Pages

Jumat, 14 Maret 2014

SAAT KERAGUAN MENGHAMPIRI



Sering mampir dalam diri kita perasaan ragu, bahkan cemas terhadap ketetapan Allah yang telah pasti. Kita cemas terhadap rizki, jodoh, maut, dan ketetapan Allah lainnya, padahal semua ketetapan itu sudah Allah tulis di lauh mahfudz, "tinta sudah mengering, pena sudah diangkat".

Perasaan ini mungkin menunjukkan bahwa kita merupakan makhluk yang lemah, saking lemahnya kita sehingga kita tidak mampu mengendalikan perasaan kita sendiri. Sering kita berusaha kita mengusir rasa ini, tapi sesering itu pula terkadang rasa ini muncul. Na'udzubillah, ampunilah hambaMU yang lemah ini.

Jika kita melihat kisah Ibrahim a.s., normal jika terkadang perasaan khawatir dan ragu ini muncul. Dalam Q.S Al-Baqarah:260, Allah menceritakan tentang kisah Ibrahim a.s., bagaimana Nabi Ibrahim meninta Allah memperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan orang yang sudah meninggal, sehingga sampai-sampai Allah bertanya, "apakah engkau belum percaya?",
lalu lihatlah bagaimana jawaban Nabi Ibrahim,
"aku percaya, tetapi ini agar hatiku tenang".

Jika manusia sekaliber Nabi Ibrahim pernah meminta pembuktian kepada Allah untuk memantapkan hatinya, maka sebagai manusia biasa, terkadang wajar perasaan itu muncul. Tapi sekali lagi, perasaan ini bukan untuk dituruti.

Juga kita lihat bagaimana Do'a manusia paling mulia pada saat perang badar, "Ya Allah azza wa jalla, penuhilah janjiMu kepadaku. Ya Allah Azza wa jalla, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Aza wa jalla, jika Engkau membinasakan pasukan islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepadaMU di muka bumi ini. (HR. Muslim).

Sampai-sampai Abu Bakar r.a. berkata kepada Rasulullah, wahai Nabi Allah Azza wa jalla, "sudah cukup engkau bermunajat kepada Rabbmu, dan Allah pasti akan memenuhi janjinya."

tapi juga kita pahami, bisikan-bisikan keraguan dalam merupakan bisikan setan yang harus kita lawan, sebagaimana janji iblis yang akan senantiasa menyesatkan kita (QS. Al-A'raf:16-17)

 syaikhul islam mengatakan, "orang mukmin di uji dengan was-was setan, bisikan kekufuran yang membuat sempit hatinya".

Imam Nawawi dalam karyanya Al-Azkar mengatakan, "lintasan pikiran dan bisikan hati, jika tidak mengendap dan tidak keterusan berada dalam diri pelakunya, hukumnya dimaafkan".

Maka sebagai manusia beriman, maka kita harus berusaha menanamkan keyakinan sekuat mungkin dalam diri kita, bahwa rizki sudah ditetapkan, jodoh tidak akan tertukar dan maut sudah tertulis.

Jika keraguan itu muncul dalam diri, maka ingatlah "Shodaqallahul Adzim" (Maha Benar Allah dengan segala firmanNYA.

*Ahmad Sholahudin, jakarta 14 Maret 2014, pukul 16:38

KRISTENISASI DALAM PERNIKAHAN

Kristenisasi dalam pernikahan.

Kasus asmirandah yg berpindah agama setelah menikah ramai diberitakan media, pernikahan yg dilaksanakan scr islam, dan suaminya yg kristen masuk islam sblm proses pernikahan.

Malam tadi saya kedatangan tamu, ibu2 berusia 40an tahun yg datang k t4 ma'had saya utk menyantuni anak2 yatim setelah maghrib.

Seblm acara beliau bercerita, melihat teman2 saya, beliau ingat dg anaknya yg seusia dg mayoritas santri disini, tapi sayang kalau anaknya tidak seagama dg beliau (kristen).

Terlihat hampir mengeluarkan air mata ketika beliau bercerita penyebab anaknya beragama kristen. 20an tahun yg lalu, beliau menikah dg seorg laki2 yg beragama kristen, tapi sblm menikah laki2 trsb masuk islam, pernikahan jg dilakukan scr islam.

Tapi ternyata perpindahan agama tsb hanya sandiwara belaka, stelah menikah dan melahirkan bayi laki2, suaminya kembali ke agama kristen, bahkan suaminya membawa lari anak laki2 yg berumur 2 tahun. Selama 18 tahun ibu tsb tdk ketemu dg anaknya.

Buat perempuan, pilah-pilih lah utk jatuh cinta. Aqidah itu jauh lebih mahal dr cinta, smpe menyesal d kemudian hari.

MENANG SEBELUM MENANG YANG SESUNGGUHNYA

Kita telah menang sebelum kemenangan pemilu, kita telah menang sebelum kekalahan dan kemenangan di tentukan lewat kotak suara.

Inilah kemenangan sjati, kemenangan seorg mukmin, kemenangan yg tdk didapat dan dirasakan oleh mereka yg diluar sana.

Kemenangan itu adl saat org2 berlomba dlm kebaikan.
Kemenangan itu adl saat diri semakan dekat dg Allah.
Kemenangan itu adl saat diri tdk merasa rugi dlm berniaga kpd Allah.

Jgn sedih dan resah, sedangkan kamu adl org2 beriman. Itu pesan Allah kpd kita.

Bisa jadi inilah kemenangan yg dipersiapkan Allah untuk kita, kemenangan yg bagi org2 yg beriman.

UKHUWAH PENGUAT IMAN

Ukhuwah Penguat Iman.

Iman itu fluktuatif, yazidu wa yankus, bisa bertambah dan berkurang. Inilah yang menjadi keyakinan ahlussunnah wal jamaah.

Bertambah dan berkurangnya iman bisa terjadi pada siapa saja, rasa malas bisa menimpa siapa saja, futur juga sesuatu yg hampir setiap orang pasti alami. Apalagi untuk orang sekelas kita, sedangkan para sahabat dan ulama salaf saja mengakui mengalami hal ini.
Iman bertambah krn ketaatan, dan berkurang krn maksiat.

Sangat indah ungkapan ulama salaf ini, "jika aku mendapati diriku dlm keadaan lemah beribadah/futur, maka aku menemui si fulan, maka aku mendapati aku semangat kembali dlm beribadah (tanpa diberi nasehat oleh fulan)".

Iya, itulah kekuatan berkumpul bersama org sholeh, itulah kekuatan ukhuwah. Ingat lagu tombo ati nya opick, salah satu obat hati itu adl berkumpul dg org2 sholeh.

Saya rasa kita juga pernah mengalami, saat kondisi kita lagi malas beribadah, iman terasa menurun, saat kita merasa futur, namun saat kita berkumpul dg teman2 kita yg sholeh (punya keinginan menjadi sholeh), ada semangat yg muncul dlm diri kita, walaupun saat berkumpul/bertemu, tdk ada tausyiah yg keluar dr mulut teman kita. Tapi saat berkumpul dan melihat wajah mereka, ada aura positif yg kita rasakan yg mengalir kdlm diri kita, ada semangat yg muncul pd kita.

Marilah kita terus bersama orang2 sholeh, berteman akrab dg mereka, insya Allah ini menjadi modal bagi kita untuk tetap istiqomah dlm kebaikan.

Bukankah Rasulullah sendiri mengatakan, jika ingin mengetahui seseorang, maka lihat teman dekatnya.
Teman itu menunjukkan siapa diri kita, saat malam hari renungilah diri kita, renungi sifat teman kita, insya Allah kita akan mampu menilai siapa sebenarnya diri kita.

Kenapa kita masih tetap masih bertahan dg teman2 yg tdk memberi manfaat sedikitpun buat kebaikan akhirat kita, kenapa kita terus menjadikan mereka sbg teman akrab? Apa motivasi kita?
Kenapa kita rela menjauh dr teman yg sholeh demi mereka? Berangsur2 menghindar dan menjauh dr para ikhwah yg punya komitmen islam yg baik, knp itu kita lakukan?
Berangsur2 kita menghindar dr lingkungan yg baik, bisa jadi itu pertanda kita berangansur2 meninggalkan kebaikan itu sendiri.

Berteman dg tukang besi, maka kita akan tertular baunya, berteman dg penjual parfum, akan tertular harumnya.
Mara kita erat lagi ukhuwah kita dg org2 sholeh/ingin menjadi sholeh, perbanyak teman yg sholeh.

Salam ukhuwah penuh cinta, semoga ukhuwah ini membawa manfaat utk akhirat kita.

Sholahudin, jakarta 11 feb 2014. Maghrib menjelang isya.


SYUKUR YANG BERHARGA

salah satu hal yg sngat penting utk kita syukuri adl bertemanny kita dg org2 sholeh, berada dilingkungan org2 sholeh, yg didekat mereka iman kita semakin meningkat.

Salah satu musibah yg patut kita tangisi adl, semakin jauhnya kita dg teman dan lingkungan yg sholeh, dan semakin tdk bisa lepasnya kita dg teman dan lingkungan yg tidak mendekatkan kita kpd Allah.


SKALA PRIORITAS DALAM BERAGAMA



Kita sering kali sangat memperhatikan skala prioritas dalam aktivitas keseharian kita, mana yg penting mendesak, penting tidak mendesak, dan mana yg tidak penting. Tapi sayang terkadang kita gagal dalam menentukan skala prioritas dalam beragama.

Skala prioritas dalam agama tak kalah pentingnya dg skala prioritas yg kita menej untuk aktivitas dunia/aktivitas keseharian kita, karena ktk gagal memenej skala prioritas dalam aktivitas keseharian, maka konsekuensinya hanya akan berdampak pada kehidupan dunia kita saja. tapi saat kita gagal menentukan skala prioritas dalam beragama, maka kehidupan dunia dan akhirat resikonya.

Banyak orang yang begitu dermawan dalam berinfaq/sedekah, tapi begitu lalai dalam menjaga sholat (jarang sholat). ini adalah salah contoh kesalahan dalam menentukan skala prioritas, padahal sholat jelas harus lebih didahulukan dan diutamakan.

contoh lain kegagalan dalam menentukan skala prioritas dalam beragama adalah masalah hijab/jilbab, dan ini sangat banyak terjadi, terutama kepada kaum hawa. Banyak para wanita yang sangat perhatian/menjaga ibadah seperti puasa sunnah senen kamis, dhuha, tahajud, baca Al-Qur'an, dan ibadah sunnah lainnya, tapi sangat disayangkan pada saat yg bersamaan mereka abai dalam berjilbab. Padahal jilbab hukumnya wajib, jika jilbab ditinggalkan maka berdosa. Sedangkan ibadah yg dikerjakannya tadi bukanlah wajib (walaupun ibadahnya sangat utama), dan meninggalkannya tidaklah berdosa. Seharusnya yg menjadi skala prioritas pertama yg harua diperhatikan adalah masalah jilbab, karena wajib harua lebih didahulukan dari sunnah.

Menikah adalah ibadah dan sunnah Rasul, tapi menuntut ilmu juga kewajiban yg utama, dalam satu kondisi menuntut ilmu harus lebih diutamakan daripada menikah, tapi dalam suatu kondisi tertentu bisa jadi menikah jauh lebih utama daripada menuntut ilmu, bahkan menikah bisa menjadi wajib. Syaikh sayyid sabiq dalam buku fiqih sunnahnya bahkan mengatan, dalam satu keadaan menikah jauh lebih utama untuk didahulukan daripada ibadah haji. Karenanya dalam hal ini kita juga harus pandai-pandai menentukan skala prioritas ini.

Yang juga banyak kita lihat, begitu banyak orang yang sangat rajin melakukan ibadah umroh, bahkan sampai dilakukan berkali-kali, padahal lingkungannya masih banyak orang-orang yang kurang mampu yang sangat membutuhkan uluran tangannya. Dalam hal ini, bermurah hati dengan membantu orang-orang dilingkungannya jauh lebih utama dari ibadah umroh yang dilakukannya berkali-kali.

Ada banyak contoh kesalahan dalam menentukan skala prioritas, tentunya ketepatan kita dalam menentukan skala prioritas sangat terkait dg kepahaman/ilmu kita terkait itu semua. Semoga Allah memberikan kita kepahaman dalam beragama.

*Ahmad Sholahudin, jakarta 14 maret 2014, pukul 13:29.

Rabu, 05 Maret 2014

Cinta Buta Berujung Benci Buta



Saya sering bilang, pilah-pilih lah untuk jatuh cinta. Jika memang sdh terlanjur jatuh cinta, pertimbangkan baik2 untuk manjadikan org yg dicintai menjadi pasangan pasangan hidup.

Cinta manusia kpd manusia lain itu tidak kekal, ia akan selalu berubah seiring waktu. Bisa jadi rasa cinta itu bertambah, namun juga bisa cinta itu berubah menjadi benci.

Banyak kasus, pasangan yg dulu bilang cinta mati, tapi setelah menikah dan tidak beberapa lama, cintanya berubah menjadi benci, tidak ada sedikitpun rasa cinta dan kebaikan yg ia lihat (pada mantan pasangannya), bahkan mereka menjadi musuh.

Maka saran saya, jangan menjadikan "cinta" sebagai alasan utama untuk memilih pasangan, karena cinta bukan benda yg bersifat tetap, cinta bersifat dinamis yg bisa berubah kapan saja.

Kasihan melihat teman yg jatuh cinta dg perumpan yg tidak bagus agama, akhirnya ia menjadi buta oleh cinta nya, akhirnya tidak mempedulikan agama dan akhlak si perempuan, dan akhirnya jadilah ia menyesal dg pilihannya. Ingat, Cinta itu bisa berubah.

Lebih kasihan melihat kaum ibu-ibu, sdh tau orang yang di cintai nya jauh dari agama, buruk akhlaknya, penjudi, pemabuk, dan segudang keburukan lain yang dimiliki orang yg di cintainya. Tapi cinta telah membutakannya, ia tetap memiliha pria dg segudang keburukannya tsb sbg pasangannya, nasehat yg datang tak ia pedulikan. Akhirnya setelah menikah, hidup dalam satu rumah, cintanya pun beransur pudar seiring sikap pasangannya, dan berakhir dg kebencian yg mendalam saat mereka memutuskan untuk berpisah. Sumpah serapah ia keluarkan pada pria pilihan yang dulu sangat ia cintai. Lalu kemana cinta yg dulu begitu mendalam? Cinta itu telah pergi, ia berganti dg kebencian.
Dan sangat banyak kita temui kasus seperti ini. Sungguh kasihan....

Realistislah untuk jatuh cinta, jatuh cintalah dg cerdas, dan jadikanlah agama sebagai faktor utama dalam memilih pasangan, juga memilih teman akrab. :)

*Ahmad Sholahudin, jakarta 05 maret 2014. Pukul 22.28