Pages

Minggu, 07 Juli 2013

MEMAKNAI KEBERHASILAN DAKWAH



Selama ini kita memaknai keberhasilan dakwah dengan bertambahnya kader yang terdata di data base dan yang ikut tertarbiyah. setiap saat kita membahas bagaimana setiap orang tergabung dalam tarbiyah, dan setiap saat membahas kader tertarbiyah. Setiap evaluasi akhir tahunpun, keberhasilan dakwah selalu dinilai dengan bertambahnya kader tarbiyah.

Lalu bernarkah indikator keberhasilan selalu dimaknai dengan bertambahnya kader tarbiyah?
Tidak dipungkiri jika bertambahnya kader merupakan keberhasilan dari proses dakwah tarbiyah, tetapi menjadikan bertambahnya kader tertarbiyah sebagai satu-satunya indikator keberhasilan dakwah juga tidaklah tepat. Masih banyak hal lain yang menjadi indikator keberhasilan dakwah. Memaknai  keberhasilan dakwah hanya dengan bertambahnya kader itu terlalu sempit.

Untuk memahami hakikat keberhasilan dakwah ini, maka kita harus kembali memahami tujuan dari dakwah itu sendiri. Dakwah secara sederhana diartikan sebagai usaha untuk mengajak orang lain kejalan Allah, berislam dengan baik, serta menjauhi segala sifat kejahiliyahan dan menjauhi penyembahan terhadap taghut/selain Allah. maka keberhasilan dakwah harus kita selaraskan dengan makna ini.

Semakin banyaknya masyarakat kampus yang terpanggil untuk sholat berjamaah, budaya berpakaian syari  semakin menjadi kesadaran, berpakaian syar’i tidak di cemooh dan semakin di hargai, semakin baiknya akhlak mahasiswa, islam  dan budaya islam tidak asing lagi, dakwah semakin sedikit dimusuhi, mahasiswa umum semakin banyak yang akrab dengan aktivis dakwah, dan hal lainnya  yang juga merupakan indikator dari keberhasilan dari dakwah.

Jika keberhasilan dakwah hanya dimaknai dengan bertambahnya kader, maka usaha-usaha dakwah hanya disibukkan bagaimana menambah jumlah kader dan melupakan hal lain yang juga merupakan bagian dari indikator keberhasilan dakwah. Kader dakwah disibukkan dengan usaha perekrutan, membahas kader tertarbiyah yang bermasalah, melaksanakan agenda yang hanya fokus dengan pengkaderan. Tapi melupakan bahwa dakwah ini harus dirasakan oleh setiap insan kampus.

Jika keberhasilan dakwah hanya dimaknai dengan bertambahnya kader, maka para aktivis dakwah akan selalu menilai dakwahnya kurang berhasil. Pikiran kader selalu dipusingkan dan tertekan dengan permasalahan ini.

Tujuan kita adalah kampus yang islam, insan kampus yang hanif, dan islam yang semakin membudaya. Dan insya Allah  itu akan terwujud dengan tidak melupakan indikator keberhasilan dakwah lainnya, dengan memaknai dakwah bukan hanya dengan bertambahnya kader tarbiyah.

Walau tidak dipungkiri bertambahnya kader merupakan hal penting yang harus di usahakan, dan faktor penting dalam keberhasilan dakwah. Wallahu A’lam.


*Ahmad Sholahudin, Jakarta, 08 Juli 2013. Pukul 08:30

0 komentar:

Posting Komentar