Pages

Sabtu, 15 Oktober 2011

AL-QUR’AN DALAM PANDANGAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH DAN JARINGAN ISLAM LIBERAL

Al-Qur’an adalah produk sejarah yang didalamnya bisa benar dan bisa juga salah, demikianlah sebuah ungkapan yang pernah diucapkan Dawam Raharjo, salah seorang pentolan dari Jaringan Islam Liberal (JIL).



Saat ini banyak pihak yang berusaha menggugat kesucian Al-Qur’an, yang membuat keraguan ditengah umat islam, dan merusak aqidah umat islam. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah meyakini bahwa Al-Quran adalah wahyu Allah, bukan makhluk. Bahkan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengutuk keras dan menganggap telah keluar dari Aqidah yang benar bagi yang beranggapan bahwa Al-Quran adalah makhluk Allah.

Pemikiran-pemikiran yang memprotes kesucian dan kemurnian Al-Quran bukan baru-baru ini saja muncul, tapi sudah muncul dari zaman para ulama salaf dulu. Kita masih ingat kisah ulama besar Imam Ahmad Rahimahullah yang dipenjara dan disiksa hingga wafat – semoga Allah memasukkan beliau kedalam jannahNya – karena dengan tegas menolak untuk mengatakan bahwa Al-Quran itu adalah makhluk.

Saat ini muncul pemikiran – yang mereka menganggap sebagai pemikiran intelektual dan modern – Jaringan Islam Liberal (JIL), dimana mereka menganggap bahwa Al-Quran bukan sebuah kitab suci yang didalamnya semua berisi kebenaran, Al-Qur’an adalah produk sejarah dan produk budaya yang dibuat oleh Muhammad sesuai dengan zamannya pada waktu itu.

Pemikiran – yang pada abad ini – yang dipelopori oleh Nasr Abu Zayd, seorang ulama mesir yang telah divonis kafir oleh ratusan ulama Al-Azhar kini menyebar dikalangan anak-anak muda yang mengaku dirinya intelektual, dan parahnyanya kebanyakan pemikiran ini dimiliki oleh aktivis-aktivis islam, mahasiswa-mahasiswa perguruan islam, dan cendekiawan-cendekiawan islam.

Berikut ini adalah pendapat ulama salaf ahlus sunnah wal jamaah dalam menilai Al-Quran sebagi Kalamullah, bukan makhluk:

1. Syaikh Abu Utsman berkata: "Ashhabul Hadits bersaksi dan berkeyakinan bahwa Al- Qur'an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya dan wahyu yang diturunkan, bukan makhluk. Barangsiapa yang menyatakan dan berkeyakinan bahwa ia makhluk maka kafir menurut pandangan mereka.

Al-Qur'an yang dihafal dalam hati, dibaca oleh lisan, dan ditulis dalam mushaf-mushaf, bagaimanapun caranya Al-qur'an dibaca oleh qari, dilafadzkan oleh seseorang, dihafal oleh hafidz, atau dibaca dimanapun ia dibaca, atau ditulis dalam mushaf-mushaf dan papan catatan anak-anak dan yang lainnya adalah kalamullah-bukan makhluk. Barangsiapa yang beranggapan bahwa ia makhluk, maka telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung.

2. Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata:"Al-Qur'an adalah kalamullah-bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan Al-Qur'an adalah makhluk, maka dia telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung, tidak diterima persaksiannya, tidak dijenguk jika sakit, tidak dishalati jika mati, dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Ia diminta taubat, kalau tidak mau maka dipenggal lehernya.

3. Abu Ishaq bin Ibrahim pernah ditanya tentang lafadz Al-Qur'an, maka Beliau berkata:"Tidak pantas untuk diperdebatkan. 'Al-Qur'an kalamullah-bukan makhluk' "

4. Imam Ahmad bin Hambal berkata:"Orang yang menganggap makhluk lafadz Al-Qur'an adalah Jahmiyah, Allah berfirman:'..maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalamullah' (At-Taubah:6). Dari mana ia mendengar?

5. Abdullah bin Al-Mubarak berkata:"Barangsiapa yang mengkufuri satu huruf Al-Qur'an saja, maka ia kafir (ingkar) dengan Al-Qur'an. Barangsiap yang mengatakan: Saya tidak percaya dengan Al-Qur'an maka ia kafir.

Melihat pendapat dari para ulama salaf ahlus sunnah wal jamaah tersebut maka bagaimana posisi dari pemikiran aktivis-aktivis Jaringan Islam Liberal? Apakah mereka masih disebut islam dengan menggugat kebenaran Al-Qur’an?

Semoga Allah melindungi kita dari pemikiran-pemikiran yang melenceng dari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Amin.





* Ahmad Sholahudin, IGD/Puskesmas Sungai Duren, 09 Mei 2011, Pukul 23:30 WIB.

0 komentar:

Posting Komentar