Pages

Selasa, 10 Mei 2011

INILAH JALAN DAKWAH KAMI (Bag. 1)


Assalaamu’alaikumk Warahmatullahi Wabarakaatuh.


Ikhwafilah, ini adalah tulisan dari seseorang yang telah merasakan betapa manisnya jalan dakwah ini. Seseorang yang merasa beruntung karena bertemu dan dapat merasakan sebuah kelezatan jamaah dakwah. Jama’ah dakwah yang telah mampu merubah gaya dan jalan hidupnya, jama’ah dakwah yang telah merubah pola pikir dan orientasi hidupnya.

Ya, inilah jama’ah dakwah. Sebuah jama’ah yang menyeru kepada AQIDAH/TAUHID yang benar (sesuai dengan ajaran Rasulullah) sebagai pondasi utama ad-dien ini. sebuah jamaah dakwah  yang mengajak berislam secara kaaffah (tidak parsial). sebuah jamaah dakwah yang didalamnya terhimpun hati-hati yang selalu terikat dengan ikatan ukhuwah islamiah, disini kami merasakan ukhuwah islamiah yang luar biasa, ukhuwah islamiah - yang terkadang – tidak kami dapatkan ditempat lain, sungguh kami merasakan betapa manisnya rasa ukhuwah ini, saksikanlah ya ikhwafillah bahwa ana mencintai antum/na semua karena Allah.
Ikhwafillah, Rasulullah adalah contoh atau uswatun hasanah bagi kita, baik dari aqidah, akhlak, ibadah, apalagi dakwah (QS. Al-Ahzab:33). Namun kita tidak memaknai bahwah meniru dakwah Rasulullah adalah melakukan hal yang sama persis dengan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah dahulu. Namun bukan berarti disini kita tidak menjadikan Rasulullah sebagai rujukan dalam berdakwah, kita tetap mengikuti rambu-rambu dan metode-metode yang telah Rasulullah tetapkan dan lakukan – sebagaimana yang tergambar dalam Al-Qur’an, Hadist, dan Shiroh Nabawiyah.

Ada sebagian da’i/jamaah dakwah yang berpikiran bahwa dakwah harus sama persis dengan apa yang Rasulullah lakukan dulu, mulai dari tahapan sampai pada hal-hal terkecil lainnya. Lalu pertanyaan untuk da’i atau/dakwah golongan ini, apakah kalau memang kita harus sama persis seperti Rasulullah dalam berdakwah, lalu apakah kita baru mulai berdakwah pada usia 40 tahun (karena Rasulullah diangkat jadi Rasul pada usia tersebut)? Apakah  kita sebelum berdakwah harus menjadi orang kaya terlebih dahulu (karena Rasulullah sebelum diangkat menjadi Rasul adalah orang yang sangat kaya)? apakah kita juga perlu melakukan hijrah (hijrah tempat) sebagaimana Rasulullah hijrah? apakah kita juga akan melakukan perang juga sebagaimana Rasulullah beserta sahabat juga berperang? Apakah kita tidak boleh berdakwah lewat handpone karena Rasulullah tidak pernah melakukannya? Apakah kita akan berdakwah selama 23 tahun? Dan masih banyak tentu nya pertanya’an lainnya buat golongan da’i/jamaah dakwah semacam ini. Golongan seperti ini adalah yang menterjemahkan nash-nash secara tekstual saja. 

Ada juga sebagian da’i yang sangat serampangan dalam mengartikan teks-teks nash dakwah, sehingga mereka terkadang keluar dari ketentuan-ketentuan dakwah, mereka berpikiran bebas. Mereka inilah yang dikenal dengan kaum liberal yang lebih mengutamakan logika dibandingkan nash.

Dalam mengambil dalil tentang dakwah, maka kita tidak bisa hanya menterjemahkannya dari tekstual saja sehingga dakwah kita kelihatan sangat kaku, dan kita juga tidak boleh mengartikannya secara serampangan sehingga mengartikannya sesuai dengan logika kita. Namun kita harus mengartikannya Al-Qur’an sesuai dengan ilmunya Alqur’an (ilmu tafsir, hadist, dan ilmu alat).

Sayyid  Quthb dalam buku MA’ALIM FI ATH-THARIQ mengatakan  orang-orang yang mengemukakan berbagai nash Al-Qur’an  tanpa memperhatikan fase-fase yang berkaitan dengannya, maka hasil pemahamannya akan bercampur aduk dan mengaburkan pengertian yang sebenarnya. Sebab, cara pemahaman seperti itu akan melahirkan suatu anggapan bahwa nash itu berdiri sendiri atau kesimpulan terakhir yang tak ada hubungannya dengan masalah yang berkaitan erat.(Ma’alim Fi Ath-Thariq; Sayyid Quthb)

Dalam dakwah – dan dalam islam secara keseluruhan – ada hal-hal yang bersifat tsawabit dan ada yang tergolong mutaghayyirat. Hal-hal yang tsawabit  ini adalah ketentuan yang baku, rigid, tidak boleh dipertentangkan, tidak ada ruang diskusi disana. Ada pula hal-hal yang mengandung prinsip murrunah, keleluasaan. Ia bisa berubah sesuai dengan tuntutan zaman, tuntutan keadaan. (Biarkan dakwah bermetamorfosa; Andree)

Seperti yang sampaikan sebelumnya, sebagian du’at ada yang melebarkan batasan tswabit, sehingga sangat kaku. Hal-hal yang sebenarnya masih debatable diputuskan dengan tegas dan keras. …. Dakwah yang dikelola dengan gaya seperti ini akan menjadi bonsai, indah tapi kecil. Lama-kelamaan, resistensi akan muncul dari dua arah. Pihak eksternal yang seharusnya menjadi objek dakwah lari terbirit-birit atau membuang muka terhadap dakwah, karena telah terpatri dibenak mereka kesan eksklusif dikalangan da’i  ini. Para da’i inipun dijauhi, termarginalkan, teralienasi dari pergaulan sehari-hari. Di sisi lain, kalangan da’i yang bergaul secara homogen dan jarang mengetahui sumber kerusakan umatnya, cendrung  menjadi pribadi penuh kecurigaan. Dari matanya ada pancaran sinis dan tidak percaya, dari mulutnya keluar klaim sesat dan bid’ah. Ia menjaga jarak sejauh-jauhnya dengan umatnya, dan pada saat yang sama syetan datang dan menyanjungnya dengan sebutan generasi ghuraba. Akhirnya, umat menjadi golongan yang rusak dan da’i terpisah dengan mereka dibalik tabir kesucian.

Kita harus memainkan peran kita sebagai ummatan wasathan, menjadi umat pertengahan yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Kita harus berdakwah seperti apa yang disebutkan oleh ust Rahmat Abdullah hayawiyatu ta’shil wa salamatu taghyir (keaslian yang dinamis serta perubahan yang selamat – dari kerancuan dan sikap berlebihh-lebihan). (Biarkan dakwah bermetamorfosa; Andree).

Jamaah dakwah kami adalah jamaah dakwah yang berlandaskan pada al-Qur’an dan hadist, kemudian setelah itu baru ijtihad para ulama. Kami menjadikan Al-Qur’an sebagai prinsip hidup. Ada mungkin golongan yang merasa paling Qur’ani, sehingga terkadang menklaim golongan lain tidak berprinsip pada al-Qur’an. Sekali lagi saya ingin katakan bahwa DAKWAH KAMI ADALAH DAKWAH TAUHID, KAMI MENJADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI LANDASAN DAN PRINSIP HIDUP dan DAKWAHKAMI.
Jamaah dakwah kami adalah jamaah yang ingin menggapai apa yang pernah rasulullah sampaikan, islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari nya. Jamaah dakwah kami adalah jamaah dakwah yang mengikuti tuntunan dakwah Rasulullah – tapi tidak kaku.

Jika ada yang menilai bahwa dakwah kami tidak seperti dakwahnya Rasulullah atau dakwah kami bertentangan dengan dakwah Rasulullah, maka dakwah kami yang seperti apa dan dakwah kami yang mana yang tidak sama dan/atau bertentangan dengan dakwah  Rasulullah tersebut.

Jika ada yang mengatakan bahwa Rasulullah dulu ketika berdakwah tidak tergabung dalam sebuah organisasi, lalu kenapa kalian berdakwah harus tergabung dalam organisasi? Jawabannya adalah, bukankah Allah lebih mencintai orang yang berjihad (berdakwah) membentuk seperti sebuah bangunan yang rapi dan kokoh, artinya dakwah harus terorganisir dan terstruktur. Bukankah juga  ali bin abi thalib ra. Mengatakan kejahatan yang tersusun rapi akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak tersusun dengan rapi. Bukankah Rasulullah dimadinah juga sebenarnya juga membetuk sebuah jama’ah (organisasi) atau bahkan lebih tepat jika dikatan membentuk sebuah Negara islam (sebuah organisasi besar) dan beliau  Saw sendiri sebagai pemimpinnya.

Jika ada yang mengatakan kenapa dakwah harus berpolitik, bukankah Rasulullah dulu tidak berpolitik? Jawabannya adalah, kami adalah jamaah yang menginginkan islam itu kembali sempurna dan paripurna seperti hakikatnya, islam yang melingkupi seluruh aspek kehidupan, dan kami ingin mengangkat kembali kewibawaan islam tersebut. Sungguh orang yang mengatakan islam tidak berpolitik secara tidak langsung  telah mengatakan bahwa islam itu tidak sempurna. Kalau kita lihat Shirah Rasul, maka sebenarnya piagam madinah dan perjanjian hudaibiyah merupakan sebuah gambaran betapa sangat luar biasanya politik Rasulullah. bahkan kalau kita lihat ketika dimadinah, Rasulullah banyak melakukan manuver-manuver politiknya.

Lalu jika ada yang mengatakan bahwa dakwah kami tidak sesuai dengan tahapan/fase, rambu, dan karakteristik dakwah Rasulullah. Untuk menjawab pertayaan ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan mengkaji sirah dengan mendalam. Suatu kajian yang menjelaskan fase-fase dalam sirah nabawiyah beserta rambu-rambu dari setiap fase tersebut. Sebab, sirah nabawiyah adalah aplikasi operasional dari ajaran islam. Sesungguhnya didalam al-Quran terdapat yang namanya manhaj haraki, maka dalam dakwah kita harus berdasarkan manhaj haraki tersebut. (manhaj Haraki; syaikh Munir Muhammad al-Ghadban).

Saya sangat menganjurkan bagi setiap aktivitas dakwah – apalagi bagi yang mungkin menilai bahwa dakwah kami tidak sesuai dengan dakwah Rasulullah – utuk meluangkan waktu sejenak untuk membaca buku manhaj Haraki, karya  syaikh Munir Muhammad al-Ghadban. Dibuku itu akan dijelaskan bagaimana dakwah Rasulullah berdasarkan shirah Nabawiyah. 

Kami tidak pernah anti terhadap kritik, kami tidak pernah apatis terhadap penilaian. Mari kita bertabayyun jika terjadi perbedaan pendapat. Islam itu adalah nasehat, maka mari kita saling menasehati. Semoga Allah merahmati kita semua.


*Ahmad Sholahudin, 12 oktober 2010. Jika terjadi kesalahan dalam tulisan ini, mohon kiranya untuk sudi memberi saran dan kritikan yang konstruktif, karena ini tulisan yang paling sulit dan berat yang pernah saya tulis.

0 komentar:

Posting Komentar