Pages

Rabu, 11 Mei 2011

PAWANG HUJAN DALAM KACA MATA ISLAM

Assalaamualaykum,,

Semua kita tentu ketika ingin mengadakan suatu acara/kegiatan besar (punya hajatan) menginginkan suasana yang kondisif dan bebas gangguan, baik itu yang bersifat alamiah, tekhnis, maupun hal lainnya. Hujan sebenarnya adalah rahmat dari Allah SWT, namun dalam kondisi tertentu juga bisa menjadi bencana, petaka, dan di anggap sebagai masalah. Ketika ingin mengadakan acara besar seperti mengadakan acara keramaian yang melibatkan masyarakat banyak, acara walimahan/resepsi pernikahan, maupun acara lainnya, hujan bisa di anggap sebagai masalah.
Kalau kita melihat kondisi saat ini, hampir seluruh masyarakat masih sangat percaya dan mengandalkan pawang hujan supaya bisa menahan atau memindahkan hujan ketempat lain agar acara yang diadakannya sukses tidak mengalami gangguan hujan. Mulai dari masayrakat awam, pedesaan, tradisional, sampai pada masyarakat terdidik, berpangkat, masyarakat kota, bahkan juga ada orang yang dikenal paham akan agama.
Sangat penting bagi kita yang muslim dan memiliki aqidah yang benar, dalam segala hal menimbang dengan ajaran islam. Karena bagi kita orang beriman, pasti kita tidak akan bermain-main dengan yang namanya aqidah.
Ayat yang sering kita baca akan Engkau aku menyembah dan akan Engkau aku minta pertolongan (Al-Fatihah: 50) merupakan salah satu pondasi aqidah bagi kita, dimana ayat ini menekankan bahwa hanya Allah lah tempat bagi kita untuk minta pertolongan. Ustadz Sayyid Qutb dalam tafsir Fi Zilalil Qur’annya mengomentari ayat ini “Ini satu lagi 'aqidah pokok yang lahir dari 'aqidah-'aqidah pokok yang lepas yang telah diterangkan dalam surah ini, yaitu 'aqidah tiada 'ibadat melainkan untuk Allah dan tiada permohonan pertolongan melainkan kepada Allah”.

Kemudian juga dalam ayat yang lain Allah berfirman Allah tempat bergantung (QS Al-Ikhlas: 2). Ust Sayyid Qutb dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini “Dialah sahaja yang ditujukan untuk memenuhi hajat-hajat dan Dialah sahaja yang menyahut seruan hamba-hamba-Nya yang mempunyai hajat. Dialah sahaja yang memutuskan segala perkara dengan keizinan-Nya dan tiada siapa yang turut membuat keputusan bersama-sama-Nya”.

Jika kita menimbang kedua ayat diatas dengan permintaan kepada pawang hujan untuk menghentikan atau memindahkan hujan, maka jelas menyalahi ayat ini. Jika ayat ini berisi tentang tuntunan aqidah yang lurus, maka berarti permintaan kepada pawang hujan menyalahi aqidah yang lurus.

Ada mungkin kita yang beralasan bahwa sebenarnya kita juga memohon kepada Allah, pawang hujan hanya menjadis sarana/perantara bagi kita dalam berdoa. Maka komentar ini bisa kita jawab, kenapa kita harus meminta orang lain untuk berdoa? Kenapa tidak kita saja yang langsung berdoa kepada Allah. Bukankah doa kita dengan doa sang pawang sama. Bukan tempat yang kita minta sama, yaitu Allah, atau jangan-jangan permohonan yang disampaikan sang pawang bukan kepada Allah?!.

Kalaupun kita minta didoakan, kenapa meminta doanya tidak kepada para ulama yang sudah jelas aqidahnya. Biasanya ketika menemui pawang, maka ada syarat-syarat yang diminta, maka ini adalah sebuah kejanggalan, karena dalam berdoa Allah tidak meminta apapun, yang meminta syarat-syarat tertentu biasanya adalah para jin, syetan, dan para sekutunya. Kalau memang benar permintaannya kepada makhluk Allah (jin atau syetan), maka sudah jelaslah kesyirikannya.

Dengan kita sangat yakin saja dengan pawang, itu bisa dikhawatirkan jatuh kepada kesyirikan, karena sebenarnya kita percaya akan kekuatan sang pawang. Kita percaya pawang bisa menahan dan memindahkan hujan, ini adalah pikiran yang menyimpang dari aqidah yang lurus.

Hujan adalah sesuatu yang menjadi rahasia Allah dan menjadi ranah kekuasaan Nya, dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda: “Ada lima kunci ghaib yang tidak diketahui seorangpun kecuali Allah: Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang terdapat dalam rahim, tidak ada satu jiwapun yang tahu apa yang akan diperbuatnya esok, tidak ada satu jiwapun yang tahu di bumi mana dia akan mati, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan turunnya hujan.” (HR. Al-Bukhari no. 1039).

Hujan adalah perkara ghaib. Karenanya, barangsiapa yang mengklaim bisa menurunkan hujan atau mengklaim bisa menahan turunnya hujan (pawang hujan) maka dikhwatirkan jatuh kepada kesyirikan berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak yang menjelaskan kafirnya makhluk yang mengklaim mengetahui perkara ghaib.

Lalu bagaimana dengan prediksi cuaca oleh BMKG, maka perlu ditekankan itu bukan berarti mengetahui pasti turunnya hujan, terbukti ada banyak prediksi yang kurang tepat. Bahkan bahasa yang BMKG gunakan adalah Perkiraan Cuaca.

Allah SWT berfirman: “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2). Sebagian ulama seperti penulis tafsir Al Jalalain mengatakan bahwa rahmat yang dimaksudkan di sini adalah rizki dan hujan.

Al Qurthubi mengatakan bahwa sebagian ulama menafsirkan rahmat dalam ayat di atas dengan hujan atau rizki. Mereka mengatakan, “Hujan atau rizki yang Allah datangkan pada mereka, tidak ada satu pun yang dapat menahannya. Jika Allah menahannya untuk turun, maka tidak ada seorang pun yang dapat menurunkan hujan tersebut.”

Seperti yang disampaikan sebelumnya, hujan adalah perkara ghaib, maka selaku orang beriman, kita meyakini hanya Allah yang mengetahui perkara yang ghaib dan manusia/makhluk tidak punya pengetahuan apa-apa tentang yang ghaib. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34).

Karena memang pawang hujan menyalahi aqidah dan tidak luput dari bantuan makhluk halus (jin dan syetan), maka terkadang akan berdampak kepada orang memohon kepada pawang. Bantuan yang diberikan oleh para jin dan syetan tentu tidak gratis. Maka kenapa terkadang kita melihat ketika setelah acara yang didalamnya menggunakan jasa pawang hujan, terdapat sesuatu yang tidak kita inginkan, kita tidak merasa tenang, terjadi perselisihan dengan sesama kita, terjadi permusuhan, atau lebih dari itu. Bahkan yang jauh lebih mahal dari itu semua adalah aqidah kita yang tergadaikan.

Memohon kepada Allah supaya Allah tidak menurunkan hujan ketika kita sedang punya hajat dengan cara dan doa yang benar sesuai dengan tuntunan tentu tidak menjadi masalah. Tapi masalahnya adalah ketika cara yang kita tempuh itu adalah salah.


*Oleh Ahmad Sholahudin, Februari 2011.

6 komentar:

  1. bijaksana sekali ........

    http://caradaftarmemberacemaxs.com/pantangan-penyakit-darah-tinggi/

    http://obatherbalkista.web.id/pantangan-makanan-penyakit-gatal-kulit/

    BalasHapus
  2. tapi ada juga pawang hujan yang jika kita minta pertolongannya katanya insya Allah...kalau Allah mengabulkan do'a kita...saya hanya berusaha sebisa saya...dan pada saat pelasanaannya...kedengarannya waktu mulutnya komat kamit...yang dibacanya juga do'a kepada Allah SWT cuma dalam bahasa daerahnya...bagaimana tuh hukumnya menurut islam...

    BalasHapus