Pages

Sabtu, 15 Oktober 2011

KAMI BUKAN TERORIS

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah: 214)



Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali-Imran: 142).

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. At-Taubah: 16)

Ada banyak cobaan memang dalam menapaki jalan kebenaran, apalagi jalan dakwah yang salah satu karekteristiknya adalah penuh onak dan duri. Dalam menapaki jalan dakwah ini akan ada banyak cobaan dan ujian yang akan menimpa kita, dan akan ada rintangan dan halangan yang menghadang kita.

Kalau kita kembali kepada Al-Qur’an – sebagai pedoman hidup bagi kita – maka cobaan dalam jalan dakwah ini merupakan sebuah sunnatullah, bahkan bisa dikatan tribulasi dalam jalan dakwah sesuatu yang pasti dan dibutuhkan bagi pelaku dakwah. dalam menafsirkan QS. Al-Baqarah: 214, para ulama mengatakan sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap jalan dakwah itu pasti akan menghadapi tribulasi, bahkan tribulasi adalah sebuah bukti dakwah yang haq, karna setiap dakwah yang haq akan mengalami tribulasi. Dari dahulu – pada masa rasul-rasul terdahulu – sampai hari kiamat dakwah yang haq akan mengalamai cobaan dan ujian/tribulasi.

Pada kondisi saat ini contoh kecil dari tribulasi yang kita terima adalah persepsi negatif masyarakat – ma’af, kalau boleh dibilang masyarakat awam – kepada para kader dakwah. persefsi negatif ini tidak terlepas dari peran media – yang merupakan sarana propaganda untuk menyudutkan islam – yang selalu memberitakan isu-isu miring terhadap islam.

Jika kita bertanya kepada mereka kenapa dan apa alasan mereka memberi label teroris kepada kita? Maka yakinlah mereka tidak mempunyai alasan dan dalil yang kuat dan mendasar atas pernyataan mereka tersebut, mereka hanya korban penggiringan opini oleh media.

Ikhwafillah, apakah karena kita orang yang berusaha mengamalkan agama dengan baik sehingga kita dianggaap teroris??? Kalau seperti itu Rasulullah, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan para salaffus sholeh lebih berhak dicap sebagai teroris, karena mereka jauh lebih baik dalam pengamalan agamanya. Lalu kenapa kita dikatakan teroris??

Apakah kita dicap teroris karena kita selalu membawa mushab Al-Qur’an kemanapun kita pergi dan senantiasa membaca Al-Qur’an tiap waktu??? Apakah itu salah???

Atau jangan-jangan kita dikatakan teroris karena kita mengamalkan sunnah dan perintah Rasulullah untuk selalu sholat berjamaah??? Oh tidak, ini sama saja menganggap bahwa perintah dan ajaran Muhammad adalah ajaran teroris, karena ini adalah perintah Beliau.

Atau kita dianggap teroris karena jenggot kita??? Lalu apa yang salah dengan jenggot??? Hanya untuk membunuh lalat saja jenggot tidak mampu, lalu apakah karena itu kita dikatan teroris???

Kalau alasan mereka menganggap kita teroris karena alasan-alasan diatas, maka sama saja mereka menganggap agama islam adalah agama teroris, sunnah Rasul adalah teroris, Al-Qur’an dan Hadist adalah sumber ajaran teroris, Astaghfirullah!!! Kalau seperti ini sama saja mereka menjadi musuh islam, membenci islam dan sunnah Rasul.

Teroris, teroris, dan teroris. Apasih sebenarnya maksud teroris itu? Teroris adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan teror serta ancaman untuk membuat takut dan resah orang lain akibat tindakanya. Lalu apa yang perlu dikhawatirkan dari kita? Apakah kita pernah menebar ancaman? Apakah penampilan kita menyeramkan dan menakutkan? Apakah kita pernah berniat melakukan makar???. Tidak, sekali lagi kita katakan tidak, kita tidak pernah melakukan itu semua. Kita tidak pernah menggunakan senjata, kita tidak pernah latihan perang, kita tidak pernah menyusun strategi teror!!!

Kita memang berjuang untuk islam, karena kita meyakini itu merupakan suatu kewajiban. Tapi kita bukan kelompok ekstrem, kita adalah manuasia intelektual yang lebih mendahulukan menggunakan logika berpikir dibandingkan yang lain. Kita adalah orang yang berpengaruh dan dihormati dilingkungan kita, kita adalah orang-orang yang menduduki posisi penting dan terpandang, dan kita adalah orang disegani.

Hanya orang yang belum tahu siapa sebenarnya kita yang masih berpikiran negatif tentang kita, dan saat ini kewajiban kitalah untuk menjelaskannya kepada mereka, tentunya dengan cara-cara yang intelektual juga dengan sikap kita yang bersahabat. Kita akhiri semua kesalahpahamana tentang kita.

“serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl: 125)



*Ahmad Sholahudin, Lubuk Landai, 30 Juli 2011.

0 komentar:

Posting Komentar