Maka dibulan ramadhan ini mari kita perbesar niat kita, sehingga amalan kita tidak sia-sia dan mendapat keuntungan yang berlipat disisi Allah. Wallahu a’lam.

Catatan: tulisan ini ringkasan dari kuliah subuh yang disampaikan Ustadz Nurkholis Asy’ari Lc,  Al-Hafidz di masjid Al-hidayah Jakarta Timur, dengan perubahan bahasa oleh penulis.


Ahmad Sholahudin, 26 juli 2013, Pukul 18:01.

0 komentar:

Posting Komentar