Pages

Sabtu, 11 Februari 2012

APAKAH AKU TIDAK BOLEH BERTERIMAKASIH KEPADA DAKWAH? (sebuah renungan)

Masih teringat oleh saya bagaimana kondisi saya dahulu, tepatnya ketika saya masih duduk dibangku SMA. Mungkin tidak jauh berbeda dengan kondisi remaja seusiaku waktu itu, sebuah kondisi yang oleh zaman dianggap wajar.



He he, mungkin tidak ada yang mengira kalau dulu saya seorang perokok aktif, saya sudah mulai aktif merokok sejak masuk SMA. Orang tua saya jelas tidak mengizinkan anaknya merokok, apalagi orang tua tidak merokok, dimarahi karena ketahuan merokok sudah biasa bagi saya.

Ah, dulu merokok masih belum seberapa bagi saya, masih sangat wajar. Saya dulu juga sering ngumpul bareng teman sambil meneguk minuman keras, apalagi ketika ada acara-acara keramaian malam didesaku.

Begitulah saya dulu, hancur. Sebenarnya kejahliyahan saya tidak hanya sebatas minuman keras, saya dulu sebenarnya juga pemakai – ya betul, saya dulu pemakai. Ganja ditempat saya sangat mudah didapatkan, semudah membeli rokok. Saya ingat, terakhir kali saya ngisap disebuah lapangan bola kaki dengan beberapa teman dengan posisi melingkar, padahal siangnya saya harus UAN.

Itulah masa kelam saya, masa ketika saya belum tersentuh nilai-nilai tarbiyah. Astaghfirullah.

Dulu sebelum tarbiyah saya belum mengenal istilah hijab, ghadhul bashor, ikhtilat, khalawat, atau istilah asing lainnya. Bagi saya dahulu pacaran itu kewajiban, bercampur baur dengan teman perempuan itu biasa, pegangan dan bersentuhan hal yang lumrah. Mungkin sama dengan dunia remaja teman-teman semua, remaja yang belum tersentuh hatinya dengan nilai-nilai islam.

Seingat saya, setelah selesai belajar mengaji disekolah, saya tidak pernah lagi mebaca Al-Quran kecuali jika tadarusan. Sholat paling-paling Cuma maghrib, yang namanya Dhuha atau Qiyammullail masih sangat asing. Dalam hari-hari saya sangat jarang ingat dengan Allah, apalagi namanya ibadah.

Tapi Alhamdulillah, duniaku sekarang sudah berbeda, saya sekarang juga orang yang berbeda. Merokok, dan minuman keras adalah masa lalu. Pacaran, khalawat, ikhtilath, sudah kutinggalkan. Saya juga sangat berusaha meningkatkan ibadah kepada Allah.
Saya merasa sangat berterimakasih kepada tarbiyah/dakwah. Tarbiyahlah – dengan hidayah Allah – yang telah mengubah hidupku, tarbiyahlah yang membimbing diriku kejalan yang lebih baik, tarbiyah jugalah yang memperkenalkanku akan kehidupan yang sebenarnya. Tarbiyah mengajak saya untuk lebih mengenal islam, dan dalam tarbiyah saya juga dipertemukan dengan para ikhwah yang menyejukkan. Dunia tarbiyah memberika saya banyak hal.

Dengan semua yang diberikan tarbiyah/dakwah kepada saya? apakah saya akan melupakan semua jasa baiknya kepada saya? apakah saya tidak boleh berterima kasih kepada dakwah? atau apakah tidak ada sedikitpun yang bisa aku berikan kepada dakwah ini?

Saya yakin, ada banyak ikhwan yang dunia masa lalunya tidak jauh berbeda dengan dunia saya dulu. atau juga para akhwat, mungkin sebelum mengenal tarbiyah juga belum menutupi auratnya dengan sempurna, atau bahkan mungkin ada yang belum berjilbab.

Jika ada orang yang berbuat baik kepada kita, maka tentu ada keinginan dalam diri kita untuk membalas kebaikan orang tersebut. Lalu apa kurangnya tarbiyah dalam memberikan kebaikan kepada kita? lalu ucapan terimakasih seperti apa yang bisa kita berkan kepada dakwah?

Saya berusaha untuk mampu memberikan ucapan terimakasih kepada tarbiyah/dakwah ini, memberikan yang terbaik kepadanya karena ia telah memberikan yang terbaik kepada saya. Tidak wajar ketika saya selalu tidak hadir dalam agenda dakwah, tidak pantas kalau saya selalu minta izin dalam berkontribusi dalam dakwah, tidak patut kalau saya selalu mencari enaknya saja dalam dakwah – tidak mau berkorban dijalan dakwah.
Saya kadang bertanya, mana ucapan terimakasih saya kepada dakwah kalau untuk rapat saja saya malas, mana balas jasa saya kepada dakwah kalau saya sendiri kurang aktif dalam kepengurusan dakwah, apa yang telah engkau berikan kepada dakwah ini? Apa ucapan terimakasihmu kepada dakwah?

Berilah ucapan terimakasih terbaik kita kepada dakwah, sisihkanlah waktu ketika masih duduk dibangku kuliah untuk aktif dijalan dakwah. Ketika tamat kuliah, berusahalah untuk tidak begitu saja meninggalkan dakwah, ingatlah untuk berterimakasih kepada dakwah.

Apakah aku tidak boleh berterima kasih kepada dakwah??

(ini adalah cerita/pengalaman salah seorang ikhwan – yang tidak boleh/mau disebutkan namanya, yang kemudian saya tertarik untuk menulisnya sebagai refleksi bagi kita aktivis dakwah, semoga bermanfaat)

*Ahmad sholahudin, mendalo 12 Februari 2012.

0 komentar:

Posting Komentar