Pages

Kamis, 20 Juni 2013

Hukum Jatuh Cinta Dalam Pandangan Islam Dan Bagaimana Mengelola Rasa Cinta


Masalah perasaan cinta sebuah tema yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Karena saya berpikir masalah ini tidak terlalu urgen untuk dijadikan sebuah tulisan, dan saya tidak mau disibukkan dengan masalah seperti ini.

Namun seiring waktu, saya merasakan masalah ini sesuatu yang penting untuk ditulis. Hampir setiap saya mengisi mentoring/liqo pekanan (terutama untuk kader pemula), masalah ini hampir tidak pernah absen menjadi bahasan yang didiskusikan/ditanyakan. Begitu juga saat mengisi materi dalam beberapa agenda, masalah ini cukup sering menjadi bahan pertanyaan peserta. Dan saya juga sangat sering menerima SMS dan pesan facebook dari ikhwah dan sahabat lainnya yang bertanya tentang masalah yang ini.

Saya sebenarnya merasa belum pantas untuk menulis masalah ini, karena masalah ini seharusnya ditulis oleh orang yang yang memang mampu menjaga dan menata hatinya dengan baik terkait masalah ini. Dan saya bukanlah orang yang mampu menjaga dan menata hati dengan baik, masih ada perasaan yang seharusnya tidak boleh ada yang masih menghinggapi hati ini. Tulisan ini hanya bentuk usaha untuk saling berbagi dan saling mengingatkan diantara sesama muslim, terlebih mengingatkan diri saya sendiri.

Saya sering mengartikan “jatuh cinta” ini dengan kata “kecendrungan”, jatuh cinta adalah kecendrungan terhadap sesuatu melebihi dari yang  lainnya. Jika seorang laki-laki jatuh cinta kepada seorang perempuan, artinya ia mempunyai kecendrungan kepada perempuan tersebuan tersebut melebihi perempuan lainnya.

Lalu Bagaimana Islam Memandang Masalah Kecendrungan Ini?
Kecendrungan terhadap lawan jenis merupakan fitrah setiap manusia, islam adalah agama yang tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia, maka islam tidak pernah melarang dan menganggap sebuah dosa rasa kecendrungan/rasa jatuh cinta kepada lawan jenis. Maka hukum asal dari jatuh cinta adalah boleh/mubah, namun selanjutnya ia menjadi boleh atau dilarang (berdosa) tergantung dengan penyikapan atau bagaimana mengelola rasa itu setelah rasa itu muncul.

Al-Quran menerangkan bahwa rasa kecendrungan/jatuh cinta merupakan fitrah dasar manusia.
“dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita, .... (QS. Ali Imran: 14).

Fitrah manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dilarang, juga tidak bisa dihalang-halangi datangnya, karena ia merupakan rasa yang timbul secara alami pada diri manusia. Fitrah manusia merupaka sesuatu yang diciptakan Allah sedari awal penciptaan manusia, ini disebut dengan sunnatullah. Melarang munculnya sunnatullah merupakan sesuatu yang tidak mungkin.

Maka, tidak ada dosa bagi seseorang mempunyai kecendrungan terhadap lawan jenisnya, suka dan cinta yang tumbuh dalam dirinya secara natural.

Yang menjadi masalah/dosa bukan rasa kecendrungan itu, tapi penyikapan atau pengelolaan rasa kecendrungan tersebut. Ia akan menjadi salah jika dikelola dengan salah, dan ia akan menjadi benar ketika dikelola dengan benar, bahkan ia mendatangkan pahala jika dikelola sesuai dengan syariat. Maka yang terpenting bukan masalah jatuh cintanya, tapi bagaimana mengelola rasa jatuh cinta tersebut saat ia muncul.

Jika tiba-tiba muncul rasa kagum pada seorang lawan jenis, kemudian sedikit demikit sedikit secara tidak sadar muncul perasaan suka, maka kelolalah ia dengan benar. Jika rasa itu muncul, kemudia rasa itu terus kita turuti sehingga perasaan itu kita ungkapkan kepada orang kita cendrungi, selanjutnya terkalinlah Hubungan Tanpa Status (HTS)/Pacaran, maka ini adalah pengelolaan yang salah.

Secara umum, ada dua macam bagaimana mengelola kencendrungan dengan benar sehingga tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang syariat:
1.      Saat rasa suka itu muncul, dan pada saat itu kita sudah siap untuk menikah, maka silahkan ungkapkan rasa itu dengan wanita/pria yang kita sukai, silahkan lansung lamar dia dengan cara dan proses yang syar’i.
Ini adalah pengelolaan rasa cinta yang terbaik, yang paling dianjurkan. Bukan dosa yang didapat, tapi insya Allah mendatangkan kebaikan/pahala dari Allah Swt.
2.      Saat rasa itu muncul, namun kita pada kondisi belum siap untuk menikah, maka jangan sekali-kali memperturuti perasaan ini, apalagi sampai melanggar aturan syar’i. Berjuanglah melawan rasa ini dengan maksimal. Mungkin langkah-langkah ini cukup membantu dalam mengelola perasaan ini:
  • Kurangi interaksi dengan si dia, karena biasanya rasa itu muncul seiring dengan seringnya interaksi.
  • Kurangi komunikasi melalui sosial media, atau anda bisa membatasi diri untuk berselancar di dunia sosial media. Sosial media ini cukup berbahaya dan cukup banyak memakan korban. Sosial media punya pengaruh yang cukup besar melahirkan rasa ini.
  • Kurangi kontak SMS atau  telponan, bahkan jika bisa stop sama sekali.
  • Jika memungkinkan, stop interaksi dengan dia secara total sampai rasa itu hilang, hapus Nomor Hp nya dan putus hubungan di sosial media. Insya Allah ini sangat membantu melupakan dia.
  • Kurangi menyebut dia, baik dalam tulisan buku harian atau ngobrol dengan teman. Juga hindari bergurau tentang dia dengan teman
  • Sibukkanlah diri dengan kegiatan yang bermanfaat.
  • Tentukan kriteria calon istri/suami yang lebih tinggi dari sosok yang kita sukai/cintai, sehingga rasa suka kita berkurang karena dia belum sesuai dengan kriteria calon istri/suami yang kita inginkan.
  • Yakinlah jodoh sudah disiapkan Allah, dan berdoalah supaya diberikan yang lebih baik.
  • Berdoalah supaya rasa itu dihilangkan Allah dari hati kita, berdoalah supaya Allah memberi jalan yang trbaik.

Walaupun rasa rasa jatuh cinta bukan sesuatu yang dilarang, tapi kita harus tetap berhati-hati dengan rasa ini, karena banyak orang yang terjatuh kelembah maksiat disebabkan oleh rasa ini, karena gagal mengelolanya dengan benar.

Walaupun rasa ini bukan sesuatu yang haram (awal dan asalnya), tapi perasaan ini tetap tidak boleh terlalu lama bersemayam di hati kita tanpa ikatan yang sah dan halal. Rasa ini harus diatasi secepat mungkin.

Saat rasa itu datang, itu bukan suatu kesalahan.
Tapi  membiarkan di hati berlarut-larut, apalagi sampai memperturutinya, maka ini kesalahan besar.

Kecendrunan ini adalah sesuatu yang dibolehkan, tapi harus diwaspadai.Hukum Jatuh Cinta Dalam Pandangan Islam Dan Bagaimana Mengelola Rasa Cita

Masalah perasaan cinta sebuah tema yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Karena saya berpikir masalah ini tidak terlalu urgen untuk dijadikan sebuah tulisan, dan saya tidak mau disibukkan dengan masalah seperti ini.

Namun seiring waktu, saya merasakan masalah ini sesuatu yang penting untuk ditulis. Hampir setiap saya mengisi mentoring/liqo pekanan (terutama untuk kader pemula), masalah ini hampir tidak pernah absen menjadi bahasan yang didiskusikan/ditanyakan. Begitu juga saat mengisi materi dalam beberapa agenda, masalah ini cukup sering menjadi bahan pertanyaan peserta. Dan saya juga sangat sering menerima SMS dan pesan facebook dari ikhwah dan sahabat lainnya yang bertanya tentang masalah yang ini.

Saya sebenarnya merasa belum pantas untuk menulis masalah ini, karena masalah ini seharusnya ditulis oleh orang yang yang memang mampu menjaga dan menata hatinya dengan baik terkait masalah ini. Dan saya bukanlah orang yang mampu menjaga dan menata hati dengan baik, masih ada perasaan yang seharusnya tidak boleh ada yang masih menghinggapi hati ini. Tulisan ini hanya bentuk usaha untuk saling berbagi dan saling mengingatkan diantara sesama muslim, terlebih mengingatkan diri saya sendiri.

Saya sering mengartikan “jatuh cinta” ini dengan kata “kecendrungan”, jatuh cinta adalah kecendrungan terhadap sesuatu melebihi dari yang  lainnya. Jika seorang laki-laki jatuh cinta kepada seorang perempuan, artinya ia mempunyai kecendrungan kepada perempuan tersebuan tersebut melebihi perempuan lainnya.

Lalu Bagaimana Islam Memandang Masalah Kecendrungan Ini?
Kecendrungan terhadap lawan jenis merupakan fitrah setiap manusia, islam adalah agama yang tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia, maka islam tidak pernah melarang dan menganggap sebuah dosa rasa kecendrungan/rasa jatuh cinta kepada lawan jenis. Maka hukum asal dari jatuh cinta adalah boleh/mubah, namun selanjutnya ia menjadi boleh atau dilarang (berdosa) tergantung dengan penyikapan atau bagaimana mengelola rasa itu setelah rasa itu muncul.

Al-Quran menerangkan bahwa rasa kecendrungan/jatuh cinta merupakan fitrah dasar manusia.
“dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita, .... (QS. Ali Imran: 14).

Fitrah manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dilarang, juga tidak bisa dihalang-halangi datangnya, karena ia merupakan rasa yang timbul secara alami pada diri manusia. Fitrah manusia merupaka sesuatu yang diciptakan Allah sedari awal penciptaan manusia, ini disebut dengan sunnatullah. Melarang munculnya sunnatullah merupakan sesuatu yang tidak mungkin.

Maka, tidak ada dosa bagi seseorang mempunyai kecendrungan terhadap lawan jenisnya, suka dan cinta yang tumbuh dalam dirinya secara natural.

Yang menjadi masalah/dosa bukan rasa kecendrungan itu, tapi penyikapan atau pengelolaan rasa kecendrungan tersebut. Ia akan menjadi salah jika dikelola dengan salah, dan ia akan menjadi benar ketika dikelola dengan benar, bahkan ia mendatangkan pahala jika dikelola sesuai dengan syariat. Maka yang terpenting bukan masalah jatuh cintanya, tapi bagaimana mengelola rasa jatuh cinta tersebut saat ia muncul.

Jika tiba-tiba muncul rasa kagum pada seorang lawan jenis, kemudian sedikit demikit sedikit secara tidak sadar muncul perasaan suka, maka kelolalah ia dengan benar. Jika rasa itu muncul, kemudia rasa itu terus kita turuti sehingga perasaan itu kita ungkapkan kepada orang kita cendrungi, selanjutnya terkalinlah Hubungan Tanpa Status (HTS)/Pacaran, maka ini adalah pengelolaan yang salah.

Secara umum, ada dua macam bagaimana mengelola kencendrungan dengan benar sehingga tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang syariat:
1.      Saat rasa suka itu muncul, dan pada saat itu kita sudah siap untuk menikah, maka silahkan ungkapkan rasa itu dengan wanita/pria yang kita sukai, silahkan lansung lamar dia dengan cara dan proses yang syar’i.
Ini adalah pengelolaan rasa cinta yang terbaik, yang paling dianjurkan. Bukan dosa yang didapat, tapi insya Allah mendatangkan kebaikan/pahala dari Allah Swt.
2.      Saat rasa itu muncul, namun kita pada kondisi belum siap untuk menikah, maka jangan sekali-kali memperturuti perasaan ini, apalagi sampai melanggar aturan syar’i. Berjuanglah melawan rasa ini dengan maksimal. Mungkin langkah-langkah ini cukup membantu dalam mengelola perasaan ini:
  • Kurangi interaksi dengan si dia, karena biasanya rasa itu muncul seiring dengan seringnya interaksi.
  • Kurangi komunikasi melalui sosial media, atau anda bisa membatasi diri untuk berselancar di dunia sosial media. Sosial media ini cukup berbahaya dan cukup banyak memakan korban. Sosial media punya pengaruh yang cukup besar melahirkan rasa ini.
  • Kurangi kontak SMS atau  telponan, bahkan jika bisa stop sama sekali.
  • Jika memungkinkan, stop interaksi dengan dia secara total sampai rasa itu hilang, hapus Nomor Hp nya dan putus hubungan di sosial media. Insya Allah ini sangat membantu melupakan dia.
  • Kurangi menyebut dia, baik dalam tulisan buku harian atau ngobrol dengan teman. Juga hindari bergurau tentang dia dengan teman
  • Sibukkanlah diri dengan kegiatan yang bermanfaat.
  • Tentukan kriteria calon istri/suami yang lebih tinggi dari sosok yang kita sukai/cintai, sehingga rasa suka kita berkurang karena dia belum sesuai dengan kriteria calon istri/suami yang kita inginkan.
  • Yakinlah jodoh sudah disiapkan Allah, dan berdoalah supaya diberikan yang lebih baik.
  • Berdoalah supaya rasa itu dihilangkan Allah dari hati kita, berdoalah supaya Allah memberi jalan yang trbaik.

Walaupun rasa rasa jatuh cinta bukan sesuatu yang dilarang, tapi kita harus tetap berhati-hati dengan rasa ini, karena banyak orang yang terjatuh kelembah maksiat disebabkan oleh rasa ini, karena gagal mengelolanya dengan benar.

Walaupun rasa ini bukan sesuatu yang haram (awal dan asalnya), tapi perasaan ini tetap tidak boleh terlalu lama bersemayam di hati kita tanpa ikatan yang sah dan halal. Rasa ini harus diatasi secepat mungkin.

Saat rasa itu datang, itu bukan suatu kesalahan.
Tapi  membiarkan di hati berlarut-larut, apalagi sampai memperturutinya, maka ini kesalahan besar.
Kecendrunan ini adalah sesuatu yang dibolehkan, tapi harus diwaspadai.

35 komentar:

  1. ini aku suka bgt serius
    aku masukin ini via twiter siapapun yang nulis good bgt yah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penulis menganggap ini fitrah yang berbahaya, karena anda belum mampu menatanya dan juga belum siap untuk menikah
      Rasa cinta itu datangnya dari Allah SWT, dan merupakan suatu berkah, akan indah jika rasa itu dinikmati dengan cara islam, yaitu dgn menikah
      Anda sudah tau, tapi tidak melaksanakan, jangan main-main, dan jangan coba2 menyakiti perasaan orang

      Hapus
  2. Bagaimana jika ada sebuah reuni bersama dan kemungkinan akan bertemu si dia akan lebih besar dan seketika rasa itu dengan alaminya muncul , jika tidak ikut reuni , nanti dikira tidak mau menjalin silahturahmi antar teman , lalu bagaimana solusinya , mohon bantuaanya , trimss ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. waahh kyknya situasi reuni spt itu bisa membangkitkan rasa yg dulu pernah ada, ciee..
      hmm,, kalo aku di situasi kamu aku juga g bisa jamin perasaan ke dia bisa tertutupi, tpi mungkin kita bisa coba beberapa cara berikut:
      1. tetap menjaga pandangan (ghodul bashor)
      2. Tidak berinteraksi dalam hal2 yg tidak perlu
      (setau saya dalam syariat Islam, laki2 dan perempuan hanya boleh berinteraksi dalam 4 hal: pendidikan, muamalah, kesehatan, dan hukum-politik. selebihnya tidak boleh, akhii/ukhtii..
      3. Hati tetap terikat pada Allah karena Allah lah yg maha membolak-balikkan hati. Berdoa saja padanya, insyaAllah dimudahkan untuk bisa 'move on' dari sidoi dan perlahan menghapus rasa yg dulu pernah ada tsb

      wallahu'alam bishawab

      Hapus
  3. Tulisan yg bagus sangat. Beri saya motivasi. Iya nggak melayankan perasaan kpd seorg yg belum tentu halal buat kita. Tuhan saja yg tau jodoh terbaik utk kita. Makasih. Nasihat terbaik tentang isu ada di blog ini ...

    BalasHapus
  4. jika memang belum siap untuk menikah,, apakah kita harus memendam perasaan itu dulu?? sungguh nyakit,, semoga Allah memberi petunjuk,,,

    salam,,, tulisannya bermanfaat,,,

    BalasHapus
  5. Mas, jika perasaan itu ada justru setelah terpisah, walaupun setelah perpisahan itu tidak ada kontak telp, sms, foto, media sosial ataupun ketemuan tetapi perasan itu tetap masih ada sampai saat ini sudah hampir mau 2 tahun. Sekuat tenaga saya selalu coba untuk lupakan, tapi akhirnya saya tetap kembali. Segala kekurangan dan kelebihannya tidak membuat perasaan saya berubah, yang saya ingat adalah kebaikan pribadinya yang justru membuat saya semakin kuat perasaannya, sudah saya berdoa untuk dihilangkan perasaan ini jika memang bukan dia jodoh yang terbaik yang Allah swt takdirkan untuk saya, tapi perasaan ini tetap juga masih ada, dia mampu merubah saya jadi lebih baik dalam hal ketakwaan kepada Allah swt, saya harus bagaimana??? Mohon sarannya, terima kasih...

    BalasHapus
  6. bagus sekali tulisannya mas,, akumerasa tergugah,, aku salah menyikapi tentang sesungguhnya cinta itu,, aku harus berubah,,

    BalasHapus
  7. bagus dan sangat bermanfaat tulisan nya..

    BalasHapus
  8. izin share di fb ya pak :)

    BalasHapus
  9. great.
    Harus berubah, dan jadi yang lebih baik.
    bermanfaat, smoga kta trmsuk org2 yg brda di jalan yg benar dn mmperoleh keberuntungn.
    Amien..

    BalasHapus
  10. Aku selalu mengingat dia...
    Senyuman yang selalu membuatku mengingatnya.... aku jatuh cinta....
    Tetapi ketika aku mengingat kita berbeda keyakinan, ras, status.... aku mulai tak berdaya..... apa yang harus aku lakukan.... aku memang menuliskannya di buku diaryku, itu karena aku ingin mengungkapkan perasaanku... meskipun dia tidak dapat membacanya... kesibukan telah aku lakukan.... usaha terakhir yang aku lakukan adalah sholat istiqarah meminta petunjuk kepada Alloh.... apa yang harus aku lakukan dengan hatiku ini...

    BalasHapus
  11. sungguh tulisan ini sesuatu yang benar

    BalasHapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  13. ;( sedih, banyak larangan dalam islam tp ini kebaikan untuk kita sih, ane yang kurang tegas ini ;(

    BalasHapus
  14. ,bagus,
    semoga alloh selalu memberi kekuatan kepada kita dalam menghadapi segala problema,,

    BalasHapus
  15. alhmmdulilah dapet ilmu baru. trima kasih

    BalasHapus
  16. baru pertama kalinya ngerasain yang kaya gini tapi insayaallah berusaha untuk mengendalikannya..........ya Allah berikanlah hamba yang terbaik menurut engkau

    BalasHapus
  17. Gak semudAh itu

    BalasHapus
  18. saya pernah baca sekilas, bahwa cintailah orang yang bisa membuat kita mengingat Allah, bagi yang tau mohon infonya ya surat apa dan ayat berapa?

    BalasHapus
  19. tambahan, bagi yang tau mohon email ke yudhapermadya@gmail.com semoga menjadi amal bagi yang ikhlas memberi pengetahuannya. amiin

    BalasHapus
  20. Jatuh cinta antara manusia itu kmusrikan,,jatuh cinta terhadap allah swt kmuliaan??
    Rasa cinta itu datangnya dari iblis yg brsarang d hati untuk mngahalangi-halangi manusia mngingat allah swt!
    Cinta dpt dkatagorikn cinta itu virus rohani,,cinta itu bakteri jiwa,,cinta itu kuman hati

    BalasHapus
  21. Alhamdulillah tulisann yang sangat bermanfaat. Ijin repost :)

    BalasHapus
  22. Wah bagus.. Thx buat penulis . Jadi lebih tenang dan mengerti B-) !!!

    BalasHapus
  23. Terimakasih atas tulisannya pak,sangat mnggugah dan bermanfaat...tulisan ini mnjawab sekelumit rasa pnasaran saya ttng bgaimna jatuh cinta dan mnghadapiny dalam islam

    BalasHapus
  24. Pak izin share k fb y...

    BalasHapus
  25. Ini sangat bermanfaat walaupun peraturan dalam islam seperti pencara tapi yakinlah diakhirat kita akan mendapatkan kebahagian insyAllah

    BalasHapus
  26. Kan kita butuh ta'aruf untuk mengenal lebih dalam tentang wanita yang dicintai..
    Bagaimana bisa mengenal tanpa berkomunikasi dengannya?

    BalasHapus
  27. keren banget

    bagus sekali tulisannya mas,, akumerasa tergugah,, aku salah menyikapi tentang sesungguhnya cinta itu,, aku harus berubah,,

    BalasHapus
  28. Bagaimana kalau 1 kerjaan tidak mungkinlah kiTa harus putus bicara dngan wanita tsb,tolong bntuannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika terdapat masalah/perkara cinta tersebut di satu lokasi yang tidak memungkinkan kita diam dan putus komunikasi. Maka sikap kita yang tepat dan benar adalah tetap berinteraksi sesuai porsi dengan kebutuhan. Namun diposisi seperti in terdapat dua lawan jenis yang bukan makhrum. Hal yg harus dilakukan lebih baik bicara seperlunya sehingga terhindarnya kontak berdua yang memungkinkan timbulnya zina serta munculnya kembali rasa/syahwat tersebut. Dan berdoalah kepada Allah subhana wata'ala untuk dihilangkan rasa tersebut. Serta perbaiki diri untuk jadi lebih baik lagi. Obati hati tersebut dengan ilmu dan iman. Jika tidak bisa juga tidak ada lagi selain mengutarakan perasaan tersebut dengan niat dan tujuan menikah bukan pacaran. Sehingga daripadanya kita mengetahui dan mendapat kejelasan. Tidak baik pula disembunyikan karena akan tertutup pintu hati untuk orang lain. Keluar lah dalam bingkai tersebut.
      Allahuallam. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  29. jazakallah khair :)
    menengkan, sedang butuh nasihat tentang ini.

    BalasHapus
  30. Tapi apakah salah jika kita mengungkapkannya kepada wanita/pria yg di sukai ... kalau tidak,lantas apa yang harus di lakukan ... apakah saya harus memendam perasaan ini dan melupakan hal yang jelas-jelas memakan hati sedikit demi sedikit ? ... karna saya adalah tipe orang yg tidak mudah jatuh cinta

    BalasHapus