Pages

Senin, 17 Juni 2013

MEMETIK PELAJARAN DARI PERJANJIAN HUDAIBIYAH. (Bantahan Terhadap HTI)


Sejenak mari kita lihat kembali salah satu peristiwa sangat besejarah dalam islam, yaitu perjanjian hudaibiyah. Berawal dari mimpi Rasulullah yang melihat dirinya berasama para sahabat memasuki masjidil haram, mengambil kunci ka’bah, melaksanakan thawaf dan umrah. Terilhami dari mimpi tersebut Rasulullah bersama para sahabat yang berjumlah 1400-1500 orang berangkat ke makkah tanpa membawa senjata, tujuan mereka adalah thawaf dan umroh.

Niat Rasulullah dan para sahabat untuk melaksanakan umroh ternyata dihalangi oleh kafir Quraisy. disini saya tidak akan bercerita tentang peristiwa panjang sebab terjadinya perjanjian hudaibiyah atau isi dari perjanjian tersebut, namun saya mengajak kita melihat proses penulisan dari perjanjian hudaibiyah antara Rasulullah dengan kaum kafir quraisy yang diwakili oleh suhail.

Ketika telah  disepakati butir-butir perjanjian antara Rasulullah dan kafir quraisy, Rasulullah meminta Ali bin Abi Thalib ra untuk menulis butir-butir perjanjian tersebut dan beliau sendiri yang mendiktekannya.

Ketika Rasulullah mendikte kepada Ali kalimat “Bismillahir rahmanir rahim”. Suhail langsung menyela “tentang Ar-Rahman, demi Allah aku tidak tahu siapa dia. Karena itu, tulislah ‘Bismika Allahumma”.

Kira-kira bagaiman sikap Rasulullah? Apakah Rasulullah tetap bertahan dan tetap bersikukuh menulis kalimat “Bismillahir rahmanir rahim”, atau Rasulullah mengikuti kemaun kafir Quraisy untuk menggantinya dengan kalimat “ Bismika Allahumma”?. ternyata Rasulullah memerintahkan Ali menghapus kalimat “Bismillahir rahmanir rahim” dan menggantikannya dengan kalimat yang diperintahkan suhail. Pada saat itu sahabat sangat emosi dan meminta Rasulullah tetap menulis kalimat “Bismillahir rahmanir rahim”, namun Rasulullah tetap mengikuti permntaan kafir quraisy.

Kemudian Rasulullah kembali memerintahkan Ali menulis kalimat “ini adalah perjanjian yang ditetapkan oleh Muthammad Rasulullah (utusan Allah)”. suhail kembali menyela, “kalau kami mengakui bahwa engkau adalah Rasulullah (utusan Allah), tentu kami tidak akan menghalangimu untuk memasuki masjidil haram, kami juga tidak akan memerangimu. Tapi tulislah “Muhammad bin Abdullah”.

Rasulullah kembali mengikuti perintah suhail dan menghapus kata “Rasulullah” dibelakang nama Beliau, dan menggantinya dengan kata “bin Adbdullah”. Para sahabatpun kembali emosi. kita bisa membayangkan dan merasakan perasaan para sahabat pada waktu itu, bagaimana gelar yang agung itu harus di hapus.

Ada pelajaran yang sangat berharga dari kisah ini, Rasulullah berkenan menghapus kata “Ar-Rahman  dan Ar-Rahim” dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh kafir quraisy, sama-sama kita pahami kalimat ini adalah kalimat mulia dan agung, merupakan bagian dari nama-nama Allah (asmaul husna) dan sifatnya Allah, tapi Rasulullah menghapus mengganti kalimat ini. Begitu juga Rasulullah rela menghapus gelar mulia dibelakang namanya dan menuruti permintaan suhai utusan kafir quraisy. Sekali lagi saya tekankan, ini kalimat agung, dan Rasulullah bersedia menghapusnya.

Lalu apakah Rasulullah dikatakan lebih tunduk dengan kafir quraisy dibandingkan dengan Allah yang Maha Besar? apakah Rasulullah lebih mengikuti perintah/hukum kafir quraisy dibanding mengikuti perintah/hukum Allah? apakah Rasulullah tidak berhukum dengan hukum Allah? apakah Rasulullah dikatakan sekuler karena mengikuti aturan orang kafir dan tidak mengikuti hukum agama yang seharusnya?

Tentu tidak, bahkan sangat tidak pantas kalimat tersebut ditujukan kepada Rasulullah. Salah satu sifat Rasulullah adalah fathonah (cerdas), Rasulullah paham bahwa ada tujuan besar yang harus dicapai dibalik ini semua, Rasulullah paham ini hanya sebuah strategi untuk mewujudkan kemenangan islam.

Perjanjian ini menyadarkan kita bahwa Rasulullah mengajarkan kita kalau perjuangan itu butuh tahapan, butuh waktu, dan butuh perjuangan yang tidak instan dan frontal. Adakalanya kita Rasulullah mengikuti aturan orang kafir, dan Rasulullah bersabar sejenak demi tujuan yang lebih besar.

Inilah salah satu pelajaran berharga dari perjanjian hudaibiyah yang bisa kita petik, dan harus diyakini setiap perjalanan hidup Rasulullah itu adalah pelajaran yang harus diambil oleh umatnya. Teruslah berjuang untuk kejayaan islam.

Insya Allah bersambung......



*Ahmad Sholahudin, Sang Faqir dan Dhoif. Jakarta, Kamis 7 Juni 2013. 

0 komentar:

Posting Komentar