Pages

Selasa, 18 Juni 2013

MENELADANI IBUNDA KHADIJAH BUKAN SEBUAH DOSA (Akhwat Melamar Ikhwan)


Ada satu tema yang belum pernah saya tulis dan belum berani saya tulis, selain karena pengetahuan saya tentang tema ini sangat terbatas, juga dikarenakan saya belum punya pengalam lansung terkait tema ini, yaitu tulisan terkait tema pernikahan. Karena saya belum melangkah kejenjang ini, sehingga saya merasa belum pantas menulis tema ini.

Ada sebuah fenomena dan paradigma yang baru saya sadari, dan saya pikir ada kesalahan berpikir terkait hal ini. Melihat ini, saya tertarik dan memberanikan diri menulis sebuah tema yang selama ini belum pernah saya tulis.

Saya melihat ada kecendrungan bahwa para akhwat lebih cepat dan lebih banyak yang siap menikah, bahkan lebih besar keinginannya untuk cepat-cepat meninggalkan masa kesendiriannya dibandingkan para ikhwan. Disisi lain, para ikhwan terlihat lebih santai dan tidak terlalu mengebu-ngebu seperti akhwat dalam masalah ini, walau saya yakin keinginan di hati para ikhwan untuk menikha itu ada dan selalu ada.

Disisi lain lagi, jumlah para akhwat terus bertambah jauh lebih banyak dari para ikhwan, baik dari jumlah keseluruhan, maupun dari jumlah kesiapan dan keinginan untuk menikah. Dan ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi bagi sebagian orang – walaupun sebenarnya urusan jodoh ini sudah diatur oleh Allah dan tidak ada yang perlu di khawatirkan, dan islam juga telah memberi solusi terhadap masalah ini. He he J

Banyak akhwat yang punya keinginan yang cukup besar untuk segera menyempurnakan separoh agamanya, tapi saat menyadari kalau dirinya perempuan, maka para akhwat lebih mengambil sikap menunggu daripada mengambil inisiatif untuk maju dan memulai duluan. Paradigma yang tertanam dipikiran mayoritas masayarakat, merupakan sebuah aib, tabu, dan tidak wajar jika perempuan memulai mencari laki-laki dan menyatakan keinginannya untuk menikah, perempuan melamar laki-laki masih dianggap hal yang kurang elok, dan ini juga menjadi pemikiran para akhwat dan membelenggu pikiran mereka.

Apakah Salah Jika Akwat Melamar Ikhwan?
Jika kita kembali melihat sejarah, sebelum proses pernikahan antara ibunda Khadijah ra dengan baginda Rasulullah Saw, ibunda Khadijah ra lah yang melamar Rasulullah Saw.

Saya menilai, bukan sebuah kesalahan dan bukan sebuah aib ketika akhwat lebih duluan melamar ikhwan, bahkan saya menganggap ini merupakan kehormatan dan kemulian tersendiri bagi seorang akhwat. Seorang akhwat yang berani/memberanikan diri melamar ikhwan, berarti ia paham kemulian ajaran islam dan paham syariat islam.

Izzah/kemulian para akhwat tidak akan luntur saat ia lebih dahulu mempunyai inisiatif melamar ikhwan, bahkan di mata saya pribadi, saya sangat mengagumi keputusan dan prinsip akhwat yang seperti ini.
Akhwat tersebut menyadari, saat ia terus memendamkan rasa dan keinginannya yang mengebu-ngebu untuk menikah, maka ia khawatir hal ini akan mengotori hatinya, ia khawatir terjerumus kedalam maksiat yang lebih besar, ia khawatir tidak mampu melawan godaan syetan yang semakin gencar membisik hatinya, dan ia takut mendzolimi dan menyiksa dirinya sendiri. Karena takut itu semua, maka  akhwat tersebut berinisiatif untuk melamar ikhwan. Dan inilah kemulian seorang wanita yang takut akan dosa dan takut akan kebesaran Allah yang Maha Besar. subhanallah, wanita seperti ini adalah wanita yang mulia, yang menjaga izzahnya karena takut kepada Allah.

Menikah juga merupakan sunnah Rasulllah yang disunnahkan untuk disegarakan, maka akhwat yang melamar ikhwan adalah akhwat yang punya semangat besar mengikuti sunnah Rasul dan menyegerakan sunnah Rasul sebagaimana yang disunnahkan. Orang yang punya semangat besar mengikuti sunnah Rasul adalah orang yang mulia dan baik dalam beragama, artinya akhwat yang punya semangat mengikuti sunnah Rasul dan bersemangat menyegerakan sunnah adalah akhwat yang mulia dan baik dalam beragama.

Bukan sebuah kesalahan, bukan sebuah dosa, dan bukan sebuah aib akhwat melamar ikhwan, bahkan ia merupakan kemuliaan. Wallahu a’lam.


*Ahmad Sholahudin, Jakarta 18 Juni 2013, Pukul 14:08 Wib.

Catatan:
·         Tulisan ini pendapat saya pribadi, tidak ada paksaan untuk sependapat dengan tulisan ini.
·         Tulisan ini bukan ingin merusak tradisi (atau mungkin sistem) yang telah ada dan mapan selama ini, sekali lagi ini hanya pendapat dan pikiran saya pribadi.

·         Dalam hal ini, tentunya ada batasan-batasan juga bagi para akhwat.

0 komentar:

Posting Komentar