Pages

Selasa, 18 Desember 2012

JANGAN TERPERDAYA DENGAN ORANG KAFIR, ISLAM UMAT TERBAIK



Jika kita merenungi Al-Quran, maka sebenarnya ia telah menjawab setiap permasalahan yang telah, sedang, dan yang akan terjadi. Ini menunjukkan Al-Quran memang benar sebagai kitab suci yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Mengetahui, bukan buatan Muhammad sebagai seorang manusia.

Jika kita membaca Al-Quran (dengan diikuti perenungan) pasti kita akan selalu mendapatkan hal (inspirasi) baru dan akan membuat kita semakin takjub dan kagum dengan Al-Quran. Saya juga baru merasakan hal itu, membaca dengan tidak sekedar membaca. Semoga Allah semakin membuat kita dekat dengan Al-Quran.

Kekaguman/kegandrungan terhadap budaya barat (yang identik orang-orang/budaya kafir) yang melanda umat islam saat ini sudah pada tahap yang cukup memprihatinkan. Kekaguman terhadap orang-orang/budaya kafir merambah kesemua hal, mulai dari pemikiran, budaya, mode, musik, film, dan hal-hal lainnya yang berbau kebarat-baratan. Disinilah menakjubnya Al-Quran, jauh-jauh hari Al-Quran sudah mengingatkan umat islam terhadap kondisi ini. Dalam QS. Ali-Imran: 196 Allah berfirman:
“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) diseluruh negeri. (QS. Ali-Imran: 193)

Al-Quran sudah mengingatkan umat islam untuk tidak terperdaya dan kagum yang berlebihan terhadap orang-orang kafir. Pada dasarnya, mengambil manfaat dari mereka orang-orang kafir dari segi ilmu atau lainnya boleh-boleh saja selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat. Namun kondisi saat ini, pada umumnya hal yang dicontoh rata-rata hal yang tidak sesuai denan ajaran islam. Padahal Rasulullah pernah bersabda bahwa siapa yang menyerupai suatu kaum/golongan maka ia sama ia termasuk kaum/golongan tersebut. (HR. Abu Dawud)

Diakui bahwa budaya barat saat ini menjadi kiblat dunia, karena memang dari segi ekonomi dan politik mereka lebih unggul dibandingkan negara-negara islam. Tapi Allah telah memberi tahu kepada umat islam bahwa kejayaan mereka sebenarnya hanya sebatas fatamorgana dan bersifat sementara belaka, bahkan sebenarnya mereka sebenarnya dalam keadaan yang sangat merugi. Didalam QS. Ali-Imran: 197 Allah berfirman:
“itu hanyalah kesenangan sementara, tempat kembali mereka ialah neraka jahannam. (jahannam) itu seburuk-buruk tempat.
(QS.Ali-Imran: 197)

Ayat ini mengajak kepada muslim untuk tidak minder dengan islam dan berlebihan kagum dengan budaya kafir. Kemenangan dan kejayaan sejati itu adalah ketika kita dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga. (QS. Ali-Imran: 185).

Umat islam harus bangga dengan keislamannya, umat islam harus kembali kepada ajaran islam yang agung. Dengan cara sepeerti ini islam pasti akan kembali jaya dan mengungguli budaya barat.

Tidak pantas bagi umat islam untuk tidak bangga dengan keislamannya, tidak pantas umat islam merasa sedih dengan kondisi seperti saat ini, padahal kita adalah umat yang paling tinggi kedudukannya dibandingkan umat lain. Lihat firman Allah ini:
“Dan janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman”.
(QS. Ali-Imran: 139)

Kita umat yang paling tinggi kedudukannya/derajatnya, inilah yang harus ditanam di hati umat islam, sehingga umat islam tidak terperdaya dengan kejayaan orang-orang  kafir saat ini. Rasulullah dalam sebuah hadist juga pernah mengatakan “islam itu tinggi dan tidak yang lebih tinggi darinya”. (HR. Bukhori).

Merupakan sesuatu yang aneh (kurang wajar) jika umat islam sering berputus asa, merasa galau, merasa lemah, dan sifat lainnya yang tidak menunjuk sebagai umat yang unggul. Padahal umat islam memiliki kedudukan yang tinggi, bagaimana mungkin umat yang memiliki kedudukan yang tinggi tapi memiliki sifat seperti itu. Jika kita beriman, maka sifat galau, putus asa, lemah, atau sifat lainnya tidak akan menempel pada umat islam. Kata kunci dalam QS. Ali-Imran: 139 tadi adalah “jika kamu orang beriman.


Catatan: umat islam dituntut berkerja keras untuk mengembali kejayaan islam, menuntut ilmu dan berkarya sebanyak mungkin. Tidak berarti memahami QS. Ali-Imran: 139 dengan merasa puas diri/merasa cukup dengan kondisi umat islam seperti saat ini. Juga bukan berarti kita sibuk menuntut ilmu dan berkarya karena terlalu bersemangatnya untuk mengejar ketertinggalan dari negeri-negeri barata sehingga lupa negeri akhirat. Keseimbanganlah yang dituntut didalam islam. Karena kemangan sejati itu adalah ketika dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga (QS. Ali-imran: 185).

*Ahmad Sholahudin. Jakarta, 18 Desember 2012.

0 komentar:

Posting Komentar