Pages

Minggu, 16 Desember 2012

ISTIRAHAT DIJALAN DAKWAH


ISTIRAHAT DIJALAN DAKWAH

Teruntuk saya pribadi dan para pejuang dakwah:
Jika diantara kita mungkin ada yang berpikir untuk istirahat dijalan dakwah yang kita lalui ini, mari kita sama-sama merenungi ayat ini:

“Dan infakkanlah (harta bendamu) dijalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan (diri sendiri) kedalam kebinasaan dengan tangan sendiri. Dan berbuat baiklah, karena sesugguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Baqarah: 195)

Sekarang mari kita renungi asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ini:
“saat para sahabat berhasil memenangkan peperangan demi peperangan, terbersitlah disebagian mereka untuk berhenti sejenak dalam dakwah dan jihad agar dapat memperbaiki keadaan ekonominya. Langkah itu sangat manusiawi, wajar, dan masuk akal. Namun, Allah memiliki logikanya sendiri, sehingga turunlah ayat ini”. (KH. Iman Santoso, dalam bukunya Nasihat Untuk Qiyadha dan Kader Dakwah).

Mengenai ayat ini, Abu Ayub Al-Anshori ra berkata:
“.... ayat itu turun pada kami, kaum anshor. Ketika Allah telah memuliakan agamaNya dan banyak pengikutnya, kami berkata ‘seandainya kami mengelola harta dan memperbaiki usaha kami’, turunlah ayat ini. Maksud “tahlukah” (menjatuhkan diri dalam kehancuran) adalah tidak berinfak dijalan Allah dan meninggalkan jihad”.

Ikhwah, mungkin ayat ini merupakan tamparan keras bagi kita. ayat ini begitu tegas dan lugas mengecam para pejuang agama Allah yang terbersit dihatinya untuk istirahat – apalagi sampai berhenti – dijalan dakwah. Allah menyatakan orang-orang yang seperti ini menjatuhkan dirinya sendiri dalam kebinasaan/kehancuran melalui tangannya sendiri. Menjatuhkan diri sendiri “dengan tangan” sendiri bisa diartikan kesengajaan para pejuang dakwah menjatuhkan diri mereka sendiri, atau diri mereka sendirilah yang menyebabkan kebinasan bagi diri mereka (bukan karena dibinasakan pihak lain). Artinya, para pejuang dakwah yang berniat istirahat dari dijalan dakwah berarti telah sengaja membinasakan dirinya sendiri atau mereka telah terjatuh dalam kebinasaan karena faktor mereka sendiri.

Bagi orang yang beriman, apakah yang membuatnya merasa lebih sedih dibandingkan ketika mendapat ancaman dari Allah? Kebinasaan/kehancuran dimata dan sisi Allah tentu merupakan perkara yang besar bagi orang yang beriman. Binasa/hancur di dunia saja sangat sedihnya, apalagi binasa di akhirat.

Mungkin terkadang terbersit dibenak kita untuk istirahat sejenak dijalan dakwah, kita merasa telah berkerja dan memberi banyak hal buat dakwah, atau terkadang kita merasa telah berkerja lebih dibandingkan yang lain, atau kita merasa telah lama berada (mengabdi) dijalan dakwah ini, sehingga kita merasa lelah – atau ada yang merasa jenuh dan bosan – dan berniat untuk istirahat.

Para sahabat ra merupakan manusia pilihan yang telah banyak  memberikan kontribusi buat islam, mereka telah mengorbakan harta, raga, jiwa, waktu dan apa saja yang mereka miliki untuk kejayaan islam. Selain Rasulullah, mereka para sahabatlah yang baling berjasa memberikan kontribusi terhadap islam. Jika para sahabat yang telah memberikan banyak kontribusi saja masih dikecam (diberi nperingatan) oleh Allah saat ‘terbersit” diantara merka untuk istirahat sejenak dari berjuang dijalan Allah, apalah lagi kita yang belum memberikan apa-apa terhadap islam lalu sudah bermiat ingin istirahat, sudah berniat ingin berhenti dijalan dakwah. Jika membandingkan kontribusi kita dengan para sahabat, tentu sungguh sangat-sangat jauh sekali. Na’udzubillah, sungguh celaka dan meruginya diri ini.

Cukuplah ayat ini menjadi nasehat dan penyemangat dan semoga Allah memberi keistiqomahan kepada kita dalam menapaki jalan dakwah ini. Amin


*Ahmad Sholahudin. Jakarta, Jumat 14 Desember 2012.


---------------------------- ------------------------- --------------------- ---------------------- ---------

Komentar ustadz/murabbi ketika saya menyampaikan ayat ini, insya Allah sangat bermanfaat:

Komentar beliau: “dalam konteks saat ini, menjatuhkan diri dalam kebinasaan bukan hanya ketika kita terjun dalam bidang ekonomi atau usaha (sehingga melalaikan dakwah), tapi setiap hal/aktivitas yang membuat kita lalai dari dakwah maka itu adalah perbuatan yang menjatuhkan diri dalam kebinasaan. Namun juga bukan berarti kita tidak boleh terjun kedunia usaha dan bisnis atau hal lain yang menunjang ekonomi kita, selama aktivitas tersebut tidak mengganggu kinerja dakwah, bahkan mungkin mampu menunjang kerja dakwah maka kita harus terjun ke ranah tersebut. Semakin bagus ekonomi kita maka semakin besar peluang pahala kita, karena semakin besar infak kita untuk jalan dakwah ini”

0 komentar:

Posting Komentar