Pages

Selasa, 10 Mei 2011

BANGUNAN KITA


Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash-Shaf: 04)”
 
Tulisan ini bercerita tentang sebuah bangunan, sebuah bangunan yang didalamnya terdapat beragam macam material sebagai bahannya, dan yang terpenting bangunan ini adalah sebuah bangunan yang bercita-cita/diharapkan mampu menjadi tempat yang nyaman dan memberi pelindungan bagi banyak orang, bahkan kalau bisa semua orang.

Cita-cita besar bangunan ini sebagai tempat yang nyaman, tempat berlindung yang aman, dan tempat penunjuk kebahagiaan sejati, tentunya harus ditopang dengan bentuk bangunan yan bagus, bahan dan perkerja bangunan yang berkualitas, dan tempat yang nyaman.

Sahabat semua, ana yakin antum paham dengan bangunan yang ana maksud tersebut, bangunan tersebut adalah perumpamaan dari jamaah dakwah kita (terutama disini ana hanya melihat dikampus). mengenai jamaah ini, ana sadar kalau ana lebih banyak AKU TAK TAHU nya daripada TAHU nya, karena memang ana hanya bagian terkecil dari material bangunan ini. Atau (meminjam kata seorang ikhwah) saaat ini BELUM WAKTUNYA TAHU.

Disini ana akan melihat bangunan ini sebatas mata kasar ana melihat, sebatas telinga ana mendengar, dan sebatas jiwa ana merasakan. Ana cinta akan bangunan ini, ana ingin selamnya berada dalam bangunan ini (selama ana yakin ini benar), ana ingin ikut ambil bagian dalam pembangunan bangunan ini, walau ana harus menjadi batu bata yang dipotomg. Ana cinta bangunan ini dan ana ingin berjuang untuk bangunan ini, bahkan walau hanya sebagai seorang kuli bangunan yang disuruh dan diperintah. Ana cinta bangunan ini.

Ada satu hal yang ana lihat dibangunan ini yang terkadang membuat ana terkejut, bahkan sangat kecewa dan sedih. Menggeleng-gelengkan kepala dengan kondisi yang AKU TAHU. Memang dalam jamaah manusia memang mustahil mengharapkan kondisi yang ideal yang didalamnya tidak terdapat celah kesalahan, namun yang juga perlu kita ingat adalah bahwa kita bukan manusia biasa, kita adalah manusia yang tertarbiyah. Jangan selalu “jamaah manusia, bukan malaikat” sebagai alasan pembenaran.

Dibangunan ini saat ini, HTS (Hubungan Tanpa Status) atau VMJ sudah menyebar keseluruh sudut ruangan. VMJ menjadi virus yang sangat dahsyat sehingga, sehingga sangat banyak perkerja bangunan yang terkan virus ini.

Tapi yang tak habis pikir adalah kenapa Virus tersebut menjangkit kepada orang yang seharusnya menjadi qudwah, yang diakui militansinya, yang menduduki kedudukan strategis  dan penting di bangunan ini, yang selalu diminta menjadi pembicara menyampaikan kebenaran, yang menjadi murabbi yang diharapkan melahirkan binaan yang berpikir dan berakhlak islam. Jika semua orang tahu dengan kondisi ini, maka ana yakin semua orang akan mengatakan kecewa dan sedih kepada mereka. Dan ana sendiri menyatakan “ANA KECEWA DAN KESAL” dengan kalian yang seperti ini. Telponan dan sms-an yang bak ibarat dua sejoli yang lagi kesmaran menjadi rutinitas-nya, tukaran barang/hadiah menjadi kebiasaannya. 

Jangan sampai ketika orang yang dibawah kita tahu dengan kondisi ini, mereka menjadikan kasus ini sebagai pembenaran, lihat lah beliau juga seperti itu, si anu aja gitu, bukannya si ****** juga gitu, dan banyak gitu-gitu lainnya yang jadi alasan.

Adanya gap/jurang pemisah diantara para pengambil kebijakan, para mandor bangunan yang mengatur jalannya pembangunan yang saling berbeda pendapat dan terlihat ada sentimen membuat perkerja bangunan bingung dan tak mengerti.

Yang juga menjadi permasalahan dibangunan ini adalah pekerja yang membangun rumah ini (srtuktur kepengurusan  kampus) tidak memiliki kemampuan dan potensi dalam membangun bangunan ini. Terlihat bangunan ini tidak mengalami perubahan lebih indah dan kokoh, malah semakin rapuh dan lapuk saja. Tidak terlihat pekerja yang berkeliaran dalam membangun rumah, yang ada malah pekerja itu sibuk melakukan aktivitas diluar pembangunan, bahkan ada yang hanya tidur-tiduran melihat bangunan dari luar. Tidak ada  perkembangan pembangunan pada bangunan ini, tapi justru bangun ini makin tak terurus. Bangunan ini semakin kotor, semakin banyak rumput liar yang menempel, semakin banyak tikus, namun tenaga dan alat pembersihnya sangat terbatas.

Tak kalah mengkhawatirkan adalah perkeja bangunan yang kedepan akan meneruskan pembangunan menggantikan perkerja yang ada saat ini ternyata saat ini belum sanggup dan terlatih menjadi perkerja bangunan. Pengetahuan mereka mengenai seluk bangunan masih sangat sedikit (baik tingkat LDK, apalagi LDF). Militansi dan ruhiyah tidak terlihat.

Ana kurang tahu kenapa kondisi yang sangat parah dan memprihatinkan pada bangunan ini terjadi, apakah memang system yang berkerja pada bangunan ini yang salah, atau orang yang berada dalam system tersbut. atau kedua-dua nya yang salah, system dan orang nya. 

Belum lagi yang menjadi permasalahan bangunan ini berupa terpaan angin dari luar, dan tetangga yang disamping yang tidak senang dengan keberadaan bangunan kita. Semakin lengkap sudah permasalahan bangunan kita.

Yang terpenting ana rasa adalah kita harus mempersiapkan bahan dan perkeja bangunan ini berkualitas, karena kokoh atau tidaknya sebuah bangunan tergantung dengan itu. Kondisi saat ini jauh dari harapan, rata-rata perkerja bangunan (hampir 90%) tilawah Qurannya tidak sampai 1 juz hari, hafalan 90% pekerja  tidak sampai 1 juz, sholat malam sangat jarang, ditambah VMJ yang sungguh dahsyat menjangkit pekerja. Bahan dan pekerja bangunan yang berkualitas yang diharapkan dengan kondisi tersebut tentu sangat sulit kita dapatkan.

AKU MENCINTAI BANGUNAN INI DAN AKU AKAN TERUS BERJUANG UNTUK BANGUNAN INI, WALAU AKU TAK TAHU HARUS MULAI DARI MANA, AKU HANYA BAGIAN TERKECIL DARI SISTEM YANG ADA DI BANGUNAN INI.

*Ahmad Sholahudin, ahad, 07 Nopember 2010.

0 komentar:

Posting Komentar