Pages

Rabu, 12 Agustus 2015

PERSIAPAN MENTAL SAHABAT DALAM PERPINDAHAN ARAH KIBLAT

perpindahan arah kiblat dari baitul maqdis ke ka'bah yang sudah menjadi kiblat kaum muslimin selama 17 bulan merupakan salah satu ujian berat bagi kaum muslimin waktu itu, mereka mengalami olok-olokan orang-orang yahudi dan munafiq yang membuat guncang keimanan mereka.

seperti pengharaman minuman keras yang dilakukan bertahap, maka Allah juga telah mempersiapkan mental para sahabat untuk menerima perpindahan kiblat ini dengan menurunkan ayat-ayat yang berkaitan dengan perpindahan ini secara bertahap dan berurutan.

surat Al-Baqarah adalah surat pertama yang diturunkan di madinah, dan ia diturunkan terus menerus hingga wafatnya Rasulullah. mari kita perhatikan bagaimana Allah mermpersiapkan mental para sahabat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Amru Khalid:

1. Allah telah mempersiapkan ide tentang Nasakh dalam QS. Al-Baqarah: 106

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?"

2. Kemudian dalam QS. Al-Baqarah: 127 Allah bercerita tentang pembangunan ka'bah, Allah ingin menjelaskan keagungan ka'bah yang dibangun oleh manusia-manusia mulia.

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

3. dan terakhir adalah penjelasan bahwa perubahan hukum arah kiblat.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia".

coba kita perhatikan, alangkah indahnya kaitan satu ayat dengan ayat yang lainnya.

Kamis, 06 Agustus 2015

BELUM NIKAH KARENA TAKUT RIZKI

Berani Nikah?

Seorang teman bilang ke saya, "kamu kok berani banget nikah, mau dikasih makan apa anak dan istri?".

Pertanyaan serupa sebenarnya juga pernah diajukan oleh ustadzah istri saya waktu ta'aruf (waktu ta'aruf saya hanya sendiri tanpa ada satu orangpun yang nemanin), sang ustadzah bertanya, " emang betul2 sdh siap mau nikah?, anak dan istri sdh dipikirkan makan apa?".

Waktu itu jawaban saya simpel, "sudah siap ustadzah, buktinya sampai saat ini saya masih hidup dan bisa makan", jawab saya dg santai :).

Alhamdulillah setelah menikah Allah penuhi janjinya, selalu ada jalan rizki yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, Allah Sang Maha Rahman yang menjamin rizki manusia.

Menikah merupakan salah satu sunnah Rasul, bahkan Rasulullah mnjanjikan ada 3 kondisi manusia yang pasti Allah bantu memberinya  jalan keluar, salah satunya adalah seseorang yang ingin menikah karena ingin menjaga kehormatannya.

Jika menikah adalah ibadah, masak Allah akan menyulitkan hambanya untuk menjalankan ibadah?
Rasulullah menjanjikan pertolongan Allah bagi yang menikah untuk menjaga kehormatannya, masak kita masih cemas dan ragu dengan janji Rasulullah??

Sebelum menikah ada kalimat yang selalu saya ulang2 dalam hari2 saya, terutama setelah sholat, yaitu kalimat yang terdapat didalam surat An-Nisa,

وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلً

"Dan janji Allah itu benar, dan Siapakah perkataannya lebih benar dari Allah?".

Mengulang ayat ini membuat hati lebih tenang dan yakin untuk melangkah.

Teringat nasehat seorang ustadz,  "jika keraguan itu menghampirimu, maka ingatlah SHADAQALLAHUL ADZIIM"

Jumat, 24 Juli 2015

TA'AWUDZ SEBELUM BERMAIN SOSMED

dalam QS. An-Nahl: 98-100 Allah SWT berfirman:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُون

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.
Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.
Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.
(QS. An-Nahl: 98-100)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini:
"ini merupakan perintah dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya melalui lisan Nabi-Nya Muhammad SAW, yaitu jika mereka akan membaca Al-Qur'an, maka hendaklah mereka meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.......".

Al-Qur'an adalah Kalam Allah SWT, sebelum membacanya kita diperintahkan untuk berta'awudz kepada Allah dari godaan syaithan. jika membaca Al-Qur'an yang suci dan mulia saja kita bisa terkena godaan syaithan, tentu dalam aktifitas keduniaan kita lebih mungkin tergelincir godaan syaithan ini. Jika membaca Kalam Ilahi saja kita diperintahkan memohon perlindungan Allah dari godaan syaithan, maka tentu dalam aktifitas lainnya kita lebih patut meminta perlindungan Allah dari godaan syaithan.

syaithan dan bala tentaranya mempunyai tugas khusus menggoda manusia, sebagaimana janji syaithan saat dikeluarkan Allah dari surga, semua usaha dan strategi akan ditempuh syaithan untuk menyesatkan manusia, dari sisi manapun syaithan akan mengincar manusia.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

"Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
(QS. Al-A'raf: 16-17)"

tak terkecuali saat bermain Media Sosial (medsos), peluang syaithan menggoda manusia begitu besar, bahkan bisa jadi godaan syaithan di dunia medsos lebih besar ketimbang dunia nyata.

situs2 porno, postingan yang membuka aurat, postingan yang mengandung kebencian, ghibah, fitnah, ajang debat, ajang riya', dan lain sebagainya begitu mudah kita dapatkan di medsos ini, sehingga terkadang kita tidak kuat menahan godaan dari itu semua. Sehingga sangat patut jugalah kita bertaawudz memohon perlindungan Allah saat bermain medsos.

perintah berta'awudz/isti'adzah secara umum  (bukan hanya saat membaca Al-Qur'an)/terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman:

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah.
(QS. Al-A'raaf: 200).

dalam Surat Al-mu'minun Allah berfirman

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ
وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ
وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

"Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.
Dan katakanlah: "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.
Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku".
(QS.Al-Mu'minun: 96-98)

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.
Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS. Fushshilat: 34-36)

Permohonan perlindungan kita kepada Allah bukan hanya atas syaithan dari golongan jin, tapi juga syaithan dari golongan manusia, sebagaimana firman Allah yang menjelaskan adanya syaithan dari golongan manusia:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
(QS. Al-A'raf: 112).

Dalam kitab Musnad Imam Ahmad, disebutkan hadits dari Abu Dzar ra., bahwa Rasulullah bersabda:

"Wahai Abi Dzar, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaithan-syaithan jenis manusia dan jin. "Lalu aku bertanya: " Apakah ada syaithan dari jenis manusia?". "Ya" jawab Beliau."

di medsos, syaithan dari kalangan manusia tidak kalah berbahayanya dari syaithan kalangan jin :) .

"Wallahu a'lam"

Kamis, 23 Juli 2015

LEMBUTNYA HATI PARA SAHABAT MERENUNGI AYAT AL-QUR'AN

Alangkah lembutnya hati para Sahabat Radhiyallahu'anhum, ketika mereka membaca Al-Qur'an mereka merasakan seolah-olah ayat Al-Qur'an turun lansung untuk mereka, mereka merasa tidak selamat dari kesalahan-kesalahan yang disampaikan Al-Qur'an.

Lihatlah kondisi para Sahabat saat ayat 82 dari surat Al-An'an turun:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk"

Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa tidak akan selamat dari ayat ini, semuanya merasa sedih dan tidak aman dari ayat ini. sehingga dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa para sahabat berkata, "siapakah diantara kita yang tidak berbuat dzalim kepada diri sendiri (berbuat dosa)?".

Para sahabat merasa mereka tidak selamat dari perbuatan dzalim, padahal mereka manusia terbaik disisi Rasul, ahli ibadah yang ikut berjihad bersama Rasul.

Maka turunlah ayat:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
(QS. Luqman: 13)

Ayat ini menjadi penenang bagi para Sahabat bahwa yang dimaksud dg dzalim Surat Al-An'an tsb adalah perbuatan syirik.

Sungguh berbeda kondisi kita denga para sahabat, setiap hari kita membaca ayat-ayat Al-Qur'an tentang ancaman, tapi kita tetap merasa aman, kita merasa terbebas dari sifat-sifat buruk yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

Bahkan setiap selesai sholat kita membaca do'a "Rabbana dzalamna anfusana ......." tapi anehnya hati kita tidak bergetar, kita tidak merasa bagian dari orang-orang dzalaim itu, padahal kehidupan kita penuh dengan dosa dan kesalahan..

Sungguh, kita berbeda jauh dengan para Sahabat Radhiyallahu'anhum.

KEUTAMAAN ADAB MENURUT ULAMA

Ibnul Mubarak: aku mempelajari adab selama 30 tahun, dan mempelajari ilmu selama 20 tahun.

Al-Qarafi berkata dalam kitabnya al-Faruq: ketahuilah sedikit adab lebih baik daripada banyak amal.

Mukhallaf bin al-Husain berkata kepada Ibnul Mubarak: kami lebih membutuhkan banyak adab daripada banyak hadits.

Habib bib asy-Syahid berkata kepada anaknya: Wahai anakku, pergauilah para fuqaha dan ulama, belajarlah dan ambillah adab dari mereka. Sesungguhnya hal itu lebih aku sukai daripada banyak hadits.

Ibnu Sirin: para ulama salaf mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.

seorang ulama salaf berkata kepada anaknya: wahai anakku, engkau mempelajari satu bab ttg adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari 70 bab dari ilmu.

adab yang paling tinggi adalah adab kepada Allah, yakni dg melaksanakan seluruh perintah Allah, dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

*sumber: buku "ENSIKLOPEDIA ADAB" karya Abduk'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada.

Selasa, 21 April 2015

BELAJAR ILMU HADITS 4: bantahan terhadap pihak yang tidak percaya hadits Ahad

Sebagian ada mengingkari hadits Ahad dg alasan hadits ahad berdifat zhanni, mereka berhujah tidak boleh beribadah atas dasar zhanni.

Berikut bantahan atas pendapat mereka:
1. Firman Allah SWT.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya".
(At-Taubah: 122)

At-Ththo'ifah (  الطآئفة) atau golongan maknanya "sebagian dari sesuatu", dalam bahasa arab menunjukkan arti satu atau lebih. Dan seandainya peringatan suatu golongon yang memperdalam agama dalam ayat ini bukan sebagai hujjah yang harus diamalkan, tentulah Allah tidak mencukupkan peringatan dengan golongan tersebut.
Apakah kita akan menolak ayat ini karena memerintahkan org yg sedikit, atau tidak mau menerima yg sebagian ( الطآئفة) ini dengan alasan dzonni dan bukan mutawattir??

2. Rasulullah telah mengutus perorangan dari para sahabat kepada para raja untuk menyeru mereka kepada islam. Kalau seandainya penyampaian mereka tidak dianggap hujjah karena ahad tentulah pengiriman mereka sia-sia.

3. Kewajiban mengamalkan dugaan (zhan) kebenaran adalah sudah menjadi perkara yang dimaklumi dengan jelas dalam agama, seperti penetapan hukum berdasarkan kesaksian 2 orang, dan kesaksian seorang saksi yang disertai dengan sumpah dari penuduh. Maka demikian pula dengan kewajiban mengamalkan hadits ahad ketika diduga akan kebenarannya.

*pelajaran yang diambil dari buku Pengantar Studi Ilmu Hadits, Karya Syaikh Manna' Al- Qaththan.
Jakarta 21 April 2015

BELAJAR ILMU HADITS 3: Defenisi Hadits

MENURUT BAHASA

Hadits menurut bahasa artinya;
-baru,
-sesuatu yang dibicarakan dan dinukil
-sesuatu yang sedikit dan banyak
-Al-Qur'an (Al-Kahfi: 6)
-Sampaikan risalahmu wahai Muhammad (Adh-Dhuha: 11)

MENURUT ISTILAH

1. Menurut Ahli Hadits
Hadits adalah apa yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, baik sebelum kenabian atau sesudahnya.

2. Menurut Ahli Ushul Fikih
Hadist adalah perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah setelah kenabian. Adapun sebelum kenabian tidak dianggap hadits, karena yang dimaksud hadits adalah mengerjakan apa yang mwnjadi konsekwensinya, dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian.

Diambil dari buku: Pengantar Studi Ilmu Hadits, pengarang Syaikh Manna' Al-Qaththan

-------------------------------
Tambahan pendapat saya pribadi:
Terjadi perbedaan definisi hadits antara ahli hadist dengan ahli ushul fikih.

Perbedaan terjadi karena perbedaan "tugas" antara mereka, ahli hadits bertugas menyampaikan apapun yanh berasal dari Nabi, sedangkan para ahli ushul fikih bertugas menentukan hukum dari hadits Nabi.

Ahli hadits memasukkan mendefenisikan hadits baik sebelum Rasul diangkat maupun sesudahnya, karena tugasnya menyampaikan semua sesuatu dari Rasulullah. Itulah kenapa para ahli hadits memasukkan sifat dan Sirah dalam defenisi hadits, sedangkan sifat dan Shirah sdh melekat pada Nabi sebelum beliau diangkat menjadi Rasul.

Sedangkan ahli ushul fikih menganggap hadits sesuatu yang datang dari Rasul pada masa kenabian, karena hanya pada masa ini hukum syara' berlaku dan bisa dijadikan sumber hukum.

Wallahu a'lam.

*Jakarta, 21 April 2015