Pages

Rabu, 11 Mei 2011

KETIKA YANG DICINTAI MENINGGALKAN KITA


sudah menjadi sunnatullah apakah kita yang akan mendahului orang yang kita cintai, atau orang yang kita cintai yang akan mendahului kita menghadap Rabbi ilahi. Namun tidaklah terlalu penting siapa yang dahulu, apakah kita atau orang yang kita cintai, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita mempersiapkan diri dan mengingatkan orang-orang yang kita cintai untuk menghadap hal tersebut.
                                                                                        
BAGAIMANA JIKA ORANG YANG KITA CINTAI MENDAHULUI KITA?
Hampir setiap manusia tidak menginginkan ketika harus meninggalkan orang yang kita cintai ataupun ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Lalu bagaiman jika ternyata kita harus mengalami hal tersebut? jika orang yang kita cintai meninggalkan kita maka cara terbaik dalam menyikapinya adalah ikhlas menerimanya dan berusaha memberikan yang terbaik (manfaat). Kita dilarang untuk meratapi orang yang kita cintai, karena bukannya akan memberikan manfaat, tapi malah akan mendatangkan mudharat dan hal itu dilarang oleh agama. Meratap adalah kebiasaan orang-orang jahiliyah zaman dahulu, ketika Rasulullah datang, Beliau melarang hal tersebut. dan  meratap orang yang meninggal adalah perbuatan dosa.

BAGAIMANA JIKA YANG MENDAHULUI KITA ADALAH ORANG TUA KITA?
Kita harus benar-benar ikhlas dalam menyikapi hal ini, karena walaupun kita meratap dan tidak ikhlas, merekapun tidak akan bisa kembali lagi. Selain ikhlas, kita harus menunjukkan dan membuktikan kecintaan kita kepada orang tua kita, yaitu dengan terus memberikan manfaat dan  keuntungan buat mereka.

Dalam hadist riwayat imam muslim, Rasulullah Saw bersabda: apabila mati anak adam maka terputuslah semua amalnya kecuali 3, (yaitu) shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya. (HR. Imam Muslim).

Pada saat orang tua kita mendahului kita, maka sebenarnya pada saat itulah kita benar-benar bisa membuktikan kecintaan kita kepada orang tua kita, apakah cinta kita kepada orang tua kita hanya sebatas dimulut saja atau memang betul-betul cinta yang tulus dan bisa dibuktikan, apakah cinta palsu atau cinta sejati, apakah cinta gombal atau cinta murni. Pada saat orang yang kita cintai telah tiadalah yang akan memperlihatkan sebesar apa kecintaan kita.

Kalau kita mencintai seseorang, pasti kita ingin selalu membahagiakan orang yang kita cintai tersebut dan pasti kita ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang kita cintai tersebut. maka sebagai bukti kalau kita benar-benar mencintai orang tua kita, maka kita harus membahagiakan dan memberikan yang terbaik untuk orang tua kita, kita harus memberikan manfaat kepada mereka. dan ketahuilah, ternyata hanya ada satu cara untuk bisa memberikan kebahagiaan dan manfaat kepada orang tua yang telah menahului kita, yaitu dengan menjadi anak yang sholeh, Tidak ada ada cara lain yang mampu membuat mereka bahagia selain itu.

Maka kalau kita memang mengakui bahwa kita mencintai orang tua kita, maka tiada cara lain untuk membuktikannya kecuali dengan  menjadi anak yang sholeh atau sholehah. Suatu kebohongan besar ketika kita mengatakan cinta kepada orang tua, tapi ternyata kita tidak berusaha untuk menjadi anak yang sholeh/ah. Hanya cinta gombal, cinta palsu, dan cinta dibibir saja ketika kita mengatakan cinta kepada orang tua kita, tapi ternyata kita tidak berusaha menjadi anak yang sholeh/ah.

Kalau saat ini kita malas sholat maka rajinah sholat sebagai bukti kecintaan kita kepada orang tua kita, kalau selama ini kita malas tilawah Qur’an maka rajinlah tilawah Qur’an sebagai bukti kecintaan kita, kalau selama ini kita sering bermaksiat maka tinggalkanlah sebagai bukti kecintaan kita, kalau selama ini kita (untuk sauadari-saudariku muslimah) masih membuka aurat dan belum berjilbab maka berjilbablah sebagai bukti kecintaan kita kepada orang tua kita. Cinta itu butuh bukti, maka buktikanlah kecintaan kita tersebut.

Bukankah setiap cinta itu butuh pengorbanan? maka cinta kepada orang tuapun butuh pengorbanan, dan pengorbanan itu adalah sebuah pengorbanan kearah yang lebih baik. Ini adalah sebuah pengorbanan yang membawa kebahagian dan kebaikan kahirnya bagi diri kita sendiri.

Kalau selama ini kita susah untuk sholat, maka ingatlah kalau kita cinta kepada orang tua kita, kalau selama ini kita malas tilawah Qur’an maka ingatlah kalau kita cinta kepada orang tua kita, kalau saat ini kita masih terbuka auratnya dan belum berjilbab, maka ingatlah kalau kita cinta kepada orang tua kita.

Disinilah masa-masanya kita membuktikan kecintaan kita, menutup aurat dan berjilbab memang berat, tapi ini adalah konsekuensi dari kecintaan dan konsekuensi dari ketaatan dari seorang muslimah. Orangtua akan tersenyum  melihat kita menjadi anak yang sholehah, mereka akan bahagia melihat kita telah menutup aurat dan berilbab, karena ada keuntungan yang terus mengalir kepada mereka.

Menjadi anak yang sholeh/ah merupakan kebahagian baik bagi kita apalagi bagi orang tua kita, dan berubah menjadi anak yang sholeh/ah adalah suatu proses yang mutlak harus kita jalani. Berunbah menjadi baik bukan masalah apakah kita bisa atau tidak, tapi masalahnya adalah apakah kita mau atau tidak. Kalau kita mau, pasti kita bisa menjadi anak yang sholeh/ah.

Anak yang sholeh/ah adalah investasi besar bagi orang tua, walaupun ia telah tiada, namun pahala akan terus mengalir kapadanya. Orang tua yang mana yang tidak bahagia mendapat anak yang sholeh. Orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya tidak bisa menjadi anak yang sholeh, bukannya mnedatangkan manfaat tapi malah mendatangkan kesengsaraan bagi orang tua.
APAKAH KAMU BENAR MENCINTAI ORANG TUAMU? MAKA JADILAH ANAK YANG SHOLEH/AH.


*Ahmad Sholahudin. Desa Setiris, 04 Maret 2011. Tulisan ini dibuat sepulang dari melayat dari rumah orang meninggal, dan tulisan ini terinpirasi dari hal tersebut. semoga bermanfaat bagi kita. Kritik dan saran insya Terbuka buat kami.

0 komentar:

Posting Komentar