Pages

Sabtu, 15 Oktober 2011

OSPEK/PKK SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN DIRI??

Dari dulu saya punya keinginan besar terkait dengan masa-masa ospek atau sekarang lebih dikenal dengan istilah PKK (Pengenalan Kehidupan Kampus), saya sangat ingin pada saat PKK memang berisi program-program yang membantu mengembangkan kapasitas mahasiswa baru (baik akademik maupun keorganisasian), program yang mendidik, dan membantu mahasiswa baru lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya.


Saya membayangkan – yang juga menjadi keinginan saya – pada saat mahasiswa baru mengikuti PKK tidak ada lagi membawa atribut yang macam-macam, tidak disuruh membawa petai, kaos kaki beda warna, karung, botol, dll. mahasiswa baru cukup memakai pakaian rapi baju putih, celana/rok hitam, memakai sepatu hitam dan memakai almamater. Dengan seperti ini saya yakin akan membuat mahasiswa baru menjadi lebih bangga menjadi seorang mahasiswa, membuat mereka lebih percaya diri, lebih merasa diterima, dan akan berpengaruh pada karakater mereka kedepannya.

Acara-acara PKK pun tidak diisi dengan acara bentakan dan teriakan senior, tiarap dilantai, buka baju, sepatu dikumpulin, dan bentuk perpeloncoan lainnya. Antara mahasiswa lama dengan mahasiswa baru hubungannya bukan dalam bentuk senioritas mutlak yang punya otoritas dan hak membentak dan memperlakukan mahasiswa baru semaunya, tetapi hubungan yang terjalin antara mahasiswa lama dengan mahasiswa baru merupakan hubungan senior sebagai pembimbing.

PKK seharusnya betul-betul dijadikan sebagai sarana bagi mahasiswa baru dalam mengenali lingkungan barunya, dan lingkungan yang diperkenalkan bukanlah lingkungan premanisme dengan bentakannya. PKK memperkenalkan kampus sebagai lingkungan intelektual, sehingga acara-acara dan materi yang ditampilkan betul-betul sebagai penunjang bagi mahasiswa baru untuk menjadi bagian dari lingkungan intelektual/menjadi mahasiswa intelektua, materi yang membuat mereka mampu bersaing dan bersemangat dalam kuliah dan menjadi orang yang luar biasa. Acara PKK bukan hanya mengasah inteletual semata, tapi juga Emosional dan Spritual mahasiswa.

Acara – yang kalau saya nilai – berbentuk premanisme bentak-mentak sampai mengarah kepada fisik sangat tidak baik buat kampus kedepan, karena hal ini akan menyuburkan aksi-aksi premanisme di kampus, karena diawal mereka telah diperkenalkan dengan hal-hal seperti itu. Tapi akan sangat berbeda jika PKK diisi dengan acara-acara yang mendidik dan meningkat intelektual mereka, maka peluang terciptanya iklim kampus yang intelektual jauh lebih besar.

Saya berpendapat senior yang punya hobi membentak dengan gaya premanismenya ada orang yang mencari eksistensi diri atau orang yang ingin eksistensi dirinya diakui, bisa jadi ia berpikir hanya dengan cara seperti itulah eksistensi dirinya akan diakui oleh orang lain, dan kalau memang seperti ini artinya ada yang bermasalah dengan kejiwaan dan cara berpikir.

PKK adalah sebagai sarana pengembangan diri mahasisawa, tapi kapankah itu akan terwujud?????



*Ahmad Sholahudin, Jambi 19 Agustus 2011.

0 komentar:

Posting Komentar