Pages

Rabu, 11 Mei 2011

ANTARA HATI DAN JILBAB

Assalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

“jilbabkan bukan sesuatu yang menentukan/mencerminkan seseorang itu baik atau tidak (dimata Allah)? yang menentukan seseorang itu baik dimata Allah adalah hatinya. Allah kan melihat hati seseorang, bukan jilbabnya…….”.
Kalimat itulah yang baru saya dengar dari seorang wanita ketika melepaskan jilbabnya, seolah-olah kalimat tersebut menyatakan bahwa jilbab bukan sebuah kewajiban bagi seorang muslimah. Jilbab seolah-olah hanya sebagai selembar kain yang menutupi kepala yang tidak ada artinya sehingga bisa dilepas kapan dan dimana saja ia mau. Jilbab terkadang hanya sebagai penghias. Atau lebih parahnya mungkin jilbab dianggap bukan suatu syariat islam.

Memang benar bahwa Allah akan melihat hati seseorang, bukan dari fisik nya, ini Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “bahwa sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan penampilan/pakaianmu, tetapi Allah melihat hatimu”. Konteks hadits tersebut bukan mengartikan bahwa kita boleh untuk berpenampilan terserah yang kita mau, walaupum itu melanggar aturan syar'i. asal hati kita baik, tidaklah mengapa jika tidak memakai jilbab. Tapi pengertian penampilan/pakaian pada hadist tersebut adalah gaya/mode kita dalam berpakaian (asal tidak keluar dari batas-batas syar’i), pakain kita mahal atau murah, pakaian kita terbuat dari apa, dsb.

Coba kita perhatikan lagi hadist tersebut, kata shuwarikum (pakaian/penampilan) disandingkan dengan kata ajsaamikum (tubuh), penafsiran dari tubuh tersebut adalah bahwa Allah tidak melihat tubuh nya sempurna atau tidak (cacat), tetapi Allah melihat hatinya. Begitu juga dengan penampilan, penafsirannya adalah Allah tidak melihat apakah kita menggunakan pakaian mahal atau murah, tetapi Allah melihat hati kita. Penafsirannya bukan kita boleh berpenampilan seperti apa saja yang kita mau, termasuk melepaskan jilbab. Tafsir seperti itu sama saja dengan mengatakan (-dan ini yang saya takutkan-) boleh saja kita tiidak berpakaian (telanjang), kan Allah tidak melihat penampilan kita, tapi hati kita. Na’udzubillahi!

Yang perlu juga kita ingat adalah bahwa iman itu bukan hanya ditunjukkan dengan hati, tapi ada dua aspek lainnya yang menentukan keimanan seseorang, yaitu perkataan dan perbuatannya. Jika hanya hati kita yang beriman, tapi tidak ditunjukkan dengan ucapan dan anggota tubuh (tingkah laku/penampilan), maka iman kita tidaklah sempurna. Iman menurut ulama ahlus sunnah wal jamaah adalah at-tashdiqu bil qolbi (dibenarkan/diyakini oleh hati), wal iqrar bil lisan (diikrarkan dengan lisan), wal amalu bil arkaan (dan diamalkan/dilakukan oleh seluruh anggota tubuh). Maka orang yang mengatakan yang penting hatinya, kemudian menganggap jilbab bukan sesuatu yang penting/wajib (dalam islam), maka imannya belumlah sempurna, karena belum memenuhi pengertian iman menurut ahlus sunnah wal jamaah.

Saat ini, pikiran dan pandangan-pandangan seperti itu sangat banyak dimasyarakat, terutama dikalangan intelektual muda (yang kebablasan). Ajaran dan pemikiran seperti ini adalah pemikiran liberal yang dibawa oleh aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal). Pemikiran ini sudah menyebar luas, dan yang sangat disayangkan adalah pemikiran ini menggerogoti para aktivis islam dan organisasi yang membawa lebel islam. Saya pernah membaca sebuah brosur resmi dari sebuah organisasi mahasiswa islam (yang kira-kira isinya seperti ini) yang menyatakan disini (maksudnya di organisasi islam yang menerbitkan brosur) para kadernya tidak dituntut harus memakai jilbab, tidak ada doktrin-doktrin/pemaksaan islam,……. Semuanya dikembalikan kepada kesadaran kader tersebut”. Ini adalah bentuk pemikiran liberal yang melanda aktivis yang mengaku sebagai aktivis islam, organisasi mahasiswa yang katanya sebagai organisasi islam.

Hati sangat erat kaitannya dengan tingkah laku kita, dalam sebuah hadistnya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda “….ketahuilah, bahwa didalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, bila ia baik maka baik pula seluruh tubuhnya, dan bila ia rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”. jika hati seseorang itu baik, maka tentu seluruh anggota tubuhnya akan melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah tanpa neko-neko dan menghitung untung rugi di kehidupan dunia/materi, termasuk perintah jilbab.
Jilbab adalah sebuah syariat islam yang wajib bagi muslimah, ada banyak nash-nash Al-Qur’an maupun hadist yang menjelaskan kewajiban jilbab. Hanya orang yang tertipu dengan kehidupan dunialah yang mengingkari kewajiban jilbab. Allah dengan jelas dalam Al-Qura’an memerintahkan kewajiban jilbab, ini bisa dilihat dalam QS. An-Nur: 31 dan QS. Al-Ahzab: 59.

Jilbab adalah kewajiban, dan keimanan seseorang bukan hanya ditunjukkan oleh hatinya, tapi juga dari ucapan dan amal perbuatannya. Setiap mata yang memandang aurat wanita bukan hanya membuahkan dosa bagi yang melihat, tapi terlebih kepada yang dilihat. Ketika membuka aurat, maka setiap tatapan mata yang melihat aurat akan terus mengalirkan dosa kepada yang membuka aurat. Maka coba hitung dalam satu hari ada berapa mata yang melihat aurat kita, dalam seminggu ada berapa mata, belum lagi sebulan, apalagi setahun.
Sebagai penutupan, saya akan menyampaikan sebuah ungkapan yang sangat luar biasa dari Ust. Yusuf Mashur, wanita yang memakai jilbab belum tentu baik, tapi wanita yang tidak pakai jilbab sudah tentu tidak baik.

*** Ahmad Sholahudin, 28 Desember 2010. Tulisan ini sebagai bentuk amar ma’ruf nahi mungkar dari saya untuk meluruskan pemikiran yang keliru dalam memahami ad-dien ini. Semoga tulisan ini menjadi amal dakwah bagi saya.

3 komentar: