Pages

Selasa, 10 Mei 2011

ADK dan TAMAT CEPAT


Tamat cepat tentu menjadi keinginan hampir semua mahasiswa, keinginan yang tentunya butuh perjuangan sebagai konsekuensinya. Dan memberikan kontribusi besar buat perkembangan dan kemajuan dakwah kampus demi terwujudnya kampus yang islami pasti menjadi keinginan dan cita-cita besar bagi setiap mahasiswa yang menggelari dirinya Aktivis Dakwah Kampus atau yang lebih dikenal dengan singkatan ADK.

Tentu menjadi suatu yang sangat ideal ketika kita  mampu mensinergikan kedua hal tersebut, yaitu bisa tamat cepat sebagai seorang mahasiswa yang dinanti-nanti orang tua, dan memberikan kontribusi yang berarti buat dakwah kampus sebagai seorang aktivis dakwah kampus.

Namun permasalahannya tidak jarang - bahkan boleh dikatakan hampir selalu – kedua hal tersebut saling berbenturan bagi seorang ADK, yaitu tamat cepat dan/atau memberikan kontribusi besar bagi dakwah kampus. Bahkan permasalahan tamat cepat ini dikalangan ADK sendiri menjadi sebuah perdebatan, ada yang pro namun banyak pula yang kontra.

Saya pikir cukup dapat dipahami alasan yang dikemukakan oleh ADK yang ingin tamat cepat,  dan cukup dapat dimengerti juga alasan-alasan yang dikemukakan oleh ADK yang kurang sependapat dengan ADK yang tamat cepat. Saya kira kedua-duanya punya argument yang sama kuatnya dan juga sama-dianjurkan oleh islam.

Berbicara masalah kontribusi buat dakwah, ini tentu menjadi suatu kewajiban dan keniscayaan bagi setiap ADK (sebenarnya sih bagi setiap manusia). Namun ketika berbicara masalah kontribusi, maka saya pikir dakwah ini tidak akan pernah berhenti meminta kontribusi, maka jika tamatnya menunggu dakwah ini tidak lagi meminta kontibusi kepada kita, maka saya pikir itu adalah suatu hal yang mustahil dan tidak pernah terjadi. Namun memang harus diakui ada peran-peran penting yang dimainkan oleh masing-masing ADK dalam suatu waktu, dan peran tersebut tidak bisa digantikan dan ditinggalkan.

Namun terkadang perlu diingat juga bahwa ADK juga menyandang statusnya sebagai mahasiswa, seorang mahasiswa yang punya tuntutan dari orang tua, seorang mahasiswa yang selurh biaya hidupnya ditanggung oleh orang tua, seorang mahasiswa yang ingin memberikan rasa bangga kepada orang tua, seorang mahasiswa yang punya adik-adik yang menunggu giliran untuk dapat juga kuliah karena alasan biaya, seorang mahasiswa yang ingin menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, seorang  mahasiswa yang punya cita-cita untuk melanjutkan studi, mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu (terkadang kuliahnya tidak dibiayai oleh orang tua), dan masih banyak pertimbangan-pertimbangan lainnya yang menuntut untuk tamat cepat. Terkadang sebagai seorang anak, kita tidak berani dan tidak tega untuk menolak/melawan keinginan orang tua.

Saya tidak tahu dan bingung, apakah kita dikatakn orang yang baik didalam islam ketika kita menjadi aktivis dakwah yang selalu memberikan kontribusi besar sehingga terkadang tidak sesuai/bertentangan dengan keinginan orang tua, atau kita  dikatakan orang yang baik didalam islam ketika kita menuruti keinginan orang tua sehingga mereka merasa bangga dan tersenyum puas kepada kita.

Apakah kita dikatakan baik didalam islam ketika kita membuat sahabat-sahabat sesama ADK tersenyum karena kerja kita dan mahasiswa-juga tersenyum karena tersibghoh oleh nilai-nilai islam, tetapi orang tua cemberut karena harapannya ternyata tidak terkabul. Atau kita dikatakan baik ketika mampu membuat orang tua tersenyum namun rekan ADK kecewa dan kita tidak bisa memberikan kontribusi yang lebih banyak lagi di kampus.

Apakah kita dikatakan egois ketika kita meninggalkan kampus dan meninggalkan ikhwah yang lain untuk berkerja sendiri, atau kita dikatakan egois ketika kita tetap dikampus dan berjuang bersama-sama ikhwah dengan mengecewakan orang tua yang punya harapan  besar dengan kita.

Terlepas dari semua kebingungan tersebut, maka hal yang terbaik bagi seorang ADK tentunya adalah bisa memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya buat dakwah kampus tanpa harus mengecewakan orang tua. Selama kita punya kesempatan untuk berkontribusi buat dakwah, maka jangan pernah sia-siakan kesempatan tersebut.

Ketika duduk disemester awal, maka jangan pernah menjadi mahasiswa yang SO, karena tentu kita tidak akan dapat memberikan kontribusi yang banyak buat dakwah. Berikanlah kontribusi buat dakwah sebesar-besarnya selama kita bisa dan mampu.

Kontribusi buat dakwah tidakk memandang status dan jabatan/amanah, ada banyak orang yang memliki status/jabatan yang strategis namun tidak memberikan kontribusi yang banyak buat dakwah. dan ada juga banyak orang yang tidak memiliki status yang strategis, namun mampu memberikan banyak kontribusi dibandingkan orang yang memiliki status, jadi jangan pernah risaukan status ketika kerja nya sama ketika memiliki status, bahkan lebih.

TERUSLAH BERJUANG ...............!!!!!!!!!!!!!

TERUSLAH BERJUANG ...............!!!!!!!!!!!!!

TERUSLAH BERJUANG ...............!!!!!!!!!!!!!

TERUSLAH BERJUANG ...............!!!!!!!!!!!!!

TERUSLAH BERJUANG ...............!!!!!!!!!!!!!

CAYOO................

* oleh: Ahmad sholahudin, 26 september 2010
Editing by : mry 08 April  2011

0 komentar:

Posting Komentar