Pages

Sabtu, 15 Oktober 2011

Refleksi iman

”Tidaklah kehidupan dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kecuali seperti saat salah seorang di antara kamu mencelupkan jari telunjuknya di samudra lautan, lalu lihatlah yang tersisa di jari telunjuknya itu (itulah dunia).” (HR Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).



Permasalahan iman merupakan permasalahan terpenting seorang muslim, sebab iman menentukan nasib seorang didunia dan akherat. Bahkan kebaikan dunia dan akherat bersandar kepada iman yang benar. Dengan iman seseorang akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akherat serta keselamatan dari segala keburukan dan adzab Allah. Dengan iman seseorang akan mendapatkan pahala besar yang menjadi sebab masuk ke dalam surga dan selamat dari neraka. Lebih dari itu semua, mendapatkan keridhoan Allah Yang Maha kuasa sehingga Dia tidak akan murka kepadanya dan dapat merasakan kelezatan melihat wajah Allah diakherat nanti. Dengan demikian permasalahan ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari kita semua.

Iman merupakan suatu yang sangat dahsyat, sejarah telah membuktikan bagaimana iman mampu merubah hal yang sangat luar biasa yang terkadang diluar nalar berpikir orang biasa. Orang yang telah merazakan lezatnya iman adalah orang yang telah menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.

Mari kita coba melihat sejarah orang-orang yang imannya telah menancap dalam kedalam sanubarinya. Kita melihat bagaimana soorang syahidah pertama umat muslim (sumaiyyah) rela ditombak untuk mempertahankan iman. Karena imanlah bilal bin rabah rela dijemur bak kacang goreng hitam menggosong diatas pasir yang membakar. Deraan cambuk, tindihan batu, pukulan kayu, dan sengat mentari tengah hari yang membakar gores-gores luka meretih adalah menu harian yang disajikan bagi ahli iman.

Karena iman jugalah Khabbab ibn Al-Aratas, pandai besi yang pernah dipanggang hingga cairan tubuhnya memadam bara. Karena iman jugalah Abdullah bin abu bakar ash-shiddiq ra rela menceraikan istrinya atikah bin zaid yang sangat dicintainya yang baru dinikahinya atas permintaan ayahnya karena istrinya membuat ia lalai dari sholat ashar berjamaah.

Karena iman yang mendalam jugalah yang membuat shuhaib ringan melangkah meninggalkan semua usaha yang dulu ia mulai dari nol sebagai imigran di mekkah untuk berhijrah. Subhanallah, sungguh iman mempu merubah semuanya, merasakan manisnya iman membuat orang rela mengorbankan apa saja.

Karena kekuatan iman orang rela bangun dimalam hari diwaktu yang lain masih nyeyak tidur untuk melaksanakan qiyammullail dan bermunajat kepada Allah, walau harus melawan rasa kantuk. Karena kekuatan iman perempuan-perempuan mukmin rela merubah penampilannya yang dulu mengumbar aurat menjadi berpenampilan syar’i dengan menutup seluruh auratnya, walau banyak godaan dan tantangan. Karena kekuatan iman para remaja mukmin tanpa menunggu lama-lama rela memutus hubungan dengan pacarnya ketika ia tersadar bahwa itu salah, walau terasa sangat berat serta godaan yang besar. Karena kekuatan keimanan pulalah orang-orang bisa bersyukur atas nikmat Allah dan bersabar atas semua ujian dan musibah yang menimpa dirinya, walau ujian dan cobat tersebut sangat berat. Kenikmatan iman terkadang membuat orang melakukan sesuatu diluar nalar manusia biasa.

Namun keimanan senantiasa naik turun, Turun naiknya iman sudah merupakan sunnatullah. Saat iman naik, saat itu kita merasakan betapa lezatnya iman itu. Hidup terasa tenang, dada lapang, mata terasa sejuk, pikiran jernih, kata-kata manis, penuh tawakal, ibadah terasa ringan dan nikmat, kadang air mata ikut menetes untuk ikut merasakan kenikmatannya.

Namun, iman bisa turun kalau penjagaannya tidak optimal, karena gerusan kemaksiatan setiap hari pasti dijumpai karena kita tidak hidup sendiri. Tarik-menarik antara keimanan dan kemaksiatan terus akan terjadi. Kita juga akan merasakan bagaimana kondisi jiwa ketika iman dalam kondisi turun (futur). Hidup penuh dengan ketegangan, dada terasa sempit, penuh dengki, mata liar ke sana-kemari, pikiran kotor, kata-kata tidak terkontrol, ibadah terasa berat, penuh kekhawatiran terhadap dunia, takut kehilangan rezeki, dan sifat-sifat buruk lainnya.

Mengapa menjaga iman itu sangat sulit? Sudah tahu dosa tapi sangat sulit menahan diri untuk tidak melakukannya, setelah melakukan menyesal tapi suatu saat terulangi lagi, lalu apa yang harus dilakukan?

Menjaga iman memang sangat sulit, terlebih ketika kita berada dalam kesendirian, seperti dalam hadist nabi yang menyatakan bahwa “serigala hanya akan memakan domba yang keluar sendirian dari kelompoknya”, itulah kenapa Rasulullah menyuruh kita berjamaah. Ketika berjamaah kita akan semakin kuat dan akan ada yang selalu menguatkan kita ketika kita lemah. Kenapa menjaga iman sangat sulit, karena memang para syethan tiada henti-hentinya menggoda, dan syahwat penyebab turunnya iman adalah sesuatu condong kepada duniawi yang kita senangi sehingga butuh kekuatan besar untuk melawan itu semua.

Yang harus dilakukan untuk memantapkan iman, yang pertama adalah berdoa kepada Allah agar Allah memantapkan hati kita diatas keimanan, karena Allah adalah Dzat yang maha membolak-balikkan hati. Kemudian teruslah berkumpul dengan orang-orang shaleh, karena itu akan lebih menjaga kita dan kita akan terinspirasi dari mereka. kemudian sering-seringlah membaca Alquran beserta maknanya, membaca kisah Rasulullah, kisah para sahabat dan para shalafush sholeh, dan masih banyak lagi hal lainnya yang bisa kita lakukan, dan yang terpenting juga selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Rasanya perlunya juga kita mengetahui penyebab turunnya iman, diantara penyebabnya itu adalah karena ketidak pedulian dan melupakan kewajiban, menyepelekan perintah dan larangan Allah, dan bodoh/awam terhadap agama. Penyebab yang berasal dari eksternal karena bujuk rayu syaithan, terperdaya dengan keindahan dunia, dan pergaulan/lingkungan yang kurang baik.

Semoga bermanfaat bagi kita semua, jika terdapat kesalahan dan kekhilafan mohon dimaafkan dan mohon perbaikan dan sarannya, kepada Allahlah kami memohn ampun.

*Ahmad Sholahudin. Jambi, 09 September 2011.

0 komentar:

Posting Komentar