Pages

Rabu, 11 Mei 2011

BENARKAH ALASANNYA KARENA MERASA DIRI BELUM SEMPURNA ATAU HANYA KARENA SEBUAH KEEGOISAN

”Assalaamu’alaikum,, afwan jiddan akhi, ana mungkin tdk bs lg mlanjutkan amanah (dakwah) ini saat ini dan kedepan. Ana mengundurkan diri dr amanah ini.” Inilah bunyi sms dari salah seorang ikhwah yang sebenarnya memegang amanah yang sangat penting dalam dakwah dikampus kepada mas’ulnya, sebuah sms yang berisi pernyataan mengundurkan diri. Padahal beliau adalah termasuk orang yang paling diandalkan dalam amanahnya. Mas’ul yang menerima sms inipun merasa bingung karena sms ini datangnya tiba2 tanpa gejala sebelumnya, bahkan sms nya pun tidak memuat alasan pengunduran diri. Maka sms ini pun dibalas dengan sebuah pertanyaan ”waalaikumsalam,, alasannya?????”, lalu dijawab dengan sebuah jawaban yang semakin membingungkan ”ana hnya brusaha mnjalani apa yg ana pahami.” lalu dibalas lagi dengan sebuah pertanyaan ”bisa dijelaskan???????”, maka dijawab ”Dakwah dimulai dari diri sndiri dan kluarga mlalui tauladan. Ana mau menerapkan itu dulu. Tdk mau banyak mendakwahi orang lain, smentara ana masih sangat sdkit mngerjakan.”

Inilah sebuah contoh kisah dimana seorang aktivis dakwah mengundurkan diri dari amanah yang sedang diembannya. Sekilas memang kelihatan alasan yang dikemukakan cukup dapat diterima, baik secara akal maupun secara nash/syar’i. Tapi kalau kita cermati dan ditelusuri, maka ini hanya sebuah alasan klasik yang masih sangat patut dipertanyakan, baik secara akal maupun secara dalil.

Memang kondisi yang sangat ideal bagi seorang aktivis dakwah adalah ketika ia menjalankan aktivitas dakwah yang dimana dirinya cukup sempurna dalam pemahaman dan kepribadian islam, yang tidak ada cela dalam berislam. Namun pertanyaannya adalah apakah kita akan menemukan sosok/pribadi seperti ini? Yang mempunyai pemahaman islam yang luas? Yang mempunyai kepribadian islam tanpa cela? Yang menjadi teladan bagi semua orang? Yang lahir dari keluarga yang beragama secara benar? Atau yang mampu merubah keluarga 100% menjadi keluarga islami secara drastis? Yang mengemban amanah dakwah tanpa beban sedikitpun (baik secara ekonomi, waktu, tugas, keluarga, dll)?

Tentu jawaban kita untuk saat ini kita akan sangat-sangat sulit menemukan orang yang sempurna seperti itu, kalaupun ada mungkin perbandingannya paling banyak 1.000.000 orang berbanding 1 orang. Kita tahu tidak ada satu manusiapun yang terlahir secara sempurna. Lalu kalau kita menunggu sempurna baru berdakwah, maka pertanyaan besarnya adalah apakah kita akan menginjakkan kaki kita kejalan dakwah ini? Kalau kita menunggu sempurna baru berdakwah, maka kapan kita akan memulai dakwah ini? Jika seandainya semua orang punya prinsip menunggu sempurna baru berdakwah, maka dari dahulu kala (waktu perintisan dakwah kampus) sampai sekarang mungkin tidak ada satu orangpun yang menjadi aktivis dakwah, jika seperti itu maka mungkin kita tidak akan tersentuh dengan nilai-nilai islam seperti saat ini, kita tidak akan merasakan kenikmatan islam secara baik.

Kita semua tentunya menginginkan menjadi insan yang ideal/sempurna menurut islam dan sempurna dalam masalah sosial, namun jika menunggu sempurna baru berdakwah, maka hal ini tentu sangat sulit untuk dicapai, bisa2 nantinya kita tidak pernah terjun kemedan dakwah ini.

Ana ingat sebuah pernyataan dari salah seorang ustadz ketika menjawab pertanyaan ”bagaimana dengan diri yang berdakwah dengan kondisi yang belum begitu baik/sempurna dalam beragama?” ustadz tersebutpun menjawab ”dakwah itukan artinya megajak, jadi kalau kita mengajak kan tidak mesti kita sudah terlebih dahulu ketempat yang kita ajak, tapi bisa juga kita mengajak dimana kondisi nya kita masih ditempat yang sama dengan orang yang kita ajak, dan kita mengajaknya berbarengan ketempat yang kita inginkan. Walaupun idealnya kita mengajak seseorang kesuatu tempat dimana kita sudah berada ditempat tersebut”

Ana menyimpulkan dari apa yang disampaikan oleh ustadz tersebut, bahwa berdakwah bukan selalu berarti ketika kita sudah sempurna dan jauh lebih baik dari para objek dakwah kita, tapi dakwah juga bisa juga ketika kita lebih baik sedikit dari objek dakwah kita, atau malah sama dengan orang tersebut, lalu kita mengajak orang tersebut kepada kebaikan yang kita inginkan.

Menurut ana (ana pribadi lho), alasan mundur karena merasa belum sempurna adalah alasan yang kurang tepat. Bahkan sebenarnya, berdakwah adalah salah satu cara/sarana bagi kita untuk proses menuju perbaikan diri. Kalaupun benar merasa diri belum sempurna, maka mari kita pacu/memacu diri kita untuk menjadi lebih baik, bukan dengan cara pengunduran diri. Pengunduran diri dari dakwah karena alasan belum sempurna adalah salah satu bentuk berpaling dari dakwah dan berpaling dari proses memacu perbaikan diri dengan cepat. Pengunduran diri dari dakwah karena alasan belum sempurna adalah sebuah bentuk sikap pengecut dan sikap pecundang. Pengunduran diri dari dakwah karena alasan belum sempurna adalah bentuk lari dari tanggung jawab dan beban berat dakwah. Ana yakin orang-orang yang terjun kejalan dakwah adalah orang-orang yang menyadari dengan sepenuhnya akan beratnya beban dakwah dan besarnya tantangan yang akan dihadapi serta besarnya pengorbanan yang dibutuhkan.

Orang yang mengundurkan diri dari dakwah artinya telah menelantarkan banyak objek dakwah. Seharusnya ketika kita tetap berada dijalan dakwah akan ada banyak orang yang menjadi lebih baik karena dakwah kita. Seharusnya ketika kita tetap berada dijalan dakwah akan ada banyak orang yang sebelumnya tidak berjilbab menjadi berjilbab karena dakwah kita. Seharusnya ketika kita tetap berada dijalan dakwah akan ada banyak orang yang rajin sholat yang sebelumnya tidak sholat, Seharusnya ketika kita tetap berada dijalan dakwah akan ada banyak orang yang paham akan islam yang sebelumnya tidak paham sama sekali dengan islam. Sungguh, ketika kita tetap ada dijalan dakwah ini, akan ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk dakwah ini, ada banyak hal yang bisa kiata perbuat (melalui sistem dakwah kita). Yakinkan pada diri kita bahwa diri kita sangat berarti buat dakwah ini.

Sungguh sangat egois ketika kita hanya memikirkan dan mementingkan diri kita sendiri untuk menjadi orang yang baik/sempurna sendiri, sehingga kita mengabaikan banyak orang yang juga perlu diajak untuk menjadi baik/sempurna, mereka juga butuh sentuhan dari dakwah kita. Kita sungguh sangat egois karena kita hanya menginginkan surga dimasuki oleh diri kita sendiri, sementara banyak orang yang juga ingin memasukinya tapi tidak tahu caranya, kita yang tahu akan caranya hanya mementingkan diri kita sendiri sehingga tidak mau berbagi/berdakwah dengan mereka, tidak mau menunjuk jalan kemereka. Dakwah bukan menunggu bola, tapi dakwah prinsipnya adalah menjemput bola.

Kalaulah kita mengundurkan diri karena alasan tidak pantas karena belum sempuurna, maka berarti kita juga menilai para pendahulu kita juga tidak pantas dijalan dawah ini, karena kita juga banyak melihat mereka yang tidak sempurna seperti kita. Mungkin kita juga menilai orang-orang yang berdakwah saat ini tidak pantas dijalan dakwah, karena orang-orang yang berada dijalan dakwah ini kalau lah kita lihat juga sama seperti kita tidak sempurnyanya. Semoga saja semua orang tidak berprinsip bahwa berdakwah setelah sempurna, namun kita wajib berprinsip berdakwah menuju proses kesempurnaan.

Ana memberi contoh/perumpamaan orang yang mengundurkan diri karena belum sempurna ibarat ”ketika kita berada dalam rumah yang sedang terbakar, namun kita hanya menyelamatkan diri kita sendiri, sementara kita punya kesempatan untuk menyelematkan orang lain. Apakah kita tega melihat orang lain terbakar? Sementara kalau kita mau kita bisa menyelamatkannya.”

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang berguguran dijalan dakwah ini, lebih-lebih hanya karena keegoisan kita. Kalau kita telah mengazamkan diri kita untuk menjadi yang lebih baik, maka azamkan juga bahwa orang-orang disekitar kita juga harus bik seperti kita.

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah:24)

Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. At-Taubah: 39)

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. At-Taubah: 41)

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah: 44)



*Ahmad Sholahudin, 04 Oktober 2010. (tulisan ini terinspirasi dari pengalaman pribadi ketika semangat dakwah lagi ngedrof, juga melihat realita-realita yang ada dilapangan. tulisan ini adalah sebuah nasehat dan benteng buat aktivis dakwah kampus untuk tidak/jangan pernah mundur dari dakwah hanya karena alasan diri belum sempurna. Tulisan ini tidak bermaksud untuk memvonis dan menyindir orang lain, tapi benar-benar berangkat dari keinginan untuk saling mengingatkan. Jika terdapat kesalahan dalam tulisan ini yang bertentangan dengan dalil-dalil Syar’i, mohon untuk diingatkan)

0 komentar:

Posting Komentar